cara mensucikan dan mendidik nafs atau jiwa

banyak sekali metode mendidik atau memberasihkan nafs atau jiwa ini, anda bisa menggunakan metode manajemen qolbu ala AA Gym, shalat khusyu ala Ust Abu Sangkan, ESQ ala Pak Ary Ginanjar, atau sedekah dan menghafal Alquran ala Ust Yusuf Mansyur…. nah anda bisa juga membersihkan jiwa dan mendidik jiwa ala saya…. yaitu dengan dzikir nafas.

Cara mensucikan dan mendidik nafs ala saya ini sangat mudah, yaitu sadar Allah dalam setiap helaan nafas, setiap nafas anda masuk dan setiap nafas anda keluar dengan selalu sadar Allah dengan cara menyebut Huu ketika nafas masuk dan Allah ketika nafas keluar. Menurut Guru saya yang saya hormati Bapak Haji Slamet Utomo Banyuwangi : dzikirlah sampai berdzikir sendiri suara nafas mu Huu dan Allah, sehingga jiwamu mendapat bimbingan Allah SWT.

kalimat Beliau ini saya pegang teguh dan saya praktekan dan saya buat buku yaitu buku dzikir nafas, dalam metode ini anda dilatih untuk berserah diri kepada Allah dalam setiap helaan nafas, dan benar bimbingan Allah sangat terasa, dimana saya dan jamaah yang mempraktekan merasakan perubahan perubahan ke arah yang positif, lebih sabar, lebih tenang dan ibadah lebih bisa konsentrasi dan khusyu. tentunya ini perubahan yang sangat berarti bagi saya dan jamaah dzikir nafas.

baik saya memang mempromosikan dzikir nafas ini jadi maaf jika agak sombong.. he he ya bagaimana mau memamerkan produk kalau tidak saya sombongkan. baik bagi para pembaca semoga dzikir nafas ini bisa menjadi penambah khasanah untuk mendekat dan mensucikan jiwa kita serta mendidik jiwa kita.

semoga manfaat

Pelatihan Islamic Spiritual Parenting Jakarta 11 dan 12 Oktober 2014

Orang tua sering menderita karena anak, saya sering mendengar keluhan orang tua tentang anaknya. Anak 2 saja keluhannya begitu hebat yang inilah dan yang itulah, sangat berbeda dengan embah embah kita dulu yang punya anak hingga belasan, embah embah dulu tidak jarang yang mengeluh…

Orang tua sering mengeluh dengan tentang anaknya namun merasa tidak bermasalah dengan dirinya. coba bayangkan kalau orang tua secara mental terganggun namun tidak merasa terganggu, ini sama halnya (maaf orang gila yang merasa dirinya tidak gila). sehingga hal ini semakin hari akan semakin parah… dan tidak sedikit menimbulkan masalah masalah yang lebih komplek terutama berkaitan dengan masa depan anak. Orang tua yang mendidik dengan keadaan emosi yang kurang positif maka akan berdampak besar pada kejiwaan anak. dan ini sudah sering terjadi, bahkan saya pernah mengamati ada seorang anak yang dibesarkan dengan hardikkkan dan cemoohan orang tua karena orang tuanya stress melihat anaknya diajari membaca tidak bisa bisa, setiap malam cemoohan dan hardikkan itu terjadi dan benar ketika besar anak ini bikin ulah, kuliah tidak selesai dan hamil diluar nikah. baik mungkin anda tidak percaya apa kaitan antara hardikan orang tua dan perilaku hamil diluar nikah si anak. Baik … secara singkat begini ketika anak di hardik dia akan menyimpan dalam bentuk file negatif, bisa jadi dia denda dengan orang tua, bisa jadi dia menginternalisasi “hardikkan” orang tua sebagai sesuatu yang nyata dan benar … dan file negatif ini jika terakumulasi akan menjadi suatu perbuatan yang ringat namun berdampak besar pada keluarga.. “hamil di luarnikah’ suatu perbuatan yang ringan namun bisa mencoreng nama keluarga, bisa membuat status dirinya dari gadis menjadi Ibu dan lainnya. nah untuk itu sebagai orang tua seharusnya memiliki kesehatan mental yang baik agar anak anak yang didik pun memiliki jiwa yang baik.

program training spiritual parenting ini akan saya fokuskan bagaimana membuat orang tua bahagia dalam mendidik anak. Sikap anak yang positif itu jelas membahagiakan namun bagaimana jika si Anak karena saking kreatifnnya bikin sesuatu yang tidak menyenangkan apakah kita juga bahagia?

 

menjadi orang tua harus memiliki dasar dasar mendidik yang positif seperti yang diajarkan Rasulullah kepada kita. dasar dasar ini ada empat pilar utama

 

empat pilar yang berasal dari kekuatan spiritual silatun ini akan menjadikan orang tua mampu menjalankan amanah dengan baik, mampu menjalin kasih sayang dengan anak, mampu meridloi anak dan mampu mensyukuri anak.

dengan 4 kekuatan spiritual inilah orang tua akan bahagia dan anak akan menjadi sukses sesuai dengan kodrat dan takdir Allah yang sudah ditetapkan.

 

wejangan Bp Haji Slamet Utomo kepada Pak Djoko

Djoko Santoso : Cuma ikut koment aja… Suatu kami Patrap di Gunung Mas Bogor, Saat itu para siswa sedang konsentrasi Patrap, yakni menyambungkan jiwa ini (Ruhani) kepada Zat-Nya, tanpa sy ketahui Bpk. Pembimbing Spiritual, Bpk.Haji Slamet Utomo, berbisik ketelinga kanan sy, # Hendaknya masuk dan keluar nafasmu berbunyi Hu… Allah, Langgengkan, dimanapun, dan disaat apapun, Insya Allah, Gusti Allah akan membimbing jiwamu #

Pak Djoko terimakasih Komennya, Benar sekali apa yang Baliau Pak Haji sampaikan, bahwa keluar masuknya nafas berdzikir sendiri Huu Allah.

Jika kita mencapai level 4 maka secara otomatis kita akan mendengar nafas kita berdzikir Huu Allah. Apa yang disampaikan pak Haji sungguh amat benar, Beliau menyampaikan dari pengalaman beliau bukan dari  sesuatu di luar pengalaman beliau.

al fatihah untuk Bp Haji Slamet Utomo.

bagiamana membaca pikiran dan perasaan orang lain

Antara pikiran, perasaan dan gerak tubuh, semuanya saling berkaitan. pikiran A perasaan A dan gerak tubuh A juga, tentunya ini terjadi secara bawah sadar dan alamiah, jika dibuat buat kita akan kesulitan. Jadi cara ini hanya efektif ketika semua tidak disadari Misalnya dalam sesi jual beli, sesi konseling atau lainnya.

nah bagaimana untuk bisa memahami, caranya susah susah gampang, anda harus bisa masuk kedalam alam pikiran dan perasaan melalui gerak gerak lawan bicara. semakin anda bisa masuk ke dalam alam pikiran dan perasaan secara lebih dalam dengan pintu gerak tubkuhnya maka anda akan semakin bisa melihat lebih jauh apa yang dia pikirkan dan rasakan.

atau dengan begini, kita menirukan gerak tubuhnya sampai kita bisa masuk ke dalam alam perasaan dan pikirannya. Ciri keberhasllan dalam melakukan cara ini adalah anda bisa memprediksi apa  yang dipikirkan dan dirasakannya.

baik selamat mencoba

group islamic spiritual parenting di facebook

saya mengelola satu group lagi khusus bagi yang tertarik dengan dunia parenting lebih khususnya sudut pandang islam. bagi sahabat semua terutama Ibu Ibu yang tertarik dalam dunia pendidikan anak silahkan untuk “gabung ke group”. di group tersebut ada beberapa penulis, guru, ibu rumah tangga dan ada tokoh pendidik nasional juga.

baik saya tunggu selamat bergabung.

Menyoal kebenaran cerita syech siti jenar

syech siti jenar begitu legendaris, terutama dikalangan para sufi  dan kaum tarekat… Beliau bisa disejajarkan dengan al hallaj kalau di timur tengah. Tapi sayangnya dari berbagai cerita yang ada tentang beliau tidak ada yang sama , ada yang ini dan ada yang itu, sangat tergantung sekali background yang menceritakan. Kalau orang kejawen (setengan islam setengah jawa) maka syech siti jenar ini dipakai untuk melegitimasi kebenaran ajaran manunggaling kawulo gusti, sampai pada akhir cerita Beliau dibunuh oleh penguasa yang syar’i yang tidak suka dengan ajaran beliau. Bagi kaum salafi tokoh syehc siti jenar diceritakan sebagai tokoh penyebar kesesatan sehingga layak di hukum pancung. Nah bagi penganut sufi sendiri tokoh ini di diidentikkan dengan tokoh al hallaj yang meninggal gara gara tidak disukai oleh lawan politiknya. dengan kesimpang siuran ini pantas kalau kita pertanyakan berabagai cerita terkait dengan tokoh yang satu ini.

dalam film wali songo yang di rilis puluhan tahun yang lalu, digambarkan betapa Beliau ini sakti karena bisa berubah cacing dan bisa masuk kedalam tanah. benarkah bisa berubah menjadi cacing dan manusia bisa masuk kedalam tanah? sangat tidak masuk akal…. jelas itu cerita yang dibuat buat tanpa pertimbangan fitrah sebagai manusia.

baik saya kira masih banyak lagi cerita cerita seputar syehc siti jenar, dan kita harus kritis terhadap kebenaran cerita tersebut, jangan sampai cerita tersebut membawa kita kepada pamahaman yang salah.

bukan manunggaling kawulo gusti

ada dua versi dalam mengartikan manunggaling kawulo gusti

  1. mengartikan bahwa manunggaling itu diibaratkan seperti bercampurnya antara kopi dan gula dimana sudah tidak bisa dibedakan lagi mana gula dan mana kopinya 
  2. ada juga yang mengartikan bahwa manunggaling kawulo gusti itu diibaratkan seperti garam yang di masukkan ke dalam lautan dimana garam sudah masuk ke lautan dan bersatu di lautan

Kedua pengertian tersebut tidak sama dengan kajian hakikat makrifat dalam islam. Sebab baik pengertian pertama dan kedua masih menggunakan ego, artinya masih mengandung makna bersatu atau manunggal. Yang pertama jelas sekali manunggalnya antara gula dan kopi yang kedua jelas sekali manunggalnya garam dengan air laut.

Di dalam kajian hakikat makrifat dalam islam tidak ada istilah bersatu, sebab konsep islam adalah berserah, ketika berserah total maka tidak ada lagi yang namanya aku yang ada adalah Aku. tidak ada lagi yang namanya ego tapi yang ada adalah diri.

Dalam islam sangat kuat sekali dalam peniadaan ego ini bahkan setiap amal ibadah mengharus kita untuk meniadakan ego (ananiah). Jadi pengertian manunggaling kawulo gusti hanya pas untuk sistem kepercayaan lain dan bukan islam. Islam jelas laa ilaha ilallah, artinya hanya Allah saja, tidak ada kita tidak ada aku dan tidak ada kami yang lebur.

pengertian ini untuk meluruskan pemahaman kita bahwa kaum sufi dan tasawuf tidak mengenal istilah manunggaling kawulo gusti, istilah ini jika dihembuskan oleh orang orang yang anti pati tasawuf yang selalu menuduh bahwa aliran tasawuf adalah sesat.