Bedanya orang islam dan bukan islam dalam berbuat kebaikan

Salah satu beda yang tidak bisa ditawar adalah di niat. Sama sama berbuat baik . sama sama berbudi pekerti luhur, sama sama berahlak muliah dan sama sama lemah lembut penuh kesabaran dan kedamaian yang paling membedakan adalah jika orang islam diniatkan karena Allah, karena orang bukan islam pasti niatnya tidak karena Allah taala. Jadi kalau anda sudah merasa islam jangan berbangga kalau anda sudah bersedekah sudah sholat dan sudah beramal kebaiknnya lainnya, sebab jangan jangan digolongkan sebagai orang yang bukan islam, yang ketika berbuat tidak ada niat karena Allah.

Islam ini sederhana dan mudah tapi jika tidak di lakukan akan membatalkan semua amal kebaikan kita. Contohnya ya terkait dengan niat ini. Niat sangat penting dan mendasar dalam berbuat kebaikan, selalu perbaharui niat dan perbaharui niat.

saya tidak akan membahas orang non  islam, sebab sudah semestinya jika orang non islam tidak meniatkan perbuatan tidak karena Allah SWT, yang akan saya bahas sekarang adalah orang islam yang berbuat kebaikan berbuat ibadah tapi tidak ada niat karena ALlah. Syetan ini hebat, kalau kita mau menyalahkan dia, dia selalu membelokkan segala sesuatu dari Allah. Ketika kita baca quran niatnya apa? kalau niatnya cari pahala, cari 10 kebaikan itu sudah niat yang sudah dibelokkan syetan, agar niat tidak ke Allah tapi kepada pahala. Anda bersedekah niatnya untuk menolong agar orang tidak kelaparan, itu juga sudah dibelokkan oleh syetan agar niat amal ibadah nya tidak karena Allah tapi karena agar orang tidak kelaparan. Coba pikir apa bedanya orang islam dan non islam kalau menolong orang lain memberikan nasi bungkus kalau niatnya agar orang lain tidak kelaparan ? sama kan ?. ya kita harus memperbaiki amal batiniah ini sebab semua akan dilihat dari sisi batiniiahnya ini.

Banyak orang non islam yang lebih baik dan berbudi luhur dari pada orang islam itu sendiri, mereka begitu kasih dengan orang lain, mereka begitu berahlaknya dengan  binatang sampai makan daging binatang pun mereka tidak lakukan… orang jawa yang menganut aliran kejawen maka halusnya budi bahasa sangat jauh dari orang islam. Baik tapi karena bukan beragama islam maka itu semua hanya kebaikan di dunia saja, nah orang islam ini seharusnya kebaikan dan ahlak nya seperti mereka tapi harus di dengan niat karena Allah. Bukan karena kasihan, bukan karena ingin dianggap orang berbudi luhur, bukan karena toleransi tapi semua ahlak mulia ini di nisbatkan ke Allah, atau di niatkan karena perintah Allah.

Kalau anda membaca tulisan ini kemudian berpikir bahwa perbuatan selama ini tidak karena Allah maka segera istighfar dan mulai sekarang niatkan karena Allah. Tidak perlu anda protes hanya karena tidak niat karena Allah saja disamakan dengan orang yang bukan islam. Semakin anda protes maka semakin anda akan jauh dari islam. Terima saja aturan ini, sebagai perbaikan diri. bagi yang dulunya meniatkan amal ibadah agar dapat surga, agar dapat pahala agar selamat dunia dan akhirat maka sekarang niatnya adalah karena perintah Allah titik. Tidak perlu yang lainnya, apakah Allah tidak cukup bagi kita ? apakah ALlah masih kurang ? untuk itu kenapa kita masih meniatkan shalat tahajud agar sehat, shalat tahajud agar dapat pahala seian sekian? kita harus mulai sadar bahwa Allahlah penguasa bagi apa apa yang selainnya.

Ajaran tauhid memang ajaran 1, kalau bukan yang 1 itu bukan. kalau anda tidak atau belum siap sebaiknya anda belajar syahadat lagi belajar rukun islam dan rukun iman. Tidak perlu belajar islam dalam dalam kalau ajaran 1 ini tidak anda terima dan tidak anda lakukan.

Dalam Ibadahpun anda harus sadar Amanah Allah

setiap perbuatan harus diiringi dengan niat, yaitu suatu niat karena Allah. Niat karena Allah ini berarti mendasarkan kepada apa perintah Allah dalam kalau perintah Allah berarti mendasarkan pada apa amanah Allah. Kesadaran dalam berbuat ini sangat penting karena nilai ibadah kita akan sangat ditentukan oleh niat. sesungguhnya semua perbuatan akan dikembalikan kepada niatnya. artinya benar atau tidaknya ibadah kita tegantung dari niat. Misalnya Umroh meski ini adalah perbuatan ibadah ke tanah suci, tapi belum tentu ini memberikan nilai disisi Allah, jika tidak ada niat karena Allah di dalam menjalankanya. Misalnya pergi umrah karena ajakan teman, pergi umrah karena dapat hadiah, pergi umrah karena alasan dari pada ke eropa, atau pergi umrah untuk melihat jam terbesar di dunia, atau bahkan perg umrah untuk melihat kakbah, atau pergi umrah karena belum pernah ke sana. Alasan alasan perbuatan yang bukan karena Allah meski itu UMRAH tetap tidak ada nilainya.

Shalat tahajud pun jika tidak ada niat karena Allah juga tidak ada nilai disisi ALlah, misalnya shalat tahajud agar sehat, shalat tahajud agar rejeki berlimpah. Bershalawat misalnya, bisa jadi shalawat atau baca maulid jika niatnya tidak karena Allah tapi karena duniawi maka tidak akan ada nilai disi Allah, misalnya shalawat yang karena duniawi adalah baca shalawat agar dagangan laris, baca maulid agar selamat, baca shalawat agar mendapatkan keselamatan . itu semua adalah bukan karena Allah dan niat yang salah ini akan berakibat tidak ada nilainya disisi Allah.

Dalam ibadah saja yang jelas jelas dituntunkan dalam al quran jika tidak ada niat karena Allah maka nilainya tidak ada, apalagi dengan perbuatan perbuatan keseharian. Untuk itu niat itu sangat penting. Niat itu mengiringi perbuatan. Dan niat harus benar, sebab kalau nggak benar pasti salah. Niat yang benar adalah niat karena Allah, niat karena Allah berarti ada perintah Allah, ada perintah Allah berarti ada amanah Allah. saya ulang kalimat terakhir ini agar kita benar benar sadar akan niat dan perbuatan.

masalah niat ini adalah masalah diri kita masing masing, karena memang tanggung jawab kita masing masing. Kita ikut pengajian akbar dengan jumlah yang wow… coba niatnya apa? adakah disitu amanah Allah, adakah dsitu perintah Allah, adakah disitu karena Allah. Atau karena yang lain. Kalau ikut pengajian akbar karena “solidaritas” tentunya ini tidak karena Allah, kalau karena “undangan” bukan karena Allah maka itu juga tidak ada nilainya. sangat beda ikut pengjian akbar karena Allah dan karena undangan. Sangat beda ikut pengajian akbar karena solidaritas dan karena Allah.

yang saya bicarakan ini adalah masalah niat, yaitu ujung dari alasan sebuah perbuatan. Bisa saja anda dapat undangan pengajian akbar, tapi ujungnya apa, ujungnya karena undangan atau ujung niatnya karena Allah? anda tidak perlu marah ketika saya mengatakan bahwa ikut pengajian akbar itu tidak ada nilainya, karena memang niat anda adalah karena undangan maka akui saja bahwa itu adalah salah, lain kali kalau dapat undangan pengajian akbar dan dapat udangan lagi maka niatkan karena Allah di ujung niat anda, maka pengajian anda akan bernilai disi Allah.

Guru saya pernah mengajarkan kepada saya, selalu jaga niatmu, Ust MUhammad MUin pernah memberikan menceritakan bahwa ada seorang wali, dalam setap perbuatannya selalu sadar akan niat karena Allah, kemana mana selalu ada niat, main ke rumah teman pasti ada niat silaturahmi karena Allah. Itu pesan guru saya tentang niat. Begitu pentingnya niat ini  maka mari kita sama sama jaga niat dalam setiap perbuatan kita terlebih dalam ibadah dan tentu juga dalam kegiatan kita sehari hari . Niat ini akan dapat menjaga dari perbuatan sia sia.

Cara menjalankan amanah

Amanah ini kadang berat kadang juga ringan , kalau amanahnya adalah makan dan minum maka amanahnya ringan, tapi kalau amanahnya adalah keluarga , pekerjaan maka akan terasa beratnya. Saya akan membahas sedikit tentang bagaimana menjalankan amanah yang berat berat.

  1. yang pertama adalah rubah masalah menjadi amanah, ini terkait dengan mindset atau cara berpikir kita terhadap keadaan yang sedang kita hadapi. Merubah masalah menjadi amanah merupakan cara praktis yang paling Syar’i. Dengan merubah menjadi amanah maka stres akan berubah  menjadi motivasi,  malas akan berubah menjadi semangat. Hal ini efektif jika kita sudah beriman kepada Allah. Sebab orang yang tidak beriman tidak akan mempan di motivasi dengan mindset amanah. Sebab mindset ini hanya miliki orang yang beriman.
  2. yang kedua adalah menggunakan metode nafi isbat, artinya bahwa amanah yang kita jalankan bukan karena kita dan bukan karena kekuatan kita, semua harus kita isbatkan kepada Allah. Seperti ketika Allah memberikan perintah : wamaa ramaita idz ramaita walaakinallah rama. Bukang engkau yang melempar hai Muhammad tapi Aku (Allah). Konsep ini memberikan pengertian bahwa ketika kita menjalankan amanah maka bukan kita yang sedang bekerja tapi Allahlah yang sedang memperkerjakan kita, bukan kita yang bergerak tapi kita digerakkan Allah. Konsep nafi isbat ini silahkan dipelajar dan diaktivasi di dzikir nafas metode ke 4. Dengan cara ini amanah yang kita jalankan akna terasa ringan dan terasa benar tuntunan Allah dalam setiap kita emnjalankan amanah Allah
  3. yang ketiga adalah tetap berada di kawasan amanah, maksud saya di kawasan amanah adalah selalu sadar bahwa apa yang dilakukan adalah masih dalam rangka menjalanakan amanah Allah, apapun itu amanahnya. MInimal adalah sadar Allah jika memang tidak ada yang bisa dilakukan lagi, karena sadar Allah itu termasuk amanah yang seharusnya kita jalankan.
  4. yang keempat ,Sungguh sungguh dalam menjalanakan amanah. Sungguh sungguh ini adalah bagaimana kita melakukan amanah dengan kesadaran penuh dan dengna fokus untuk menyelesaikan dengan yang terbaik, atau kita selesaikan dengan sebaik baiknya. disini kecepatan dan ketepatan menjadi ukuran dari pada kesunggnuhan. Boleh dikatakan juga bahwa kesungguhan ini juga merupakan totalitas dalam menjalankan amanah Allah.
  5. yang kelima, mengafirmasi diri bahwa diri ini adalah wakil Allah atau sebagai khalifah Allah. Namanya wakil Allah kita harus benar benar menghilangkan keakuan kita dan kita ganti menjadi keAkuan Allah, artinya karena ini adalah wakil Allah ya biarkan Allah menjalankan apa yang Allah kehendaki baik menghendaki kita atau di sekitar kita. Kita hanya mengikuti geraknya saja.

Itu 5 tips dalam menjalankan amanah agar apa yang kita emban dari amanah itu dapat selesai dengan baik. Tidak ada motivator yang sesuai dengan ajaran islam kecuali kembali kepada quran dan sunah, karena di dua tempat itulah terletak kefitrahan kita.