Spiritual Parenting dengan Dzikir Nafas

Spiritual Parenting dengan Dzikir Nafas

pendidikan spiritual yang jarang diterapkan adalah prinsip rasulullan: ridlo Allah tergantung ridlo orang tua. Nah hadis ini kebanyakan dari kita menerapkannya bahwa anak harus berbakti kepada orang tua, padahal kalau kita balik, bahwa orang tualah yang harus meridloi anak, nanti anak akan diridloi Allah SWT. Model pendidikan seperti ini sangat jarang. sekarang mari kita praktekan sikap meridloi ini untuk anak anak kita. Anak kita baik kita ridloi anak kita nakal juga kita ridloi. Ridlo ini berbeda dengan masa bodoh, ridlo ini adalah menerima dengan tulus ihlas atas semua perilaku anak. mungkin masih bingung dengan model pendidikan ini, masa’ anak nakal kita ridloi? tapi benar … beberapa orang tua yang anaknya banyak berulah saya sarankan orang tuanya untuk meridloi anak dan ajaib, anak bisa sadar dengan sendirinya. cara ini memerlukan kekuatan spiritual dari orang tua. saya ragu memberikan cara ini kepada orang yang spiritualnya lemah. sebab prinsip pendidikan ini adalah spiritual, dimana anak adalah amanah Allah SWT. orang tua harus menghormati amanah dari Allah. Model dzikir nafas dapat digunakan orang tua untuk bisa menerima anak dan meridloi anak, karena dalam dzikir nafas terdapat sikap menerima yaitu mengikuti nafas. latihan dzikir nafas tingkat 1 ini dapat membuat orang tua bisa memiliki sikap menerima, tinggal nanti sikap menerima ini di terapkan untuk anak anak. insya Allah dalam pelatihan tanggal 22 september akan saya bahas sedikit tentang model pendidikan spiritual anak ini. jika saya lupa tolong diingatkan. sampai ketemu di jakarta untuk bersama sama belajar KeTuhanan melalui dzikir nafas.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 thoughts on “Spiritual Parenting dengan Dzikir Nafas

  1. Saya setuju bila SP (Spiritual parenting) ini diberikan kepada orang yang spiritualnya sudah kuat, artinya tingkat iman dan taqwanya sudah mantab. Saya sendiri mengalami dengan anak sulung saya yang karena faktor psikis pilih tidak melanjutkan TA nya… bagi umumnya orang akan menyayangkan hal ini dan pasti akan berusaha membujuk dengan cara-cara bagaimanapun (ikhtiar ini boleh saja dilakukan, sebagai sunatullah). Dengan penuh kesadaran dan keyakinan saya akhirnya pilih meridloi dan menerima dengan ikhlas dan berserah… ini sangat ringan dihati dan lebih nyaman…. Akhirnya anak lebih kreatif untuk beraktifitas (mencari kerjaan)…. semoga Allah selalu membimbing para orang tua yang meridhoi anak-anaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *