Program short course sholat "3 jam khusyu"

Program ini menjawab tantangan bagaimana bisa mempelajari, merasakan dan mempraktekan sholat khusyu dengan waktu yang praktis, singkat dan menyenangkan dalam waktu yang singkat. Dengan cara yang singkat hanya membutuhkan waktu 3 jam dengan full exercise diharapkan peserta bisa merasakan kekhusyuan dalam sholat.
Program ini mensarikan dari metode pelatihan 2 hari dan 1 hari menjadi 3 jam dengan menekankan pada aspek tumakninah dan dzikrullah (silatun). Materi disampaikan dengan enjoyable sehingga otak menjadi relaks dengan bahasa yang mudah di cerna serta ilmiah dan tentunya menyinggung aspek kehidupan keseharian sehingga benar benar short course ini dapat dengan mudah dimengerti, dirasakan dan dipraktekan dalam sholat dan dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari hari.
Khusyu di praktekan dalam sesi sesi yang langsung mengarah kepada penerapan khusyu dalam setiap posisi, gerakan dan bacaan sholat.
1. khusyu berdiri
2. khusyu ruku
3. khusyu sujud
4. khusyu iftirasy
5. khusyu duduk tahiyat
6. khusyu dalam setiap perubahan (gerakan)
7. khusyu bacaan
kemudahan khusyu yang di dapat dari kursus ini adalah karena setiap sesi latihannya adalah karena peserta diajarkan bagaimana mengkombinasikan atau mensinergikan antara “
tumakninah (relaksasi) dan
dzikir (meditasi).
Sinergi ini akan mengaktifkan superconscious (super sadar) sehingga keadaan spiritual extase dapat dicapai.
Pelatihan ini fasilitatori oleh Setiyo Purwanto dengan trainer tunggal diharapkan tahapan tahapan pelatihan dapat dilakukan dengan progress yang jelas sebab kursus sholat ini tidak sekedar mengajarkan ilmu sholat semata namun ada spiritual power yang harus juga dipelajari oleh peserta dimana gradasi powernya harus dipelajari dari lemah hingga diakhir kursus peserta merasakan spiritual power yang dapat dirasakan dengan adanya perubahan emosi yang lebih baik, dimensi keyakinan meningkat, dan beberapa dampak positif lainnya.
training ini sangat sesuai bagi kita yang baru belajar karena learning process yang simple dan being experience sehingga mudah untuk dipraktekan ulang di luar pelatihan. bagi para calon trainer sholat khusyu yang ingin memberikan pelatihan sholat khusyu secara singkat sangat disarankan mengikuti pelaithan ini sebagai bahan sharing atau untuk diterapkan di jamaah halaqoh atau pun diluar halaqoh sholat khusyu
metode ini sudah saya praktekan di fakultas psikologi UMS solo dan UII jogjakarta dengan peserta mahasiswa, dan alhamdulillah respon yang dterima sangat positif sehingga saya termotivasi untuk menyebarkan metode training sholat khusyu dengan waktu yang singkat dan materi yang cukup aplikatif.

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu”

terimakasih atas waktunya membaca pesan saya semoga bermanfaat. amiin

salam rahmah dan barokah
setiyo purwanto
shalat center solo

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 thoughts on “Program short course sholat "3 jam khusyu"

  1. Sholat dan ibadah yang sebenarnya adalah sholat serta ibadahnya hati, kondisi khusyu’ menghadapi kehidupan. Bila hati lalai dan tidak khusyuk, maka jasmaniahnya akan berantakan. Sehingga kalau ini terjadi, kedamaian yang didambakan akan hancur pula. Apalagi shalat jasmani hanya bisa dicapai dengan hati yang khusyuk. Kalau hati tidak khusyuk, serta tidak dapat konsentrasi pada arah yang dituju dari shalat, maka hal itu tidak bisa disebut shalat. Juga tidak akan dapat dipahami apa yang diucapkan, dan tentu apa pun yang dilakukan dengan bacaan dan gerakannya tidakakan bisa mengantarkan sampai kepada Allah.

    Urgensi ke-khusyuk-an ini berhubungan dengan inti shalat sebagai doa. Doa atau munajat, bukan sekedar permintaan hamba kepada Allah, akan tetapi berarti juga sebagai arena pertemuan. Dan tempat pertemuan itu adalah di dalam hati. Maka jika hati tertutup di dalam shalat, tidak peduli akan makna shalat rohani, shalat yang dilakukan tersebut tidak akan memberikan manfaat apa pun. Sebab semua yang dilakukan jasmaninya sangat tergantung kepada hati sebagai Dzat untuk badan. “Ingatlah bahwa dalam tubuh itu ada sekeping daging, apabila daging itu baik, baiklah seluruh tubuh itu. Dan apabila ia rusak, rusak pulalah semua tubuh itu. Daging itu adalah hati. “ (sabda Rasulullah)

    Ke-khusyuk-an hati akan membawa sholat yang menghasilkan kesehatan hati. Shalat khusyuk akan menjadi obat bagi hati yang rusak dan jahat serta berpenyakit. Maka shalat yang baik haruslah dengan hati yang sehat dan baik pula, bukan dengan hati yang rusak, yakni hati yang tidak dapat hadir kepada Allah.

    Jika shalat dari sisi jasmaniah-fisik memiliki keterbatasan dalam semua hal, baik tempat, waktu, kesucian badan, pakaian, dsb, maka shalat dari segi rohaniah tidak terbatas dan tidak dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu. Shalat secara rohaniah tidak terikat oleh ruang dan waktu. Shalat ini selalu dilakukan terus menerus sejak di dunia hingga akhirat. Masjid untuk shalat rohani terletak dalam hati. Jamaahnya terdiri dari anggota-anggota batin atau daya-daya rohaniah yang ber-dzikir dan membaca al-asma’ al-husna dalam bahasa alam rohaniah. Imam dalam shalat rohani adalah kemauan atau keinginan (niat) yang kuat. Dan kiblatnya adalah Allah. Inilah shalat tarek dan sholat daim yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar.

    Shalat yang demikian itu hanya dapat dilakukan oleh hati yang ikhlas, hati yang tidak tidur, dan hati yang tidak mati. Hati dan jiwa seperti itu kekal dan selalu beribadah atau shalat ketika jasmaninya sedang tertidur atau terjaga. Ibadah hati dilakukan sepanjang hayat, dan sepanjang hayatnya adalah untuk beribadah.

    Inilah ibadah orang yang sudah mencapai ma’rifatullah, tempat penyucian tertinggi. Di tempat itu, ia ada tanpa dirinya. Karena dirinya telah fana’, telah hilang lenyap. Ingatannya yang teguh dan suci tercurah hanya kepada Allah.

    Namun tentu saja ini berlaku setelah semua shalat-shalat fardhu dan nawafil dilaksanakan secara konsisten. Jadi, tempat suci tersebut baru bisa dijangkau setelah semua shalat syari’at itu sempurna, lalu masuk ke dalam shalat thariqat dan ma’rifat. Maka tidak bisa diartikan bahwa jika sudah berada di tingkatan ini, lalu tidak lagi melakukan shalat sama sekali. Bahkan sering dalam shalat itulah mereka mengalami fana’ dalam munajat-nya sehingga ibadah yang dilakukannya itu menyita banyak waktu. Hanya saja bentuk shalat dalam arti gerakan dan bacaan tertentu sudah tidak mengikat lagi. Shalat ditegakkan atas kemerdekaan rohani dalam menempuh laku menuju Allah.

    Pada tingkatan ini tidak ada lagi bacaan di mulut. Tidak ada lagi gerakan berdiri, ruku’, sujud, dsb. Dia telah berbincang dengan Allah sebagaimana firman-Nya “Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya Engkaulah kami memohon pertolongan” (QS Al-Fatihah/1: 5)

    Firman tersebut menunjukkan betapa tingginya kesadaran insan kamil, yakni mereka yang telah melalui beberapa tingkatan alam rasa dan pengalaman rohani sehingga tenggelam dalam lautan tauhid atau Ke-Esaan Allah dan ber”padu” dengan-Nya. Nikmat yang mereka rasakan saat itu tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hanya orang yang mengalaminya yang dapat mengalaminya yang dapat mengartikan kenikmatan tersebut. Namun mereka pun sering tidak mau mengungkapkannya. Tidak ingin membocorkan rahasia Ketuhanan yang tersimpan di dalam lubuk hatinya oleh Allah.
    Maka jelaslah bahwa shalat lima waktu yang hanya dilakukan berdasarkan ukuran formalitas, hanya sebentuk tata krama, aturan keberagamaan. Sementara shalat daim yang merupakan shalat yang sebenarnya. Yakni, kesadaran total akan kehadiran dan keberadaan Hyang Maha Agung di dalam dirinya, dan dia merasakan dirinya sirna. Sehingga semua tingkah lakunya adalah shalat. Diam, bicara, dan semua gerak tubuhnya merupakan shalat. Wudhu, membuang air besar, makan dan sebagainya adalah tindakan sembahyang. Inilah hakikat dari niat sejati dan pujian yang tiada putus. Ya, shalat yang mampu membawa pelakunya untuk menebar kekejian dan ke-mungkar-an. Mampu menghadirkan rahmatan lil ‘alamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *