Jika anda mengantuk saat Dzikir Nafas

Mengantuk adalah anugerah, terutama saat anda menjalankan dzikir nafas. saran saya ketika anda mengantuk saat menjalankan dzikir nafas, ikuti saja rasa kantuk itu dengan kesadaran penuh. jadi anda mengikuti daya mengantuk yang menyelimuti tubuh anda. Dengan mengikuti secara sadar ini anda akan merasakan tubuh anda tertidur, atau bahkan hilang rasa kantuknya.

Permasalahan jamaah dzikir nafas adalah munculnya rasa kantuk yang akhirnya secara tidak sadar tertidur. Belajar dzikir nafas adalah belajar kesadaran, belajar menjadi lebih sadar.

Saran saya yang lain adalah, jangan melawan kantuk, semakin anda lawan maka rasa kantuk itu akan semakin kuat dan anda akan semakin mudah terbawa ke alam bawah sadar.

baik kembali ke mengikuti rasa kantuk, dengan mengikuti rasa kantuk ini berarti anda melatih diri untuk menyadari bahwa diri anda sedang terserang kantuk,. dan itu membuat anda lebih sadar dan lebih sadar sehingga anda bisa tertidur tapi sadar atau malah hilang rasa kantuknya.

baik tips sederhana ini semoga manfaat

makna surga di bawah telapak kaki ibu

banyak yang mengartikan bahwa jika surga di bawah telapak kaki ibu berarti anak harus berbakti, makna ini tidak salah, tapi bagaimana jika yang menggunakan hadis ini adalah orang tua terutama ibu, pasti maknanya akan lain. Jika tetap disamakan seperti itu pasti si ibu atau orang tua tersebut menuntut anak untuk berbakti kepada dia.

Jelas kalau anak dituntut berbakti kepada orang tua yang terjadi adalah sebaliknya yaitu anak tidak berbakti kepada orang tua, semakin di paksa berbakti anak semakin tidak berbakti. Sebab meski yang menjadi landasaran orang tua adalah hadis, namun penerapan jelas salah. Mana ada orang mau dipaksa untuk berbakti kepada orang lain meski itu orang tuanya.

Pemaksaan orang tua kepada anak untuk berbakti kepada orang tua berarti orang tua mendidik anak dengan nafsunya, dengan egonya, dengan harga dirinya sebagai orangtua. Jika kita mendidik menggunakan dasar ini jelas si anak juga akan menggunakan harga dirinya, menggunakan ego nya dan menggunakan keinginannya. Ego dipaksa oleh Ego, ego anak dipaksa berbakti kepada orang tua, ini jelas tidak mungkin bisa ketemu.

nah makna sebenarnya dari surga dibawah telapak kaki ibu adalah bagaimana orang tua ini bisa menjadi surga bagi anak anaknya. kalau yang ada adalah kecaman, hentakan dan kemarahan jelas ini bukan surga namun ini adalah neraka. berarti bahwa neraka ada ditelapak kaki ibu.

kelembutan seorang ibu, kecintaan yang tulus karena Allah, kasih sayang ibu inilah yang disebut dengan surga ada dibawah telapak kaki ibu. pangandaikan kaki ibu merupakan perumpaman yang sarat makna. bayangkan telapak kakinya saja surga …bagaimana dengan ucapannya, pelukan ibu untuk anaknya dan lainnya.

jadilah surga bagi anak anak jangan jadi neraka bagi anak anak..

dzikir nafas adalah dzikirnya para wali

Dzikir Nafas dzikirnya para wali, metode hebat untuk selalu sadar Allah

para wali adalah para kekasih Allah, beliau beliau berusaha keras dan semaksimal mungkin untuk bisa berdzikir setiap saat. Kemudian para wali tersebut menemukan metode dzikir nafas yang dapat membuat selalu dzikrullah. Penemuan dzikir nafas oleh para wali ini dilestarikan di hampir seluruh aliran tarekat dengan variasi yang berbeda beda baik dari sisi bacaan maupun cara menjalankannya, namun tetap pada intinya adalah untuk tujuan berdzikir kepada Allah disetiap nafas.

tidak ada cara lain untuk bisa berdzikir terus menerus kecuali dengan dzikir nafas, jika anda membantah ini coba jelaskan metode lain yang dapat membuat berdzikir secara terus menerus. pakai tasbeh? apa ya naik motor sambil mutar tasbeh? jelas tidak mungkin. atau apa .. silahkan beritahu saya…. jika ada cara yang lebih efektif saya berani meninggalkan metode dzikir nafas ini. Kalau ada yang menyalahkan metode ini, coba jangan hanya menyalahkan tapi coba cari cara yang lebih baik dari dzikir nafas ini, percuma saja menyalahkan tapi tidak bisa memberikan penggantinya.

para waliyullah sangat ketat dalam hal berdzikir, sebagai kekasih, para wali ini tidak ingin lepas barang sekejap saja dengan Allah SWT. oleh karena itu kita yang orang biasa ini, ingin meniru kebiasaan para Waliyullah ini untuk bisa berdzikir kepada Allah. Bukannnya kita berdzikir nafas untuk bisa menjadi waliyullah tapi kita berdzikir nafas agar bisa selalu sadar Allah Setiap saat. jangan menganggap diri kita orang biasa lalu kita tidak mau melakukan mujahadahnya para wali dalam menjaga kesadaran ke Allah.

doa bukanlah kalimat ajaib

doa yang anda baca bukanlah kalimat ajaib yang akan membawa keinginan anda terwujud. bacaan doa hanyalah rangkaian kalimat pembuka saja, itupun jika doanya di sertai dengan dengan kesadaran, kalau tidak, maka doa tidak akan berarti apa apa dalam diri anda.

Kalau anda punya masalah anda bingung solusinya lalu cari “doanya apa ya ?” maka itu tidak akan membuahkan hasil. dibaca 10x, 20x bahkan ratusan kali tetap tidak membawa pengaruh apa apa pada diri anda. yang ada adalah kekecewaan dan paling parah anda kecewa kepada Allah “katanya setiap doa dikabulkan?” ya anda kecewa dengan apa apa yang sudah anda baca.

Sekali lagi doa bukanlah kalimat ajaib yang akan membawa anda pada keberhasilan terwujudnya keinginan. bukan masalah doa kita tidak dijawab oleh Allah, tapi karena kitanya sendiri yang hanya fokus kepada kalimat kalimat tanpa mengindahkan Allah sebagai Sang Pengabul Doa. jelas saja kalau kita hanya pandai menghafal doa, kita pandai berbahasa arab sefasih fasihnya tapi karena tidak ada kesadaran akan “sang pengabul doa” ya sama saja.

doa pada hakikatnya adalah permintaan kepada Sang Pengabul Doa , maka mau tidak mau kita harus lebih fokus kepada Sang Pengabul Doa bukan pada kalimat kalimat doa. Doa tidak hanya di baca, jika itu yang dilakukan maka kita hanya membaca doa bukan berdoa. Kalau berdoa maka anda akan benar benar berkomunikasi kepada Allah dan inilah yang akan dikabulkan Allah.

ciri wali jadzab

jadzab adalah keadaan kesadaran yang mengalami perubahan yang bersifat tidak permanen. Jadzab adalah hal yang lumrah yang dialami oleh beberapa wali (tidak semua wali mengalami jadzab). Jadzab ini mirip keadaan kegilaan dimana perilakunya menjadi tidak lumrah, namun sangat berbeda dengan gila yang bukan jadzab. Meski sama sama “gila” namun keadaan wali ini apa yang dilakukan adalah “kebenaran” yang tidak terpikirkan oleh orang lain sehingga bagi beliau benar bagi orang lain yang berpikir tidak sampai sejauh wali tersebut menganggap bahwa perilakunya adalah jadzab.

Jadab ini tidak permanen artinya jadzab hanya berlaku sementara, kalau permanen malah dipertanyakan, ada kisah putra dari kyai di jogja sejak kecil mengalami gangguan perkembangan sehingga sejak kecil hingga beliau sekarang sudah usia 60an dianggapnya jadzab, ini adalah anggapan yang keliru karena dia mengalami gangguan perkembangan. Nah yang dianggap jadzab itu adalah jika terjadi setelah seseorang mengalami pengalaman spiritual yang sangat dalam yang dapat berpengaruh pada dirinya, sehingga membuat keadaan kesadaran berubah, nah jadzab adalah proses dimana terjadi adaptasi antara keadaran yang berubah ini dengan keadaan alam sekitar.

Kita harus paham benar dengan hal ini, sebab banyak sekali orang yang berdzikir dengan tekun kemudian berperilaku aneh….. tapi perilaku anehnya kok tidak berubah ubah.. nah bisa dipastikan bahwa dia mengamali gangguan jiwa atau (gila beneran).

dan jangan mudah mempercayai orang yang “gila” sebab bisa jadi dia “menggilakan diri” agar dianggap jadzab, dan dianggap wali yang sedang jadzab. Kalau hemat saya jika ada yang jadzab sebaiknya jangan diminta tolong … justru kita doakan agar jadzabnya  segera usai. kalau berguru juga jangan kepada oranng yang jadzab pasti nanti ikut ikutan “jadzab” ..tapi tentunya jadzabnya lain…

 

1 rahasia sukses Rasulullah

1 rahasia sukses Rasulullah adalah menggunakan shalat sebagai bentuk rasa syukur. Rasulullah tidak sekedar bersyukur kepada Allah namun sudah menggunakan tindakan dan perbuatan beliau sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah. Rumus dari artikel yang saya tulis beberapa waktu lalu bahwa jika syukur itu di vibrasikan dalam bentuk perbuatan maka daya syukur itu akan menjadi berlipat. Jadi Rasulullah menjadikan sholat sebagai bentuk pelipatan vibrasi syukur, nah ini tentunya akan menjadikan gerak alam menjadi mengarah kepada apa yang dicita citakan rasulullah. dan ternyata benar Rasulullah sukses menanamkan islam ke seluruh dunia hingga sekarang. demikian besarnya daya syukur yang di vibrasikan melalui shalat ini maka kita sebagai umat islam wajib sewajibnya untuk mencontoh cara Rasulullah.

kalau ada yang bertanya mengapa kamu shalat maka ada tiga jawaban ;

1. karena wajib

2. karena kebutuhan

3 karena saya bersyukur

level tertinggi dalam menjalankan shalat adalah karena syukur dan yang paling lemah adalah karena kewajiban. orang shalat karena syukur maka hidupnya akan selalu diliputi kebahagiaan dan kesuksesan. sebab orang syukur itu sukses adalah sekarang bukan nanti. ketika sekarang disikapi dengan sukses maka seterusnya akan sukses, ini adalah prinsip utama yang harus dipegang. dengan cara ini maka hidup kita akan selalu sukses, tidak harus menunggu nanti, bahkan menunggun kalau sudah tua. kalau sudah tua untuk apa sukses? maka sukses adalah sekarang, dan itu harus diwujudkan dalam bentuk shalat karena memang syukur bukan untuk siapa siapa dan syukur tidak karena apa apa tapi syukur diperuntukkan untuk Allah.

baiklah mari kita menggunakan shalat kita sebagai rasa syukur dan semoga kita mendapatkan kesuksesan. amin

perbedaan berguru kepada Allah dan kepada manusia

perbedaan yang pasti adalah bahwa Allah adalah sumber ilmu sedangkan manusia perantara ilmu saja, jadi kalau kita berguru kepada Alah berarti kita berguru kepada sumbernya. perbedaan lainnya adalah bahwa berguru kepada Allah caranya ialah dengan metode “mendengarkan” dengan jiwa kalau dengan manusia menggunakan metode mendengarkan dengan telinga. apa yang kita terima pun agak berbeda kalau dengan Allah berupa pencerahan jiwa tapi dengan manusia berupa pencerahan pikiran atau pengetahuan.

secara kualitas tentu saja berbeda berguru kepada Allah meski kuantitasnya sedikit namun kualitasnya sangat dalam dan luas. berbeda dengan berguru kepada manusia, secara kuantitas banyak sekali…. tapi kualitas lebih sedikit. Ketika kita berguru kepada Allah maka apa yang kita terima meski sedikit bisa kita jabarkan hinga 2 sampai 3 hari tapi kalau dengan menusia kita mengikuti pengajiannya bisa berjam jama tapi kalau kita ambil sari patinya paling hanya 2 – 3 menit.

mengenai caranya berguru kepada Allah lebih simple cukup masuk mushalla atau temapat kita shalat, bisa kita shalat 2 rekaat, kemudian kita duduk timpuh (seperti iftirasy) kemudian kita merendahkan diri kita dan kemudian hadapkan kita dengan Allah, lalu dengarkan dengan jiwa apa apa yang disampaikan Allah kepada kita. Dengarkan sampai apa yang disampaikan Allah selesai.

nah berbeda dengan berguru kepada manusia, kalau berguru dengan manusia maka kita harus datang ke majelis pengajiannya kemudian kita mendengarkan dengan telinga kita (indera) agar dapat masuk dalam pikiran.

baik itu beberapa perbedaan antara berguru kepada Allah dengan berguru kepada manusia. saran saya bergurulah kepada Allah dan kepada manusia, karena kita akan mendapatkan lebih lengkap dan lebih meykainkan. jangan hanya berguru kepada manusia saja karena kita akan kehilangan esensi ilmu, jika kita hanya berguru kepada Allah saja maka hablum minannas kita akan kurang.