pasrah kepada Allah target utamanya adalah “pasrah” tidak ada hubungannya dengan apakah dengan pasrah masalah yang kita hadapi selesai apa tidak. seringkali ketika menghadapi masalah kita memasrahkan diri kepada Allah dengan tujuan agar masalah kita selesai.. walaupun ini tidak salah namun tidak sesuai dengan tujuan pasrah itu sendiri yaitu “berserah”.

pengalaman seorang dalam pasrah seringkali menjadi hambatan seorang untuk pasrah. contohnya begini, seringkali pasrah kepada Allah tapi solusi tidak kunjung datang, akhirnya pengalaman ini menjadikan “tidak mau pasrah”.

ukuran pasrah:

ukuran keberhasilan pasrah adalah adanya kelegaan dalam hati kita, ketenangan dalam hati kita. jika kita merasa tidak plong hati kita atau lega maak pasrah kita belum benar.

kemarin sewaktu halaqoh, setelah usai halaqoh sholat khusyu, ada satu jamaah yang konsultasi ke saya. Ibu tersebut menceritakan setelah dirinya menyerahkan sepenuhnya kepada Allah tentang kelakuan suami nya, secara tidak disangkanya suami nya berubah 180derajat. dari yang tidak perhatianmenjadi perhatian, dari yang senang keluar kota memutuskan untuk tetap tinggal di solo. ya saya katakaan kepada beliaunya bahwa itulah hasil dari berserah dengan menyerahkan total kepada Allah maka Allah akan bertindak.

banyak pengalaman dari kawan kawan ketika berserah total kemudian mendapatkan sesuatu yang dapat membahagiakan dirinya. namun syaratnya satu ketika berserah jangan dicampuri dengan ini dan itu, berserah ya berserah. kalau masih dicampuri maka akan merusak kebersihan dari berserah tersebut.