sebuah keteguhan dari Mbah maridjan

merapi tak dapat mengalahkan keteguhan jiwa mbah Maridjan, meski jasad beliau terkalahkan oleh “wedhus gembel” awan panas dari gunung merapi namun jasad itu bukanlah mbah maridjan. mbah maridjan bukanlah jasad sehingga boleh saja kalah dengan Merapi tapi jiwa mbah maridjan tetap menjadi Jiwa yang memenangkan yaitu keteguhannya, hingga akhirnya beliau sujud yang diikuti oleh jasad yang terbakar … kemenangan itu adalah kesujudan beliau kepada yang Maha Kuasa Allah Ta’ala. Jiwa beliau menjadi kuat tat kala beliau bersujud berserah diri kepada Allah…. benar kata beliau “.. umur ada di tangan Tuhan..”

keteguhan jiwa yang bagi sebagian orang dianggap “tidak waras” dianggap “ngeyel” jelas jelas gunung merapi akan meletus masih saja berada di atas gunung. tidak waras nya mbah Maridjan adalah tidak warasnya orang yang mempertahankan keteguhan dan kepasrahannya kepada Allah… mungkin mbah Maridjan pun menganggap kita ini juga tidak waras karena kurang yakinnya kita kepada Allah… kenapa takut kepada merapi …. kalau sudah berasama Allah kenapa harus turun dari gunung?…..

sebuah keteguhan jiwa yang harus kita contoh…. orang beriman seharusnya seperti mbah maridjan… nekat tapi dengan Iman yang kuat, lihat saja jasad mbah maridjan yang meninggal dengan posisi sujud tatkala hawa panas gunung merapi menghampirinya.. sebuah kerelaan diri untuk dipanggil sang maha kuasa ketika kepasrahan diri menjadi prinsip hidup “kenapa takut dengan wedhus gembel (hawa panas)”

 

juru kunci gunung merapi
mbah maridjan

 

foto mbah maridjan ketika ditemukan meninggal dunia
mbah maridjan bersujud

mari kita doakanbeliau sang maestro gunung merapi… al fatihah….