Memperhatikan akhirat (2) Melihat yang tidak ada

kemampuan kita melihat yang tidak ada akan membawa ktia pada suatu kesadaran hakiki ke Tuhanan. kalau kita melihat yang masih ada dalam pikiran kita maka kita harus banyak belajar lagi tentang hal ini. Tidak mudah dan tidak sulit untuk melakukan ” melihat yang tidak ada”, hanya memerlukan kesadaran dan frekwensi penggunaan yang sering saja. JIka kita sering melakukan “melihat yang tidak ada” maka kita sebenarnya sudah berada di akhirat.

inilah kelanjutan dari sesi sebelumnya tentang memperhatikan akhirat.

praktisnya begini. ketika kita beraktifitas apapun aktivitas itu, kemanakahkesadaran kita?. atau begini jika kita rukuk kita hormat kepada “siapa yang seperti apa”. Nah kalau kita masih hormat kepada “siapa” yang masih ada dalam pikiran kita maka itu belum “melihat yang tidak ada”.

Yang kita lakukan sebenarnya adalah menghormat saja, tidak perlu mewujudkan Dzat Allah. sekali lagi kita hanya menghormat titik.

menjelang tidur

pernahkah anda merasakan ruh kita melihat jasad kita ketika tidur, jika anda ingin merasakannnya lakukan latihan berikut.

ketika menjelang tidur , perhatikan nafas anda yang keluar masuk dengan sendirinya (ada kehendak Allah), perhatikan dengan santai dan relaks kemudian setelah memperhatikan itu, ikutilah keluar masuknya nafas, anggap saja anda berlatih mengikuti kehendak allah pada nafas anda. lakukan ini beberapa saat. lalu iringilah nafas anda tadi dengan dzikir nafas , ketika keluar nafas dzikirlah dalam hati (tidak perlu diucapkan dengan bibir) dengan Allah… dan ketika masuknya nafas dzikirlah dalam hati dengan Huu yang artinya adalah dia allah.

jalankan dzikir nafas tersebut dengan kesadaran mengingat Allah, dan lakukan terus hingga tubuh anda tertidur dan diri anda tetap dzikir.

keadaan ini memungkinkan anda untuk tidur dengan tetap berdzikir , dan anda akan melihat tubuh anda tidur di saat lain anda tetap berdzikir… subhanallah….

ramadhan hari ke 19 : mewakilkan Allah

bertawakal kepada Allah artinya menyerahkan urusan semua kepada Allah, sama artinya dengan mewakilkan atau mempercayakan kepada Allah segala urusan kepada Allah. apakah Allah bisa dipercaya? ya kalau nggak percaya mari kita buktikan. cara membuktikannya sangat sederhana… ketika kita lapar puasa dan lemas padahal kita harus melakukan banyak hal yang membutuhkan energi banyak kita dapat mewakilkan kepada Allah, yaitu dengan menyambungkan hati kepada Allah kemudian kita NOL kan kekuatan kita dan selanjutnya berdoa mohon kekuatan yang dimiliki Allah, Allah yang maha kuat kita minta kekuatan-Nya untuk kita gunakan beraktivitas. kekuatan Allah yang maha dahsyat kita minta kekuatan sedikit untuk menyelesaikan tugas tugas kita. dengan cara  seperti ini kita seperti teraliri energi Ilahi yang sangat kuat sehingga kita mampu menyelesaikan tugas kita. ingat kuncinya adalah bukan kekuatan kita tapi kekuatan Allah. kalau kita mengandalkan kekuatan kita lagi maka biasanya akan hilang itu aliran energi dan kita menjadi lemas lagi.

maksiat tidak dapat menghijab

yang membuat kita terhijab adalah keyakinan kita bahwa allah terhijab jika kita maksiat. maksiat sendiri tidak dapat menghijab kita dengan Allah. jadi persepsi tentang allah yang menghijab kita dengan Allah. kemudian allah juga tidak menghijab Diri Nya kepada makhluk yang namanya manusia, karena Allah sudah membukakan diri Nya daengan Firmannya “bahwa allah dekat, bahwa Allah lebih dekat dari urat leher.

dalam konteks perbuatan maksiat tidak dapat membuat kita terhijab… jika maksiat saja tidak dapat membuat kita terhijab berarti Allah begitu sangat terbukanya begitu allah sangat dekatnya, begitu Allah sangat rahman rahiim nya Allah sangat maha pengampunnya.

ingat, jangan sampai anda mempersepsikan tulisan saya ini, saya tidak memotivasi untuk berbuat maksiat, tapi jika sudah terlanjur maka Allah tetap dekat dan tetap terbuka dengan kita tidak terhijab.

jangan menutup sendiri (menghijab sendiri)kita dengan Allah, dengan persepsi bahwa maksiat kita dapat menghijab kita dengan Allah, tetaplah berpersepsi bahwa Allah tetap terbuka, jangan melihat maksiat kita, namun lihatlah bahwa Allah tidak menghijab diri Nya dengan maksiat kita.

kalaupun kita terlanjur berbuat maksiat maka tetaplah mendekat kepada Allah, dan tetaplah sadar bahwa Allah meliputi kita, bahwa Allah sangat dekat dengan kita.

kenikmatan terbang menuju ke Allah

ketika kita memiliki pengalaman yang membahagiakan, maka kita ingin rasa bahagia atau pengalaman itu ingin kita ulang lagi. misalnya kita merasa bahagia di  suatu tempat kemudian kit lama tidak ke sana maka kita ingin sekali untuk bisa ke sana. saya pun merasakan demikia n. tapi setelah saya gunakan untuk berselancar menuju kepada Allah ternyata ada yang lebih nikmat dari pengalaman saya kesuatu tempat tadi.

terbang menuju ke Allah. mungkin bahasa yang agak aneh, tapi memang demikian saya susah untuk mencari padanan kata yang pas untuk terbang bersama Allah.

terbang bersama Allah , fly, ternyata bahagia nya tak tertandingi dan kelebihannya 1. tidak perlu biaya, 2. tidak harus kemana mana, 3. dan langsung bisa dilakukan.

bagi jamaah patrap terbang bersama Allah sering dilakukan, namun apakah ketika menginginkan bahagia secara instan sudah di laksanakan?, saya yakin bagi yang terbiasa dengan patrap lebih mudah untuk melakukannya. bagi yang belum tentunya solat atau dzikir bisa digunakan untuk terbang bersama Allah.

pergolakan hati untuk memilih Allah

hidup ini ada 2 pilihan utama yaitu : memilih Allah atau tidak memilih Allah. dua dua nya membawa konsekwensi yang tidak ringan. jangan dikira memlih Allah itu ringan…. lintasan pikiran selalu mengarahkan kita untuk tidak ke Allah, coba kita lihat saja seberapa kuat kita menuju ke Allah… jika belum terlatih dan tidak niat yang kuat pasti kita akan mudah dibelokkan, ya dibelokkan ke selain Allah. contoh konkrit ketika kita sakit…. kemudian kita mohon kesembuhan ke Allah “ya Allah sembuhkan sakit ku” ….. kita terdiam dalam doa….. setelah doa selesai maka secara tidak sadar pikiran kita mulai bermain yaitu “cepet minum obat biar lekas sembuh….., ayo kedokter biar dokter nanti yang nyembuhkan….. pakai jamu saja nanti kan sembuh…. dipijat saja nanti kan sembuh, dan setersunya…..  pada saat yang demikian dimanakah Allah? dimana peran Allah…. Allah telah tergantikan oleh obat, olah dokter, oleh tukang pijat…..kemana doa kita tadi yang mengandalkan Allah…. ehhhh masih berkelit…. iya tapi kan Allah menyembuhkan lewat obat, lewat dokter, lewat tukang pijat……,,,, ok ok…. kita telaah lagi dengan jujur…. adakah ketika kita ke dokter, Allah berperan secara sadar, secara langsung….. tidak…..jadi Allah kita tinggalkan untuk sementara..

pertanyaan yang mungkin tidak perlu dijawab….. jika kita sakit, kita punya uang, ada dokter dan ada obat…. mampukah kita mengandalkan Allah untuk menyembuhkan tanpa minum obat, tanpa ke dokter, ….. kalau kita menjawab … ya tidak mungkin lah Allah menyembuhkan sakit kita tanpa obat, ya tidak mungkinlah Allah menyembuhkan bim salabim…..jika demikian maka Iman kita perlu kita tingkatkan, perlu kita perbaharui, dan perlu kita kuatkan.

SERINGKALI KITA PERCAYA ALLAH TAPI TIDAK BERANI MENGANDALKAN ALLAH ( KARENA IMAN YANG LEMAH)

Mudahnya kita dibelokkan ke selain Allah akarnya adalah karena iman kita yang lemah. pergolakan hati ketika mengandalkan Allah adalah  beratnya hati kita untuk terus On ke Allah, lemahnya Iman menyebabkan fikiran, hati, dan tubuh sulit untuk diajak secara terus menerus ke Allah.

Berguru kepada Allah melalui ….

Konsep berguru kepada Allah memang banyak menimbulkan pertanyaan dan mungkin sanggahan tapi coba kita cermati bahwa berguru kepada allah pada hakikatnya adalah berakhlak kepada Allah karena Dia lah yang menurunkan pemahaman dalam pikiran kita. maka jika kita berguru kepada Allah sebenarnya kita sangat menghormati Allah.
Konsep berguru kepada Allah mungkin agak sulit kita pahami , baiklah , kita menggunakan kalimat yang memudahkan kita, misalnya dengan bergurulah kepada Allah melalui ustad atau kyai, bergurulah kepada Allah melalui quran dan hadis, bergurulah kepada Allah melalui kehidupan ini. Nah kalimat kalimat diatas tentunya memudahkan kita dan saya berharap tidak menyanggah lagi tentang konsep berguru kepada Allah. Mengapa konsep berguru kepada Allah, karena Allahlah yang menurunkan hidayah, kalau kita belajar kepada ustad, kyai, atau melalui quran hadis tentang sabar maka akan diperoleh penjelasan tentang sabar , apa itu sabar, mengapa kita sabar, dan bagaimana kita bisa sabar tapi untuk bisa sabar ,untuk bisa melakukan sabar hanya berguru kepada Allahlah kita bisa sabar, selain Allah tidak ada yang dapat memberikan kekuatan sabar kepada kita sehingga kita bisa berbuat sabar. Padahal kita tahu bahwa tujuan kita mempelajari agama kan agar kita bisa menjalankan tidak hanya sekedar tahu, nah kekuatan itu kita dapatkan dari ilham ilham allah yang masuk dalam diri kita.
So…. Berguru lah kepada Allah, kembalikan ajaran islam kepada Allah bukan kepada yang selain Allah. Yang selain Allah tidak dapat memberikan hidayah yang bisa memberikan hanya Allah sang Penguasa tunggal. Jadi jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun……