urusan dunia dan akhirat dalam sholat

urusan duniawi diapit oleh dua urusan akhirat. jadi untuk mencari duniawi harus diawali dan diakhiri oleh urusan akhirat. dalam sholat setiap rekaat ada 2 kali sujud yang mengapit iftirasy.
sujud merupakan aktivitas meninggalkan duniawi sedangkan iftirasy merupakan aktivitas duniawi artinya doa di duduk iftirasy adalah full mencari penylesaian duniawi.
ringkasnya begini, ketika kita bergerak dari itidal ke sujud maka sujud pertama ini adalah meniadakan semua ikatan duniawi baik itu harta, keluarga, dan lain sebagainya sehingga kita bisa mencapai keadaan zero. setelah sujud kita duduk iftirasy pada duduk ini semua hal hal keduniaaan ada di sini, maka afirmasikan dengan benar benar mengafirmasi doa yang kita panjatkan bahwa Allah “telah mengabulkan apa yang kita minta dalam duduk iftirasy”, setelah urusan dunia ini selesai maka sujudlah kembali dengan meniadakan dan melupakan apa apa yang kita minta pada duduk iftirasy.
hasil dari 2 kali sujud dan 1 kali iftrasy adalah kita kaya, kita bahagia, kita sehat, kita bersih suci, kita disayang Allah dengan tetap tidak terikat oleh kekayaan kita, tidak terikat oleh kebahagiaan kita, dan tidak terikat oleh apa apa selain Allah.
semoga Allah memudahkan
amin

Arti memperhatikan akhirat

sebenarnya yang ke akhirat itu adalah kesadaran kita. karena kesadaran tertinggi memang asalnya akan kembali kepada Allah. Namun badan ini adalah aslinya berasal dari dunia sehingga dia harus aktif di dunia. bekerja kita siang malam namun kesadaran akhirat kita juga siang malam. Artinya begini kita menjaga kesadaran akhirat kita siang malam, sedangkan kita beraktivitas duniawi juga siang malam.

dunia dan akhirat adalah sesuatu yang berbeda. Dunia itu adalah tubuh kita dan akhirat adalah kesadaran. jangan sampai kita menyatukan antara dunia dan akhirat. Kesalahan orang belajar tasawuf adalah menyatukan antara dunia dan akhirat. menyatukan tubuh dan kesadaran. Kalau dua hal ini disatukan maka  orang tersebut akan meninggalkan dunia baik tubuhnya dan kesadarannya. dan bagi orang yang ekstrem mencari dunia maka kesadaran dan tubuhnya juga akan di dunia.

jadilah hidup kita di dua alam. yaitu alam akhirat dan alam dunia. mengembalikan kesadaran kepada akhirat seperti mengembalikan seekor ikan ke air, membiarkan tubuh itu ke tanah seperti melepas cacing yang fitrahnya memang hidup di tanah. jika demikian yang kita lakukan maka hidup kita akan bahagia dunia dan akhirat.

siapa bilang hidup di dunia sengsara hidup di akhirat bahagia? tidak bisa dipastikan, jika di dunia sengsara di akhirat bahagia, justru jika dunia sengsara sudah bisa dipastikan akhiratnyapun tidak bahagia.

Sekarang bagaimana memperhatikan akhirat… ikuti sesi berikutnya tulisan ini …..

meninggalkan dimensi dunia

kekahawatiran kita yang paling utama untuk meninggalkan dunia menuju ke Allah adalah karena kelemahan iman kita tidak berani mengandalkan Allah dalam segala hal, kita takut ke Allah karena masih memikirkan anak saya bagaimana, istri saya bagaimana, harta saya, masa depan saya, keturunan saya, keluarga saya dll…
coba seandainya kita berani mengandalkan Allah dalam segala hal, pasti kita ihlas untuk menuju ke Allah dan jalan menuju ke sana pun terasa tidak ada hambatan…
menuju ke Allah konsekwensinya adalah kita meninggalkan dimensi dunia… artinya bahwa secara kejiwaan kita sudah tidak di dunia lagi. ingat bahwa kita ini ada dua dimensi, dimensi yang pertama adalah dimensi raga (dunia) yang kedua adalah dimensi jiwa (kesadaran, Ruh, akhirat) nah dimensi dimensi ini harus aktif kedua duanya…. dimensi raga harus aktiv bekerja, harus aktif mempertahankan kehidupan “dunia”nya sedangkan dimensi kesadaran harus aktif juga yaitu aktif untuk ke Allah, sibuk dengan Allah, dan selalu sibuk menyadari adanya Allah.
meninggalkan dimensi dunia mengandung pengertian aktif nya 2 dimensi…. bukan hanya kesadarannya saja namun juga aktifitas dunianya.

anak bukan investasi tapi amanah dari Allah

anggapan bahwa anak adalah investasi sebenarnya kurang tepat, sebab kita mendidik anak kita bukan untuk mencari keuntungan…. kalau kita mengatakan bahwa anak adalah investasi dunia akhirat apakah kita terus mencari untung bahwa dengan mendidik anak kita akan mencari untung dunia dan akhirat? tentunya tidak. kita mendidik dan mengasuh anak kita karena anak adalah AMANAH dari Allah yang harus kita jalankan dengan penuh keihlasan tidak mengharapkan balasan sedikitpun dari anak kita …

beban mendidika akan lebih berat jika kita mendidik anak karena imbalan, karena investasi, sebab kita terbebani oleh target bahwa anak kita harus membalas kita di dunia …. coba kita bandingkan dengan kita mendidik anak karena Amanah dari Allah maka kesungguhan dan keihlasan kita akan lebih dan kita mendidik merasa bahagia dan tidak terbebani.

bersyukurlah untuk menyongsong masa depan

jangan lihat kebelakang, jangan lihat sekarang, tapi tataplah masa depan, 1 detik kedepan, 1 menit kedepan, 1 jam kedepan, 1 tahun kedepan, 10 tahun kedepan. hadapilah masa depan dengan bersyukur. karena sebenarnya waktu adalah ilusi , waktu itu hanya pengaruh kita di bumi saja…. alam hakiki adalah tidak ada waktu…. waktu tidak berjalan…..
kemarin adalah sekarang, sekarang adalah sekarang, dan masa depan adalah sekarang. kata orang barat : here and now….. disini dan saat ini. maka bersyukur adalah saat ini untuk kemarin, dan masa depan, dan juga sekarang.
sekarang dan sekarang dan sekarang.
masa depan kita tentukan saat ini. dengan bersyukur kepada Allah (bukan pada pemberian Allah) akan membentuk citra positif tentang kehidupan kita di masa depan. orang hidup harus pada level beruntung yaitu masa depan lebih baik dari masa sekarang, jangan menjadi orang yang merugi yaitu masa depan sama saja dengan masa sekarng atau malah orang yang celaka yaitu masa depan lebih buruk dari masa sekarang.
selamat bersyukur…. jadilah orang sukses dunia akhirat