Pelatihan Spiritual Parenting Jakarta 11 dan 12 Okt 2014

detil acara ada di brosur terlampir

Pelatihan “Islamic Spiritual Parenting”
Oleh: Setiyo Purwanto, S.Psi., M.Si.**

Sekapur Sirih
Mendidik atau mengasuh anak adalah tugas orang tua. Orang tua adalah subyek utama dan terpenting dalam membesarkan buah hati sejak usia dini hingga si anak menjadi dewasa. Namun permasalahan tentang mengasuh atau mendidik anak justru bersumber dari orang tua.
Tak sedikit orang tua yang sebenarnya ‘tidak siap’ atau ‘tanpa bekal sama sekali’ (well-unpreparred parent) untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Orang tua memasuki gerbang rumah tangga tanpa bekal yang cukup. Dunia pengasuhan tiba-tiba harus menjadi menu sehari-hari begitu si buah hati lahir. Tak jarang, pengasuhan kepada anak dijalankan nyaris tanpa ilmu dan tanpa konsep yang memadai.
Memang ada beragam model pengasuhan yang bisa diterapkan oleh pihak orang tua untuk mendidik anak-anaknya. Namun, tak jarang keluhan masih terdengar. Orang tua dilanda amarah, kejenuhan, tekanan, bahkan frustrasi menghadapi pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal sejenis ini bisa terjadi karena orang tua memang benar-benar buta terhadap ’pola pengasuhan’ dalam mengasuh atau tidak tahu ’peta jalan’ selaku orang tua agar benar-benar bisa menjadi orang tua (becoming parent). Orang tua gagal menjadi orang tua hanya karena alasan sepele, karena tidak terampil mengasuh (to parent) kepada anak-anaknya.
Model-model pengasuhan yang konvensional sebenarnya sudah cukup bagus bila mampu dikuasai oleh orang tua dan diterapkan dalam mengasuh anak-anaknya. Namun, yang terjadi adalah pola pengasuhan konvensional pun tidak berjalan maksimal. Energi orang tua habis untuk banyak urusan, sementara pengasuhan dijalankan apa adanya kalau tidak justru ’tanpa juntrungan yang pasti’ dan tanpa panduan yang memadai. Pola asuh palsu sejenis ini sebenarnya hanya ’menelantarkan’meski bisa saja berwujud memanjakan anak. Ujung-ujungnya pun berakhir buruk. Anak menjadi nakal, miskin prestasi, atau memberontak. Pengasuhan konvensional pun dipandang tak memberikan hasil yang baik.
Karena itu pendekatan dengan nilai-nilai spiritual dalam mengasuh anak perlu lebih ditekankan. Dalam mengasuh anak cara konvensional akan semakin baik bila dimasukkan unsur spiritual. Nilai-nilai spiritual akan memberikan warna baru dalam melakukan pengasuhan kepada anak. Islam yang kaya dengan ajaran-ajaran moral dan adab sebenarnya sangat mendukung pola asuh kepada anak yang jauh lebih baik.
Dalam pola asuh Islam, dimensi spiritual pasti tidak bisa ditinggalkan. Nilai-nilai spiritual dalam Islam sangat tepat untuk diterapkan dalam mengasuh anak. Anak harus dikenalkan dengan pengalaman beragama dan bukan konsep agama saja. Demikian pula terhadap konsep Tuhan, anak juga harus diajak untuk tak sekadar mengenal, namun merasakan Tuhan. Itulah inti dari pengasuhan atau parenting dalam Islam. Anak menjadi ’sadar Tuhan’ sejak usia dini yang akan menjadi bekal penting dalam menjalani hidupnya.
Apa yang terjadi pada pendidikan dan pengasuhan selama ini justru jarang yang melihat peran serta Tuhan. Tuhan diabaikan keberadaan dan fungsinya. Tuhan hanya dianggap sebagai tempat menyembah saja dan yang tidak memiliki pengaruh sama sekali dalam kehidupan pendidikan anak. Apa yang terjadi adalah pendidikan yang sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan dimensi spiritual.
Tuhan seolah dipandang tak memiliki sumbangsih dan peranan dalam proses pendidikan dan kehidupan, baik bagi orang tua maupun anak. Akhirnya, potensi spiritual yang dimiliki anak pun ‘teraborsi’ atau bahkan mati. Anak-anak tumbuh jauh dari nilai spiritual dan berkembang dengan nilai-nilai material semata.
Untuk itulah, model pengasuhan spiritual dalam Islam adalah kunci terbaik untuk orang tua ketika mengasuh anaknya. Dengan pengasuhan berbasis pada nilai-nilai spiritual Islam, anak akan tumbuh sehat, ceria, salih, dan spiritual. Dimensi spiritual anak pun akan hidup dan memiliki kontribusi terhadap proses perkembangannya dalam hidupnya. Dengan cara inilah akan sangat mudah bagi orang tua untuk mencetak anak yang berbudi baik, bermoral, berkarakter, dan sekaligus berprestasi.
Dalam pelatihan “Islamic Spiritual Parenting” orang tua akan dilatih untuk mempertajam daya ruhaninya (spiritual power) sehingga bisa digunakan dalam mendidik anak-anaknya. Orang tua akan dilatih untuk terampil dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak yang mampu menimbulkan suatu kekuatan spiritual. Cara-cara inilah yang sesungguhnya telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam mengajarkan dan mendidik kepada anak-anak. Dan karena itu pula, model parenting dalam Islam sangat lekat dengan pola asuh kenabian atau konsep “Prophetic Parenting”. Nilai-nilai spiritual dalam pendidikan ala Nabi inilah yang kini absen dilakukan oleh orang tua muslim dalam mengasuh anak-anaknya.
Dalam pelatihan ini, orang tua harus terlebih dahulu mengerti tentang nilai-nilai spiritual, sehingga akan menjadi sosok seorang ‘Spiritual Parent’ atau “Orang tua Ruhaniah” bagi anak-anaknya. Orang tua yang peduli nilai spiritual akan lebih mudah pula dalam menanamkan nilai-nilai kepada anak-anaknya. Orang tua harus terlebih dahulu piawai dan terampil dalam berkomunikasi dengan Tuhan untuk kemudian mampu menyertakan Tuhan dalam proses pendidikan anak. Dengan cara ini, peran Tuhan dalam pendidikan anak akan memberikan kekuatan, warna, dan nuansa tersendiri dalam proses pendidikan.
Materi yang akan dilatihkan kepada orang tua dalam pelatihan ”Islamic Spiritual Parenting” ini adalah:
1. Peran Spiritual dalam Proses Pendidikan Anak

Tujuan dari materi ini adalah orang tua memahami hakikat keberadaan dan perbuatan Allah dalam proses tumbuh kembang kehidupan seorang anak dan memiliki keyakinan yang kuat akan keterlibatan dan peranan Allah dengan segala Shifat dan Af’al-Nya dalam kehidupan, terutama dalam proses pengasuhan anak.

2. Berkomunikasi kepada Allah
Tujuan dari materi ini adalah orang tua diajak untuk mampu dalam pengalaman riil untuk berkomunikasi dengan Allah dalam bentuk amalan ibadah formal (semisal shalat atau sedekah) maupun yang tidak formal (seperti Dzikir Nafas). Allah bisa disadari dengan sifat-Nya yang Al-Wujud (Maha Ada atau Maha Nyata). Dalam tahap selanjutnya pengalaman ini bisa dipakai pola asuh kepada anak secara riil.

3. Tips Mendidik Anak dengan Islamic Spiritual Parenting
Tujuan dari materi ini adalah penyampaian tips-tips praktis dalam kehidupan sehari-hari terkait bentuk-bentuk pengasuhan anak yang didasarkan pada konsep pengasuhan anak yang berdasarkan pada nilai-nilai spiritual dalam Islam.

4. Diskusi
Dalam sesi ini, peserta bisamengajukan pertanyaan atau berkonsultasi terkait dengan kasus-kasus pendidikan atau pengasuhan anak yang relevan untuk diberikan solusi dan saling tukar pandangan dan pengalalam antara peserta dan pelatih.

** Dosen Psikologi Islam dan Psikoterapi Islam di Fakultas Psikologi,
Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS),Solo dan Trainer Shalat Khusyuk.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *