Seperti apa sadar Allah itu

manusia di bekali Allah suatu kesadaran, kesadaran ini berbeda dengan berpikir. Kesadaran yang akan saya bahas ini adalah kesadaran terhadap Allah atau sadar Allah. Sadar Allah ini sangat berbeda dengan sadar yang bukan Allah. Sadar Allah ini bukan seperti orang yang terbangun dari tidurnya lalu sadar, atau dari pingsan kemudian siuman. Kesadaran disini adalah kesadaran yang di sandarkan pada suatu keyakinan berdasarkan Al Quran.

Seperti misalnya Quran menyebutkan bahwa Allah itu dekat, maka kita akan menggunakan kesadaran kita bahwa Allah itu dekat. Sadar bahwa Allah itu dekat merupakan bentuk kesadaran terhadap Allah. dan Quran banyak menyebutkan tentang kesadaran Allah ini.

saat ini mungkin anda tidak bisa membedakan mana sadar dan mana berpikir seolah anda merasakan bahwa kalau saya sadar ya berpikir …. tapi tahukah anda bahwa orang yang berpikir belum tentu sadar? tahukah anda bahwa dalam tidurpun dimana kita bisa sadar tanpa menggunakan pikiran, atau misalnya kasus mati suri.. atau kasus pengalaman keluar dari tubuh (out of body exerience) dimana mereka menggunakan kesadaran tanpa menggunakan pikiran.

Menyadari Allah ini sangat berkaitan dengan rukun iman. sebab sadar merupakan bentuk dari yakin. kalau kita yakin maka kita bisa menyadari. kalau kita meyakini Allah itu ada maka kita akan menyadari bahwa Allah itu ada. Orang yakin Allah itu ada, tapi tidak menyadari bahwa Allah itu ada maka Imannya perlu dipertanyakan.

yang menimbulkan kesadaran itu karena ada yakin atau iman. seperti hal nya kita yakin di rumah yang kosong ini banyak hantunya. maka secara otomatis antara yakin ada hantu dan menyadari ada hantu menjadi satu, sehingga menimbulkan rasa takut.

jadi orang yang yakin pada Allah (jika Imannya benar) pasti menyadari Allah, dan pasti akan ada rasa tenang , damai yang menyelikuti (orang yang berdzikir itu hatinya tenang).

Ada beberapa orang yang menganggap atau menyadari bahwa Allah itu jauh di atas langit dan langitnya masih langit tingkat 7….. maka golongan ini akan kesulitan untuk menyadari Allah, sebab Allah jauh tidak dekat, dan kalau Allah jauh maka perilakunya ibadahnya terasa kering, sebab tidak ada sentuhan “kesadaran bahwa Allah itu dekat”. bagaimana bisa tenang jika “Allah nun jauh disana”. dan biasanya golongan islam yang menganggap bahwa Allah itu diatas langit lapis ke 7 .. jiwanya kering dan dalam menjalankan ibadah seperti orang berjalan tapi tidak tahu tujuannya, seperti orang berbuat sesuatu tapi tidak tahu untuk apa dia berbuat.. contohnya kalau sholat dia tidak tahu dengan siapa dia menghadap ? sebab tidak mungkin menghadap “face to face” karena Allahnya nun jauh di sana …. bahasanya “sekedar ritual saja”. takbir ya takbir… rukuk ya rukuk… sujud ya sujud… shalatnya tidak berasa…..

baik kembali ke sadar Allah, sadar Allah itu sederhana, syaratnya anda beriman kepada Allah yang dekat bukan yang jauh. apanya yang dekat? yang dekat ya Dzatnya Sifatnya dan AfalNya, karena memang ketiga tiganya satu kesatuan. Dengan kesadaran yang benar seperti ini maka jiwa anda akan tenang, hati anda akan bahagia, terbebas dari rasa was was dan khawatir

Sifat dan Dzat Allah

masih ada satu lagi yaitu af’al Allah atau perbuatan Allah. Ketiga tiganya tidak bisa dipisahkan misalnya sifatnya di dekat kita kemudian Dzat Allah ada di jauh sana… tidak bisa, karena  ketiganya merupakan bentuk satu kesatuan. Sifat Allah menyatu pada Dzat demikian pula perbuatan Allah menyatu pada Dzat.

jangan lihat Dzat itu seperti apa karena pikiran tidak akn sampai memikirkannya. Demikian pula sifat, sifat kasih sayang Allah tidak bisa dibatasi oleh kasih sayang yang kita pikirkan, karena kasih sayang Allah melebihi dari apa apa yang mampu kita pikirkan. Ketika kita bicara sifat maka sifat inipun diluat sifat yang bisa kita pikirkan. sama halnya dengan perbuatan Allah , perbuatan Allah tidak akan bisa kita pikirkan.

