psikologi puasa : antara toilet training dan pencapaian kesadaran Ruhiah

Puasa merupakan salah satu perilaku manusia yang merupakan bentuk ritualistik dalam teori stark tentang aspek aspek dari religiusitas. ritual puasa ini ada pada setiap agama. puasa merupakan bentuk ritual menahan untuk tidak makan dan minum serta menahan dorongan nafs. dalam kajian psikologi psikoanalisa disebutkan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk memperturutkan dorongan ID nya yang bersumber dari kebutuhan fisik.

kenapa ritual puasa ini penting bagi perkembangan psikis seseorang, tidak lain proses “menahan” inilah yang menempatkan puasa menduduki ritual penting. Menahan untuk tidak makan dan minum menjadikan superego lebih kuat dalam diri seseorang serta memperkuat ego agar tidak mengikuti dorongan dorongan biologis yang mengarah kepada kepuasan dan kenikmatan (pleasure principle). konstelasi kejiwaan yang demikian akan menyebabkan kehidupan psikis secara kesulurahan lebih baik (psichological well being).

Perkembangan superego sebagai kekuatan moral dan etika pertama kali dimulai proses  “menahan” yaitu pada saat si Anak mulai diajarkan “toilet trainning” dimana anak di ajarkan “menahan” dari buang air kecil dan air besar agar membuangnya ditempat yang bermoral yaitu toilet.  dari sinilah si anak mulai mengenal adanya salah dan benar, baik dan buruk, mengenal adanya etika atau tidak, bermoral atau tidak, sehingga berawal dari dasar inilah penanaman etika lainnya mulai bisa terapkan secara bertahap.

Pentingnya puasa ini menjadi sangat penting di setiap ajaran agama karena layaknya toilet training  yang menjadi dasar bagi penanaman moral dan etika yang sesuai dengan norma yang sudah dibuat atau disepakati. Islam sebagai agama samawi sangat menekankan puasa sebagai ritual “rangking 3” setelah sholat dan syahadat, bahkan islam memberikan bulan khusus yaitu bulan ramadhan dengan berbagai macam hikmah dan pahala yang menjadikan umat islam ini semangat untuk menjalankan ibadah puasa, lebih spesial lagi puasa selama 30 hari ini adalah hukumnya “wajib” yang menjadikan “mau tidak mau” harus mau untuk berpuasa. Hal ini lain dengan agama lain yang menempatkan puasa bukan sesuatu yang spesial tidak ada bulan khusus, tidak pahala khusus dan tidak mewajibkan untuk berpuasa. sungguh inilah ketinggian ajaran islam.

Proses pembentukan karakter pribadi tangguh dan sesuai moral terbentuk juga ketika seseorang menjalakan puasa tidak boleh memperturutkan keinginan nafs atau dorongan nafs. ini merupakan pelatihan toilet training bagi jiwa atau nafs. umat islam dipaksa untuk menahan segala keinginan nafs nya dampak dari ritual “puasa jiwa” ini akan membentuk karakter yang kuat dalam menguasai diri, kontrol diri dan mengarahkan diri, serta yang paling penting adalah menyadari diri.

pembentukan karakter puasa ini seharusnya dilakukan dengan penuh kerelaan penuh syukur serta kegembiraan sehingga memberikan dampak yang lebih permanen dalam jiwa. mengapa demikian, sebab otak kita jika melawan dari apa yang kita lakukan maka sebenarnya otak sedang melawan manfaat manfaat yang ada pada ritual ini, tapi jika menerima maka akan terjadi sinkronisasi antara keinginan dan perilaku.

benar saja yang di firman kan Allah dalam quran al baqoroh 183 bahwa puasa menjadikan kita menjadi umat yang bertakwa , atau  puasa membentuk karakter taqwa … takwa inilah suatu ketinggian derajat yang dipandang Allah bukan banyak ibadah, bukan banyaknya harta dan bukan banyaknya ilmu agama yang dimiliki.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *