Santri harus lebih hebat dari Kyainya

penghormatan yang berlebihan kepada seorang guru atau kyai menyebabkan ilmu murid tidak berkembang. Seorang murid atau santri harus berani melawan guru secara ilmu. Tentunya ilmu yang memiliki landasan yang kuat bukan sekedar ingin menang-menangan. Seperti kisah Imam syafi’i yang berani berseberangan dengan guru beliau, sehingga beliau menjadi orang yang hebat, sang gurupun merasa bangga karena berhasil mendidik muridnya yaitu Imam Syafi’i lebih hebat dari beliau gurunya.

santri atau murid saat ini jangan segan segan untuk bersebarangan dengan guru atau kyai. Ini sah dan sangat dianjurkan agar perkembangan ilmu agama ini semakin maju. kalau dulu Kyai memakai kitab kuning sekarang santrinya berani untuk beda yaitu memakai gadget yang sudah diinstal beberapa kitab. kalau dulu metodenya hanya suruh yakin dan yakin saja sekarang berani untuk berfikir logis dan berfikir analitis. Jangan mau hanya diberi amalan ini dan itu kalau tidak tahu arti dan maknanya serta dampak dari membaca amalan yang diijazahkan. jangan takut dikatakan murid yang kurang ajar jika memang murid atau santri memiliki pedoman yang kuat. saya yakin kyai atau guru yang cerdas pasti sangat menghargai muridnya yang berpikiran maju dan lebih cerdas dari diri beliau.

kalau semua santri di Indonesia ini lebih hebat dari kyainya yang punya pondok pesantren pasti islam indonesia akan maju, tapi kalau santri tidak mau lebih pandai, lebih cerdas dan lebih modern dari kyai atau gurunya maka islam akan jalan ditempat.

islam harus berubah tidak boleh stagnan. jujur saya saja berani berbeda dengan guru saya yaitu Ust Abu sangkan, saya berani berbeda tentang dzikir nafas karena memang saya melihat teknik sangat cepat untuk mendidik tauhid secara praktek. Dan inilah keberhasilan beliau dalam mendidik saya selama 12 tahun … bisa mencetak saya menjadi penyebar dzikir nafas (menurut saya).

baik saya akan menularkan apa yang sudah saya lakukan ini kepada semua yang saat ini sedang nyantri, yang sedang berguru bahwa berguru itu agar lebih baik dari gurunya harus lebih hebat dari pada kyainya. jangan sampai kita sama dengan guru kita. Murid harus memiliki produk yang terdeferensiasi dengan gurunya. Kalau gurunya master of trainer shalat khusyu masak muridnya juga trainer shalat khusyu… ya harus jadi master trainer yang lain …

orang tua pasti tidak ingin anaknya seperti dirinya , tapi orang tua pasti ingin agar anaknya lebih baik dari orang tuanya.

jangan terlalu berkiblat kepada orang orang dulu, berkiblatlah kepada masa depan. masa lalu jaya di masa lalu. Kitab kitab jaman dulu mestinya jaya di masa lalu. untuk sekarang ya kitab kitab sekarang yang mestinya di gunakan. kalau terlalu berkiblat ke pada kitab kitab masa lalu maka tidak akan matching dengan keadaan sekarang. karena kitab kitab tersebut merupakan terjemahan dan tafsiran dari quran dan hadis yang matching dengan masa lalu. untuk masa sekarang ya kita harus menggunakan kitab karya ulama yang sekarang. kalau quran dan hadisnya tetap tapi untuk kitab tafsiran dari keduanya harus mengacu kepada ulama ulama sekarang.

Kebanyakan pondok pesantren masih menggunakan kitab lama, ratusan tahun yang lalu, sekarang bagaimana dapat mendidik santri untuk bisa menghadapi permasalahan saat ini? tentunya akan lebih efektif jika mengacu kepada kitab saat ini. banyak sekali karya karya ulama saat ini yang patut untuk digunakan. Dengan kitab yang mutahir ini pasti santri nya akan mampu menghadapi dunia yang sekarang.

maka kalau mau nyantri carilah pondok pesantren yang mengacu pada asas modernitas dan kekiniaan, jangan yang tradisional sebab nanti kalau santri lulus akan sulit beradaptasi dengan dunianya nanti.

kalau kyainya tradisional ya ndak papa .. tapi santri . harus modern. santri harus berbeda dengan kyainya. jangan mecontoh dengan taklid buta sebagai seorang santri harus sadar ini.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *