ringkasan catatan peserta Ibu Lutfia jombang 23 mar 19′

Resume pengajaran dari Pak Pur semalam:

1. Santai Santai Saja.

Ketika kita sudah menjalankan amanah, maka berikutnya adalah Santai Santai Saja. Jangan “kemrungsung” pengen langsung tercapai tujuan.

Ibaratnya kita naik kereta ke Surabaya. Saat mau naik, kita berusaha cepat-cepat agar tidak ketinggalan kereta.

Tapi ketika sudah di dalam gerbong, maka kita Santai Santai saja. Tidak perlu terburu-buru sampai ke Surabaya.

Toh..keretanya sudah berjalan. Biarlah kereta yang melaju cepat ke Surabaya. Kita di dalam kereta tinggal santai2 saja, tahu-tahu sudah nyampe di Surabaya.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya kita sudah menyuruh anak untuk sholat. Kita berusaha dg cara sebaik mungkin. Jika anak tetap gak mau sholat.. ya jangan stres. Santai santai saja.

Berikutnya ingatkan lagi untuk sholat. Anak masih belum mau sholat, ya gpp. Santai saja. Ingatkan lagi dengan cara yang lebih baik. Kewajiban kita adalah menyuruh anak sholat. Sedangkan kesadaran untuk mau sholat, itu atas kehendak Allah.

Orang yang santai santai saja itu PASTI TIDAK STRES. Jika masih stres, berarti tidak santai santai saja.

2. Menjadi Hamba Profesional

Tidak hanya dalam hal pekerjaan kita wajib untuk profesional. Dalam menjalankan kewajiban sebagai seorang hamba Allah pun, kita wajib melakukannya dengan profesional.

Contoh, melakukan sholat dengan profesional. Lakukan sebaik mungkin, sesuai dengan syariat. Lakukan dg khusyuk, tuma’ninah. Lakukan shalat terbaik. Jangan asal-asalan, asal gugur kewajiban sholat. Jangan. Lakukan sebaik mungkin, menjadi hamba yang profesional.

3. Tidak ada jeda dari Sami’na ke Wa atho’na

Saat patrap gerak, kita mengikuti dorongan gerakan dari dalam tubuh kita. Bukan dari kehendak kita.

Langsung saja ikuti gerakannya, tanpa melalui proses berpikir.

Ikuti saja, tanpa jeda. Tidak usah berpikir. Langsung ikuti.

Itu adalah latihan menyelaraskan antara kehendak Allah dengan kehendak kita. Tanpa berpikir.

ATP (Amanah -> Tanda -> Perintah)
Kita mendapat amanah. Lalu ada tanda. Tanda ini bisa berupa ilham, atau dorongan di hati. Langsung lakukan saja. Jangan dipikir.

Sami’na. Saya dengar, langsung Wa atho’na. Saya taat, siap laksanakan.

Jadi proses dari mendapat tanda dengan melakukan perintah itu, dilakukan bersamaan, tanpa jeda.

Jika kita tunda-tunda, maka akan lupa. Dan tanda itu tidak akan datang lagi.

Misal, saat mau mandi, ada dorongan taruh kunci mobil di tas. Lakukan saja itu. Jangan ditunda.

Jika ditunda, mandi dulu misalnya. Biasanya jadi lupa. Selesai mandi dan berpakaian rapi, tinggal berangkat, bingung nyari kunci. Akhirnya terlambat ke kantor.

Begitulah jika ada jeda, menunda. Maka akan ada konsekuensi.

*

Demikian sedikit pemahaman yang saya peroleh dari pengajaran dari Pak Setiyo Purwanto, tadi malam di Jombang.
Mantaab smoga kita semua bisa sama2 menjalankannya👍👍
Alhamdulillah bu Lutfi, trmksh Rangkumannya, smg kita semua dimampukan dlm menjalankan Amanah dg gelar S3 Cumlaude 😍👍👍🙏🏻
Sae niki
Setiap ketemuan dg Pak Pur selalu ada pengajaran baru…blm sampek 1 bln di Gresik ttg sholat khusuk justru.bukan khusuknya yg sulit tinggal kesadaran penuh dan pasrah .
Yg sulit adalah sabar dan sholat
Semalem dengan 3 S, ternyata ANTI STRESS pemahamannya jangan sepotong ….tapi usaha sebelumnya musti dilakukan, analogi naik kereta diatas pas….
Alhamdulillah… Sangat bermanfaat … Trima kasih…🙏🙏🙏
🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