maka untuk bisa sempurna memahami ketiga tiganya baik sifat Dzat dan afal nya maka kita harus meniadakan aktivitas berpikir kita menuju kepada suatu kesadaran tentang kemaha besaran Allah yang berada di luar pikiran kita.

demikian semoga Allah memamhamkan kita tentang hal ini amin

Dzat Allah tidak seperti apa apa

Ketika kita bicara dzat Allah maka kita harus bisa keluar dari ruang dan waktu dan wujud. karena Allah itu tidak bertempat sehingga tidak menempati ruang, tidak kemarin atau besuk sehingga terbebas dari waktu, dan tidak berujud sehingga Allah tidak memiliki wujud nyata materi.

kita tidak bisa menyebut bahwa Allah itu diatasnya arasy, karena arasy itu tidak ada. arasy saja tidak maka Allah diatasnya yang tidak ada. ini bukan berarti Allah tidak ada, Allah ada tapi tidak bertempat diatas atau dibawah.

membicarakan Allah berarti kita harus rela tidak menggunakan pikiran kita. gunakanlah kesadaran kita. kesadaran ini yang akan memahami eksistensi Allah SWT. kita sadar bahwa Allah itu dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher. Kedekatan kita dengan Allah sedekat urat leher membuat kita tidak bisa berpikir, seperti apa lebih dekat dengan urat leher tersebut. lebih dekat dengan urat leher tentunya memaksa kita untuk menggunakan kesadaran dalam memahami kedekatan kita dengan Allah. Sebagian manusia salah dalam memahami ini dia tetap menganggap Allah itu ada dalam pikirannya, lama lama pikirannya menolak dan akhirnya membuat dia tidak percaya dengan Allah. sebenarnya ini tidak perlu terjadi jika kita menggunakan kesadaran kita bukan pikiran kita.

karena Allah bisa dipahami dengan kesadaran maka komunikasi kita juga harus kita lakukan dengan kesadaran, pujilah Allah dengan kesadaran, memintalah kepada Allah dengan kesadaran, bersujudlah dengan kesadaran dan semua bentuk komunikasi kita dengan Allah harus menggunakan kesadaran kita. Sehingga getaran komunikasi ini akan dapat kita rasakan betapa Allah itu membalas pujian kita, Allah membalas permintaaan kita dan Allah membalas setiap yang kita komunikasikan kepada Beliau.

baiklah membahas Dzat Allah harus dikembalikan kepada sifat Allah laa kamitslihi syaiun, artinya Allah tidak bisa disamakan dengan apapun. jadi Allah tidak seperti apa apa.

Memperhatikan akhirat (2) Melihat yang tidak ada

kemampuan kita melihat yang tidak ada akan membawa ktia pada suatu kesadaran hakiki ke Tuhanan. kalau kita melihat yang masih ada dalam pikiran kita maka kita harus banyak belajar lagi tentang hal ini. Tidak mudah dan tidak sulit untuk melakukan ” melihat yang tidak ada”, hanya memerlukan kesadaran dan frekwensi penggunaan yang sering saja. JIka kita sering melakukan “melihat yang tidak ada” maka kita sebenarnya sudah berada di akhirat.

inilah kelanjutan dari sesi sebelumnya tentang memperhatikan akhirat.

praktisnya begini. ketika kita beraktifitas apapun aktivitas itu, kemanakahkesadaran kita?. atau begini jika kita rukuk kita hormat kepada “siapa yang seperti apa”. Nah kalau kita masih hormat kepada “siapa” yang masih ada dalam pikiran kita maka itu belum “melihat yang tidak ada”.

Yang kita lakukan sebenarnya adalah menghormat saja, tidak perlu mewujudkan Dzat Allah. sekali lagi kita hanya menghormat titik.

bagiamana menghentikan pikiran ?

pikiran kita bisa berhenti tatkalah kita memasuki ranah .. tiada persepsi, tiada yang ada, tiada yang dapat menyamai Nya, Dia yang maha Luas, Dia yang maha Tak Terbatas..
otomatis jika kita memasuki alam tiada persepsi yaitu Allah sebagai dzat yang tidak bisa di pikir, dzat yang tidak bisa samakan dengan apapun LAA ILAHA ILALLAH maka pikiran kita akan kosong, nol… hampa dan setersunya…..