yang dzikir jiwa bukan pikiran dan hati

kita harus tahu bedanya pikiran hati sebagai tubuh dan jiwa itu sendiri sebagai eksistensi diri.
yang dzikir ke Allah bukanlah pikiran dan hati.. tapi jiwa … sebab jika dzikir nya menggunakan pikiran maka ketika otak ini digunakan untuk berfikir lainnya maka dzikirnya lepas… hati pun demikian. tapi kalau jiwa yang berdzikir maka ketika kita berpikir, merasa atau beraktivitas lainnya kita tetap berdzikir, bahkan ketika tidur yang notebene tidak berpikir…. kita tetap bisa berdzikir

bahagianya menyentuh jiwa

rasa dekat dengan Allah memang betul betul membahagiakan hati, jadi sampai menyentuh jiwa yang dalam. seperti kalau kita kedinginan, dinginnya ke sumsum tulang.. wah sangat dingin. nah rasa dekat dengan Allah, bahagianya menyentuh jiwa tidak hanya menyentuh hati… tapi masuk hingga ke dalam.
kedalaman rasa ini lah yang akan mewarnai hidup dan setiap langkah kita. sehingga apapun yang kita hadapi akan terasa bahagia, apapun itu termasuk yang biasa kita anggap negatif.

who am I (4) tentang Ruh

Ruh adalah milik Allah dan kalau kita meninggal Ruh akan diminta kembali kepada Allah. Ruh ini semacam fasilitas yang diberikan kepada kita ketika kita hidup. jalanhidup adalah kembali kepada Allah nah Ruh lah alatnya. jiwa kita harus berpulang kepada Allah untuk bisa pulang harus menggunakankendaraan yang dinamakan dengan ruh. maka sejak sekarang ketika masih hdup kita harus selalu pulang ke Allah atau berserah diri kepada Allah. inilah tujuan hidup yang hakiki yaitu pulang kepada allah. Ruh tidak dapat kita kenali namun Ruh dapat kita sadari sebagai kesadaran tertinggi karena kesadaran inilah kita dapat mengembalikan jiwa kita kepada ALlah sehingga jiwa kita mendapatkan ketenangan dan jiwa yang demikianlah yang akan dipanggil Allah untuk masuk syurga. hai jiwa yang tenang kemarilah kembalilah kepada jalan ibadah dan masuklah dalam surga ku… demikianlah Allah memanggil jiwa atau diri kita karena memiliki ketenangan, dan tidak lain ketenangan jiwa dapat kita peroleh dengan berserah diri kepda ALlah.
Ruh tidak perlu dicari dia akan aktif dan akan bergerak jika jiwa kembali atau mengingat allah. maka ketika kita ingat Allah, Ruh akan aktif dan aktifnya ruh ini akan menggetarkan hati dan tubuh kita.. dalam quran disebutkan orang yang berimana jika disebut asma Allah maka akan bergetar hatinya. dan ini benar benar bergetar tidak di getar getarkan.
nah jika kita ingin lebih paham lagi tentang RUh maka kembalikan jiwa kita lurus kepada Allah insya Allah kita akan mendapatkan ketenangan. aminn

tips agar tubuh tidak mudah capek atau lelah dalam bekerja

sinkronisasi antara pikiran hati dan tubuh akan menimbulkan kenikmatan dalam beraktivitas apapun aktivitas itu. kesenangan dalam menjalankannya akan menghilangkan rasa capek dan lelah. sinkronisasi itu akan menyebabkan tubuh menjadi lebih relaks dan santai meski kita bekerja seharian.
ihlas karena Allah dalam berkativitas merupakan cara yang paling mudah untuk menuju bersatunya hati pikiran dan tubuh. dimana mereka akan bermuara di Allah, hati ke ALlah, pikiran ke Allah dan tubuh pun ke ALlah. maka yang namanya ihlas dalam bekerja ini harus selalu dipasang atau disengaja atau bahasa agamanya di niatkan menjadi suatu perbuatan yang menyengaja. dan niat ini bukan di awal perbuatan saja namun dalam seluruh aktivitas atau selama aktivitas itu berlangsung.

pikiran dan hati bukan kita

melanjutkan diskusi tentang nalaogipengendali kuda yang ternyata mendapatkan respon cukup baik, saya bermaksud menjelaskan lebih jelas lagi tentang kaitannya siapa diri.

seringkali dalam sholat kita mengatakan bahwa kita sulit mengatur pikiran, pikiran ini selalu melayang kemana mana. ketika tadi sore saya mendapatkan telepon dari orang yang saya tidak kenal, beliau bertanya tentang pikiran yang melayang ketika sholat. maka saya teringat dengan analogikuda dan saya jawab spontan inspiratif bahwa pikiran bukanlah kita jadi kita akan kesulitan untuk mengendalikan. kalau dalam analogi tersebut kita adalah yang mengendalikan kuda bukan kuda itusendiri. kesalahan persepsi ini yang menyebabkan kita merasa bahwa kita adalah pikiran sehingga yang terjadi adalah ketika pikiran melayang ketika sholat kita menyangka bahwa pikiran itu adalah kita padahal bukan.

pemisahan yang jelas ini tentunya akan membawa suatu pemahaman yang mendalam tentang hakikat diri terutama pikiran kaitannya dengan sholat tersebut. bahkan tidak hanya sholat dalam kehidupan sehari hari pun kita akan mengetahui bahwa pikiran sering lari kesana kemari padahal kita sedang makan misalnya.

hikmah dari pemisahan ini adalah kita akan ke allah dan kita akan membiarkan pikiran kita sesuai fitrahnya yaitu berpikir, biarkan dia bekerja sesuai deng fitrahnya. seperti halnya telinga apakah kita bisa mencegah agar telinga tidak mendengar… tidak bisa tetap mendengaar karena telinga diciptakan untuk mendengar.

maka di dalam sholat kita yang terpenting adalah kemampuan mengabaikan pikiran yang muncul namun kita tetap kuat ke allah. pikiran adalah hiasan perjalanan dalam sholat maka biarkan saja namun kita tetap berjalan menuju ke allah. dalam berjalan ini kita jangan sampai terganggu oleh hiasan jalan tersebut. terus saja berjalan dan berjalan. ketika kita merespon pikiran yang masuk entah kita meladeninya atau mengusir pikiran tersebut sama saja kita memperhatikan pikiran tersebut dan hal ini berarti kita melupakan allah.

analogi pengendali kuda

alhamdulillah tadi pagi mengisi di darussalam tentang haji dan umrah dengan materi psikologi sholat. langsung saja saya menjelaskan tentang dimensi psikologi dalam sholat yaitu pikiran, rasa, jiwa dan ruh.
masalah pikiran dan perasaan atau rasa dapat dianalogikan dengan kuda yaitu kuda pikiran dan kuda rasa dimana kedua duanya ketika sholat tidak akan bisa diam. dia akan selalu lari ke sana sini mengikuti jiwa. jika jiwa tidak tenang maka pikiran akan lari sesuai dengan alamnya yaitu alam ketidak tenangan. maka dalam sholat orang sulit mengendalikan pikiran dikarenakan yang di kendalikan adalah pikiran padahal pikiran mengikuti jiwa. mkaa untuk sholat yang baik mestinya yang dikendalikan adalah jiwanya bukan pikiran atau perasaannya. dengan jiwa yang tenang maka otomatis pikiran dan perasaan akan tenang. kemudian jika ketika sholat yang menjadi fokus kita adalah jiwa ini bukan pikiran dan rasa. cukup dengan jiwa kita bawa untuk berserah diri maka otomatis pikiran dan hati akan tenang. berserah diri kemana ke ALlah. nah analogi jiwa adalah sang pengendali kuda pikiran dan kuda hati, kusirnya lah.. atau drivernya… nah penumpangnya adalah sang ruh itu tadi dimana fungsi duh ini adalah mengajak kita untuk kembali kepada allah. maka untuk mengendalikan kuda tadi sang kusir harus berserah diri kepada allah melalui ruh sang penumpang tadi. dengan demikian kuda akan tenang karena jiwa tenang karena dikendalikan semuanya oleh Ruh yang suci