Seminar LGBT : Terapi Psikospiritual sebagai model penyembuhan LGBT

Terapi Psikospiritual ala Nabi Yusuf untuk Pengelolaan Dorongan Seksual. Oleh: Setiyo Purwanto, S.Psi .Msi

12828541_10205761853341710_2555822578359247413_o

disampaikan dalam seminar : LGBT pencegahan dan penanganannya .  di Faukultas Psikologi UGM 12 maret 2016

Psikologi transpersonal merupakan model dari spektrum perkembangan kesadaran yang menjadi jembatan antara aliran psikologi dan aliran spiritual, sehingga menjadi sesuatu yang menarik terutama bagi orang-orang yang ingin menumbuhkan spiritualitasnya dan mengembangkan kesehatan psikologisnya dengan kualitas yang lebih tinggi. Salah satu teknik yang dikembangkan dari pendekatan transpersonal adalah terapi psikospiritual

Terapi psikospiritual adalah terapi yang berlandaskan prinsip prinsip spiritual yaitu dengan mengandalkan kekuatan di luar diri manusia. Terapi psikospiritual ala nabi Yusuf ini mengambil hikmah dari kisah Nabi Yusuf yang mampu mengendalikan syahwatnya dengan cara yang sederhana dan berdampak sangat cepat. Caranya yang sederhana dan mudah ini lah yang mungkin bisa menjadi pelajaran untuk menangani kasus kasus yang terkait dengan dorongan seksual.  Kasus LGBT (lesbian gay biseks dan transgender) yang sekarang marak dibiarakan  tentunya memerlukan bentuk atau alternatif terapi yang bisa menjadi rujukan penyelesaian.

Hikmah dari Kisah Nabi Yusuf yang dapat kita ambil pelajaran adalah sewaktu Nabi Yusuf berada di kamar bersama Siti Zulaekha. Kisah singkat dari peristiwa itu dapat memberikan gambaran bagaimana mengendalikan dorongan syahwat pada diri Nabi Yusuf. Ketika Nabi Yusuf berada satu kamar dengan Siti Zulaekha, yang sebenarnya Nabi Yusufpun sangat tertarik dengan kecantikan Siti zulaekha dan secara syahwat juga ingin berbuat seperti yang Siti Zulaekha inginkan (QS Yusuf 24). Namun Nabi Yusuf sangat sadar tentang dirinya yang berbuat salah, dan dia bertekad untuk tidak memperturutkan hawa nafsunya bersama Siti Zulaekha (QS Yusuf 53). Kesadaran inilah yang akhirnya membawa Nabi Yusuf bisa selamat dari bujukan Siti zulaikha dan ajakan nafs nya selalu mengarah pada keinginan untuk memperturutkan syahwat.

Jika kita telaah lebih dalam dari kisah Nabi Yusuf dan Siti Zulaikha ada hikmah menarik terkait dengan pengendalian dorongan seksual. Ada suatu keinginan dari Nabi Yusuf untuk berhubungan seks dengan Siti zulaikha dan kesempatanpun ada, namun Nabi Yusuf mampu terhindar dari dorongan seks yang kuat tersebut. Ternyata dorongan seks yang besar dapat terkalahkan dengan suatu kesadaran yang kuat bahwa ini adalah “salah” dan Nabi Yusuf mengakui bahwa dia tidak berdaya dengan nafsu yang selalu mengajak kepada kemaksiatan, hanya dengan rahmat Allah lah diri Nabi Yusuf dapat terhindar syahwat tersebut.  Solusi menarik yang dicontohkan Nabi Yusuf ini hendaknya menjadi pelajaran berharga sebagai model bagaimana bisa mengatasi dorongan seksual yang bergejolak.

3 Tahapan Psikoterapi ala Nabi Yusuf

Model terapi ini mendasarkan pada surat Yusuf ayat 53 yang isinya :

Dan Aku tidak membebaskan nafsku, Karena Sesungguhnya nafs itu selalu membawa kepada kejahatan, kecuali nafs yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.”

Dari ayat tersebut di atas mengandung 3 tahapan yang dapat membebaskan seseorang dari dorongan seks yang tidak pada tempatnya. Ketiga tahapan sebagai berikut:

  1. Kesadaran (Spiritual Conscious Therapy)

Dan Aku tidak membebaskan nafsku, Karena Sesungguhnya nafs itu selalu membawa kepada kejahatan…” pada potongan ayat ini Nabi Yusuf benar-benar sadar akan nafs yang mendorong dia untuk mengikuti hawa nafsu yang berupa syahwat yaitu untuk berhubungan seks dengan Siti Zulaikha. Kesadaran ini menunjukkan bahwa memang Nabi Yusuf pun tidak kuasa dengan nafs nya yang begitu kuat condongnya ke syahwat. Kesadaran Nabi Yusuf merupakan hikmah pertama yang dapat kita gunakan untuk menjadi dasar menyadarkan seseorang bahwa yang mendorong untuk berbuat tidak baik itu adalah nafs amarah yang ada kecenderungan kuat untuk ke syahwat. Diri yang sadar bukanlah nafs. Maka pemahaman mengenai yang  sadar ini penting di berikan kepada penderita LGBT. Dengan keterpisahan ini yaitu antara yang sadar dan yang menodorong ke arah syahwat ini akan menjadi langkah awal untuk terbebas dari dorongan seks yang tidak wajar. Pada tahap awal ini merupakan terapi kesadaran.

Terapi kesadaran ini fokus pada dorongannya bukan pada perilakunya. Kesadaran akan dorongan seks yang sangat besar ini akan membantu pelaku penyimpangan seksual untuk melepaskan dari dorongan menyimpang yang muncul. Pelepasan dan pembebasan dorongan menyimpang dilakukan secara internal sehingga individu lebih terjaga dan lebih efektif. Akar permasalahan yang menjadi filosofi terapi ini adalah bahwa penyimpangan seks bukan lah pelarian dari ketidakmampuan berhubungan seks yang sewajarnya, tapi lebih disebabkan oleh ketidakmampuan individu untuk mengelola dan mengendalikan dorongan seks menyimpang yang muncul.

Terapi kesadaran ini juga dapat menetralkan emosi negatif yang disebabkan oleh pengalaman masa lalu yang tersimpan di bawah sadar. Teknik kesadaran memberikan kesempatan kepada gejolak pikiran yang merupakan penyebab terjadinya penyimpangan seksual yaitu dengan menerima bahwa ini peristiwa masa lalu sebagai sebuah takdir Allah SWT. Pemunculan memori  bawah sadar akan memberikan suatu netralisasi agar pengaruhnya tidak sampai menjadikan perilaku menyimpang.

 

  1. Pasrah kepada Allah (Surrender Relaxation)

“…..kecuali nafs yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.” Uniknya dari kisah Nabi Yusuf ini adalah bahwa Nabi Yusuf tidak menahan dorongan seks, dan Beliau juga tidak mengikuti dorongan tersebut. Yang dilakukan Nabi Yusuf adalah memasrahkan Nafs yang amarah ini agar nafs diberi rahmat Allah sehingga bisa menjadi nafs yang lebih tenang yaitu nafs muthaminah (Al-Fajr 27-30). Maka Nabi Yusuf pun ketika berhadapan Siti zulaikha di dalam satu kamar, Beliau tetap pasrah dan berdoa kepada Allah agar nafs mendapatkan rahmat dari Allah, harapannya adalah agar nafs yang amarah (mengikuti syahwat) berubah menjadi nafs yang muthmainah (tenang, tidak ada dorongan seks)

Terapi ke dua ini bisa dilakukan teknik relaksasi religius dimana penderita LGBT diberikan ketrampilan relaksasi yang di modifikasi dengan kepasrahan kepada Allah SWT. Hasil latihan ini selain dapat mengurangi gejolak dorongan seks yang menyimpang juga dapat membantu penderita untuk menggunakannya ketika gejolak muncul. Nafsu syahwat yang sedang bergejolak dapat di counter dengan teknik relaksasi.

Proses relakasi meditatif ini dapat mengurangi kecemasan (kabat-Zinn et al, 1992), Penyimpangan seksual merupakan simtom kecemasan yang dihasilkan dari pengalaman masa lalu yang tersimpan di pikiran bawah sadar. Hal ini ditunjukkan dengan perilaku obsesi kompulsif yang ada pada penderita penyimpangan seksual. Maka dengan pengurangan kecemasan ini diharapkan dapat mengurangi dorongan seksual yang muncul, dan dengan berkurangnya dorongan seksual ini akan mengurangi pula frekwensi terjadi perilaku seks yang menyimpang.

Penyimpangan seksual dapat pula di diskripsikan sebagai cara mengatasi masalah dengan mood yang rendah, mengatasi rasa kesepian, membenci diri sendiri dan kehampaan akan makna hidup(Chandiramani, 1995). Dengan memasrahkan diri kepada Allah dengan penuh kesadaran maka keadaan keadaan psikis yang demikian dapat dikurangi bahkan dapat diatasi.  Salah satu cara untuk melakukan relaksasi-pasrah ini adalah dengan dzikir nafas, dengan metode dzikir nafas selain memberikan kesadaran spiritual juga bisa mengurangai perasaan cemas (Purwanto, 2013)

  1. Spiritual Self Hypnosis

Hipnoterapi merupakan teknik yang umum digunakan untuk mengurangi kecanduan seperti merokok, narkoba dan Seks. Spiritual Self hypnosis digunakan dalam model terapi ini yaitu ketika kepasrahan dimunculkan dan proses relaks sudah terjadi maka kalimat kalimat sugesti dapat dimasukkan. Unsur spiritual dalam self hypnosis ini dapat dilakukan dengan menyerahkan kesembuhan kepada Allah SWT. Pada kisah Nabi Yusuf terdapat teknik Spiritual Self hypnosis yaitu ketika Beliau memanjatkan doa kepada Allah saat berduaan dengan Siti Zulaikha. “Dan Aku tidak membebaskan nafsku, Karena Sesungguhnya nafs itu selalu membawa kepada kejahatan, kecuali nafs yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.”

Kalimat hypnosis yang pertama adalah  “dan aku tidak akan membebaskan Nafs…” kalimat ini menegaskan bahwa Nabi Yusuf tidak akan mengikuti dorongan seks nya yang tertarik dengan Siti zulaekha. Penegasan ini penting agar pikiran perasaan dan tubuh bersatu untuk tidak berbuat seperti yang diinginkan Siti zulaekha. Penanaman sugesti ini penting bagi penderita LGBT yang ingin membebaskan diri penyimpangan ini. Selama dirinya tidak bersedia untuk sembuh, selama dia menganggap bahwa perilaku seks menyimpangnya adalah suatu kewajaran maka dengan terapi apapun tidak akan bisa sembuh.

Kemudian sugesti berikutnya adalah pengakuan bahwa hanya dengan rahmat Allah nafs amarah berubah menjadi nafs muthmainah, serta pengakuan bahwa Allah maha pengampun dan penyayang. Jika kalimat ini menjadi materi self sugestion maka akan dapat merubah content bawah sadar terutama hal hal yang dapat memicu munculnya perilaku LGBT.

Terapi terhadap LGBT dengan metode Psikospiritual ini dapat dilakukan melalui 2 hal yaitu konseling untuk menumbuhkan kesadarannya dan terapi untuk memberikan training relaksasi dan self sugestion. Sebaiknya model bukan konseling yang hanya 1 atau 2 kali saja tapi dalam bentuk pendampingan karena masalah LGBT bukan masalah individual tapi kelompok. Sikap empatik tentu saja memberikan peranan penting dalam proses penyembuhan. Sikap judgment dan pemaksaan akan menjadikan terapi yang dilakukan sia sia sebab pada dasarnya kesembuhan bukan dari terapis tetapi dari kesadaran klien untuk sembuh.

Daftar Pustaka

Chandiramani K , 2008, A Role for Mindfulness Meditation in the Management of Sexual Addictions,  The Royal College of Psychiatrists

Chandiramani K, Verma, SK, Agarwal N, and Yadav D (1995) Treating Anxiety and Depressive Disorders through Vipassana in Prison set-up: A Preliminary Report, Indian Journal of Psychiatry, 37 (2) Supp, Page 34

Purwanto, Setiyo., 2013. Dzikir Nafas. Daromes aisy

Kabat-Zinn J, Massion AO, Kristeller J, Peterson LG, Fletcher K, Pbert L, Linderking W and Santorelli SF (1992) Effectiveness of a meditation based stress reduction programme in the treatment of anxiety disorders, American Journal of Psychiatry, 149, 936-943.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *