Menjalankan amanah di luar nalar

Kalau itu amanah Allah yang Allah berikan kepada kita maka siap saja, bersedia saja. Ya kuncinya adalah siap sedia. setelah siap sedia maka jalankan berdasarkan tanda yang Allah berikan, tanda itu menempel di amanah yang Allah berikan. contoh mudahnya adalah jika kita di amanahi anak ,  si anak lebih sering di kamar dan kurang komunikatif dengan orang tua, tanda lain anak sudah menginjak usia remaja atau sudah SMA, berarti perintah orang tua adalah memahami perkembangan anak remaja.

baik saya akan bahas disini jika amanah itu diluar nalar misalnya seorang yang bekerja sebagai marketing di perusahaan, dia setiap bulan target target yang bombastis, yang itu di luar nalar atau di luar jangkauan akal pikirananya. Maka kata pertama yang harus di ucapkan untuk amanah di luar nalar itu adalah “siap” bukan mengeluh ini dan itu. Setelah siap dengan amanah di luar nalar yaitu dengan target yang bombastis, selanjutnya adalah  memperhatikan tanda tanda yang ada, catat tanda tanda tersebut dan di baca dibalik tanda tersebut apa yang harus dilakukan. Jika tanda dan perintah sudah jelas maka segera jalankan jangan berpikir macam macam, cukup perintah yang jelas tinggal di jalankan saja.

ketika kita menjalankan amanah di luar nalar, maka hilangkan nalar kita dan teruslah untuk menjalankan (ingat … ini karena tanda sudah jelas jadi fokus pada melakukan bukan pada berpikir). Berpikir dilakukan ketika membaca tanda dan membaca perintahnya apa. ketika sudah menjalankan maka tinggal di jalankan dan jalankan, . Mungkin ditengah tengah menjalankan pikiran terpikirkan sesuatu maka catat dan segera jalankan setelah perintah sebelumnya selesai dijalankan.

Dengan cara ini maka amanah di luar nalar akan selesai kadang pertolongan Allah secara ghoib  muncul ..

Godaan menjalankan amanah

untuk siaps  siap saja…. bahwa perjalanan menuju ke Allah lewat jalur amanah ini memang tidak selalu mulus. ya itu tujuannya adalah agar kita kuat dalam menerima dan menjalankan amanah.

pondasi pertama dalam menjalankan amanah adalah menerima objek amanah itu, misalnya kita diberikan amanah berupa pekerjaan dan ada godaan bosan dengan pekerjaan kita. Kalau kita menerima amanah karena kesenangan kita maka tamatlah amanah itu, artinya kita tidak akan kuat dalam menjalakan amanah tersebut, berarti niat menerima amanah pekerjaan ini adalah salah, karena niatnya adalah kesenangan. Niat yang benar yang bagaimana agar kuat dengan godaan “bosan’, niatnya adalah karena amnaah pekerjaan ini yang memberi adalah Allah. Kalau kita bekerja karena amanah Allah maka bosan tidak akan menggoyahkan kita dalam menjalankan amanah.

adalagi misalnya menjalankan amanah karena uang untuk nafkah keluarga, kalau niat nya menerima amanah adalah untuk mencari uang untuk mendapatkan uang maka ketika uang itu tidak cukup dia akan tergoda untuk berontak tergoda untuk berhenti, padahal itu amanah pekerjaan yang diberikan Allah , karena niat kita saja yang salah untuk mencari uang.

godaan dalam menjalankan amanah akan terus menguatkan kita untuk bertakwa yang penting terima amanah yang dari Allah dan jalankan dengan tuntunan Allah.

Amanah bukan pencapaian target selesai tapi menjalankan perintah Allah

Amanah dinamikanya sungguh menarik karena kadang secara tidak sadar kita terjebak kepada pencapaian target harus selesai ini dan itu , harus selesai pada waktu ini dan itu. Jebakan batman ini membuat apa yang akan kita lakukan menjadi buntu dan seolah berhenti dan berat untuk melangkah, ya … padahal pekerjaan jelas ada dan memang harus kita kerjakan. Semakin kita memaksakan pada keadaan ini maka pikiran seolah tidak mau bergerak seperti tegang dan tidak dapat bekerja. Tubuhpun terasa loyo dan tidak bergairah. Masalah ini akan muncul ternyata karena hawa nafsu kita untuk selalu ingin menyelesaikan dan tergesa gesa, tidak ada rasa enjoy tidak ada rasa nyaman dalam menjalankan.

Menjalankan amanah tidak sekedar selesai atau cepat, menjalankan amanah adalah menjalankan perintah Allah. Jadi yang penting disini adalah proses bukan hasilnya. Jika kita fokus pada proses maka tugas yang kita jalankan akan terasa ringan, tidak stress dan enjoy. Tapi kalau kita fokus pada hasil maka akan menjadi tegang dan cepat lelah, capek dan kadang merasa buntu. Jadi kita harus membebaskan diri kita dari keinginan untuk selesai. Kita kerjakan saja apa apa yang perlu dan harus dikerjakan sekarang, dan yang paling penting adalah mengikuti perintah Allah dalam menjalankan tugas tersebut. Yang perlu sekali di latih sekarang adalah bagaimana kita dapat mengikuti apa apa yang Allah perintahkan dalam setiap langkah kita menyelesaikan amanah.

Secara teknis ketika kita menghadapi kebuntuan karena hal diatas langkah pertama adalah melepaskan diri dari amanah tersebut sejenak, kemudian sambungkan jiwa kita ke Allah dan masuk ke dzikir nafas 4. Dzikir nafas 4 ini akan membebaskan kita dari tekanan apapun. Kita bisa bergerak bebas dan ringan, nah suasana inilah yang kita bawa untuk melakukan atau menjalankan amanah yang sedang kita jalankan. simpel bukan. selamat mencoba