SQ EQ dan IQ modal pengembangan karakter

Pendidikan spiritual jarang menjadi pijakan utama dari sekolah. Sekolah sekolah yang berbasis islam pun yang dikenal dengan IT ( Islam terpadu) entah itu sd smp atau sma, masih banyak yang berkutat pada ranah motorik misalnya doa hanya di nyayikan, agama hanya sekedar pengetahuan paling mentok sisi emosi yang mana dikembangkan dengan misalnya pergi ke panti asuhan, ke lembaga yang merawat orang orang cacat. Sisi spiritual jarang disentuh.

Ya bicara spiritual adalah bicara tentang bagaimana membangun sebuah kesadaran akan Tuhan dalam diri anak didik. Anak tidak hanya disuruh hafal juz amma tapi juga tahu artinya, tahu maknanya dan tahu apa perintah Allah dibalik ayat yang dibaca. yang terakhir inilah yang maksud dengan pendidikan spiritual. ..ya masih jarangkan… sekolah lebih bangga dengan anak didiknya yang hafal sekian surat, lulus sd hafal juz 30 tapi anak tidak paham sekali dengan ayat yang dibaca. Terus untuk apa … apa yang di dapat ? apa hanya sekedar untuk bangga banggan… guru bangga dengan anak didiknya karena hafal, orang tua merasa anaknya pintar dan pandai karena hafal (padahal cuma hafal) , dan si murid pun tak kalah bangga yaitu dengan hafal juz 30 meski dia dijadikan seperti MP3 …

kalau pendidikan masih seperti itu tidak akan ada perubahan ahlak secara signifikan. maka saran saya pengembangan spiritual mutlak diberikan kepada anak didik sedini mungkin yaitu dipahamkan akan perintah Allah dalam setiap ayat yang di hafal dan di baca. test kelulusan kalau perlu sekalian dengan pemahamanya akan perintah Allah dari setiap ayat yang dibacanya.

ya sekali lagi kalau spiritual anak terbangun maka otomatis emosi dan kognisi (intelektualnya akan terbangun juga) sehingga anak akan menjadi anak yang kreatif serta inovatif. tidak hanya menang lomba olimpiade… lomba kecerdasan lainnya…

3 thoughts on “SQ EQ dan IQ modal pengembangan karakter

  1. Masih banyak pemahaman dalam praktek pendidikan kita, lebih mengutamakan salah satu dari ketiga aspek pundamental pengembangan manusia (IQ, EQ dan SQ), bukan pada keterpaduan antara ketiganya. Kelemahan pada salah satunnya apalagi ketiadaannya menjadikan sistem pendidikan kita tidak berdaya bahkan tidak menghasilkan apapun dari pembentukan manusia, Apalagi melahirkan manusia cerdas seperti yang diharapkan. Manusia cerdas adalah manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsunya, dan berbuat untuk bekal hidup setelah mati. Hal inilah yang menjadikan saya tertarik dengan pendekatan sadar Allah, melalui dzikir nafas, kendatipun saya baru bisa membaca buku dzikir nafas karya pa ustd setyo dan menyimak tulisan-tulisan beliau. Dengan sadar Allah, seseorang “kemungkinan” bisa mengendalikan nafsunya dan berbekal untuk hidup setelah mati. Terimakasih pa ustad.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *