Articles with islam

Amanah Itu Menyenangkan

Amanah itu menyenangkan setelah anda menjalankannya, tapi kalau belum memang terasa berat. Diberi amanah rumah , perintahnya adalah dibersihkan dari segala kotoran, maka ketika sudah menjalankan kegiatan bersih bersih menjadi suatu yang menyenangkan. Misalnya lagi amanah motor atau mobil kalau sudah menjalankan perintahnya untuk dibersihkan maka mencuci motor atau mobil menjadi  sesuatu yang menyenangkan. Amanah itu dapat membuat hidup kita berubah dan dapat membuat hidup lebih hidup. Apa yang anda lakukan selalu mempertanyakan amanah nya apa, ada tidaknya amanah nya, dan ini menjadikan arah hidup lebih terarah. Ada testimoni dari jamaah dzikir nafas yang menjalankan amanah, ketika di ajak untuk jalan  jalan ke Bali ke lombok dia mempertanyakan apa amanahnya jalan jalan ke bali dan lombok, ternyata tidak dan dia menolak untuk diajak jalan jalan. Ada juga yang mengisi liburan hanya dengan pergi ke masjid karena amanahnya jelas.

Pelajaran amanah yang menyenangkan ini jika kita mensikapinya dengan beban atau berat atau menolak maka akan selalu menentang. Padahal kita tahu kalau sudah menjalankan akan terasa menyenangkan. Kalau nggak percaya silahkan di coba, lakukan perintah dari amanah yang paling berat, lakukan saja, dan anda akan merasakan kenikmatan melakukanya.  Contoh mudahnya adalah amanah badan sedangkan perintahnya adalah mandi di pagi hari bangun tidur. Ya kebiasaan kita menunda mandir , nanti, nanti dan nanti, sekarang berlatih dari mandi ini saja ketika kita bangun tidur terus mandi dan kita akan merasakan setelahnya, kita akan merasakan bahagia dan segar.

Islam ini jika di jalankan akan menyenangkan. Derajat taqwa kepada Allah sebenarnya ada pada menjalankan amanah ini. Jika kita menjalankan amanah maka kita akan dgolongkan menjadi orang bertakwa dan akan mulya disisi Allah. Apalagi dalam menjalankan amanah ini dengan kesungguhan maka derajat takwa kita akan semakin tinggi. Semakinn sempurna kita menjalankan amanah maka akan semakin tinggi derajat kita disisi Allah SWT. Para Nabi dan para Aulia saking tingginya derajat beliau di sisinya karena ketakwaannya ini Allah pun memberikan pertolonganNya di luar nalar kebiasaan yang berupa mukjizat dan karomah. Dalam menjalankan amanah, kita tidak mengharapkan karomah ataupun maunah, tapi kita hanya menjalankan amanah ini dengan kesungguhan yang sebenar benarnya.

Kembali ke tema bahwa amanah itu menyenangkan. Sekarang lakukan hal hal yang sederhna yang ada nilai amanahnya. Coba just do it saja kalau sudah pasti ada dasar amanah dan perintah segera lakukan dan lakukan saja tidak perlu berpikir lebih jauh. Mandi ya mandi saja , gosok gigi ya gosok gigi saja, kemudian kalau cuci piring ya cuci piring saja, kalau ada pekerjaan kantor ya kerjakan saja atau tugas lainnya segera kerjakan. Kecepatan mengerjakan tugas ini akan dinilai sebagai sebuah ketakwaan menjalankan amanah, sama ketika kita mendengarkan adzan maka segera kita besiap untuk menjalankan shalat tidak perlu menunggu nanti nanti.

Tidak perlu bicara disiplin, prokastinasi, atau teori motivasi lainnya, jika amanah diterima dan perintah di jalankan maka semua akan beres. Sebenarnya ini karakter umat islam yang banyak ditinggalkan. Sekarang mari kita mulai dari diri kita masing masing untuk menerima amanah dan menjalankan perintah Allah. Tidak nanti tapi sekarang, tidak seenaknya tapi dengan kesungguhan.

Sadar Allah “Yes” Amanah “No”

Trend di masyarakat barat banyak yang mengakui Tuhan tapi tidak dengan agama, God Yes, Religion No. Jadi menerima Allah tapi tidak mematuhi perintahnya. Allah memerintah Shalat Allah memerintah kita menjalankan amanah tidak untuk Allah tapi untuk kita sendiri. Kita ini hidup yang membuat Allah maka segala aturan jika sesuai dengan aturan Allah maka akan bahagia. Maka saya menuliskan status di Fb bahwa jika kita amanah maka rejeki berlimpah. Maka bisa dipastikan bahwa jika tidak amanah maka yang terjadi adalah sebaliknya. Ini sudah rumus pasti tidak bisa tidak. Allah akan memenuhi janjinya.

Sadar Allah itu adalah itu tidak harus kita dalami sampai mat sampai dalam , tapi untuk segera di aplikasikan dalam kehidupan jika memang sudah ada perintah. Saat inilah perintah Allah untuk mengaplikasikannya. anda bisa belajar Allah sambil menjalankan amanah Allah itu lebih sesuai karena apa karena ilmu sadar Allah sudah terbentang saya sudah banyak menguraikan. Kalaupun anda mendalami sampai dalam intinya tidak apa apa nah itu sudah saya tulis dan uraikan. Untuk apa anda mempelajari apa apa yang sudah di tulis orang. Lebih baik anda mengamalkan amanah yang anda emban dan Allah memberikan petunjuknya dan anda akan dapat ilmu baru yang aplikatif.

Jaman Rasulullah semua ikut berjuang berperang menjalankan amanah Allah masing masing, tidak perlu lagi ke gua hira, tidak perlu lagi beruzlah, ya karena Rasulullah masih ada dan semua seudah tertulis di Al quran. nah kita sekarang sudah membuktikan isi al quran bahwa kita harus amanah maka tunggu apa lagi. take action.

Kalau kita tidak mau menerima amanah dari Allah hanya menerima Allah saja maka siksaan hidup akan kita terima. Kita akan di usir dari surganya Allah. Lha kok seperti iblis… ya iblis menerima Allah, dekat dengan Allah dan makrifat kepada Allah, gara gara tidak amanah yaitu menerima perintah sujud kepada nabi adam dia menolak maka dia diusir dari syurganya Allah. Berdoa kita jangan sampai kita seperti iblis “Allah yes amanah no”.

sekarang ini strategi perang kita adalah pada diri kita masing masing, yang perlu dirapatkan barisan adalah barisan kesadaran ke Allah untuk tetap lurus ke Allah dan kita sama sama maju perang di kehidupan kita masing masing.

Allah tidak menghendaki derajat pangkat dalam agama

kasta dalam islam jelas tidak ada, itu adalah jelas dari agama lain adanya kasta dan derajat. termasuk juga dalam islam tidak mengenal kasta awam, kasta alim, kasta syeh apalagi kasta habib. Semua umat islam adalah sama. Hanya satu hal yang membedakan dalam islam yaitu tingkat ketakwaan. dan derajat ketakwaan ini tidak ada hubungannya dengan surban, jubah, baju ala arab dan asesoris lainnya. Bahkan dalam islam tidak di bedakan antara yang bisa bahasa arab dan tidak, yang bisa baca tulisan arab dan tidak.. yang membedakan adalah bagaimana tingkat menjalankan atau tidak.

Maka sebagai orang awam jangan menempatkan diri orang awam tapi jadilah umat islam yang sama derajarnya disisi Allah SWT, demikian pula yang pernah belajar agama atau yang pandai bahasa arab tidak perlu mendudukkan dirinya lebih dari pada yang lain, dan berusahalah untuk tidak membagakan bahwa telah lulus kairo, mesir atau meksiko. tidak ada yang dibanggakan dari pada pandai bahasa arab, karena yang pandai bahasa inggris atau pandai bahasa jawapun juga tidak membanggakan kepandaiannya. jadilah muslim yang sama dengan yang lain.

penyebab kasta yang paling parah di masyarakat islam adalah kemampuan di bidang ghoib, seperti mampu menyembuhkan, menghilangkan penyakit, kesaktian seperti kebal dan sejenisnya serta model kesaktian lain misalnya penglarisan dan sejenisnya juga. seolah kalau sudah memiliki kemampuan ini seolah menjadi orang suci yang dipuja dan di kultuskan. Padahal ..tahu nggak sih.. kalau sebenarnya kesaktian dan sejenisnya tadi tidak ada hubungannya dengan ketakwaan, kesucian dan lainnya. Masyarakat kita banyak tertipu mengenai hal ini. sehingga kalau baru di panggil kyai kalau sudah sakti kalau belum kelasnya baru ustad.

membongkar paradigma ini sangat sulit, yang awam merasa nyaman dengan kawamannya karena dijamin masuk surga oleh kasta di atasnya seperti kyai atau kelas yang lebih tinggi, sedangkan yang kyai atai kasta tinggi sangat nyaman karena kemana mana di sanjung dipuja dikultuskan, hidupnya  dijamin dengan sedekah oleh kasta di bawahnya. sebuah penyakit yang sulit untuk disembuhkan. kesadaran untuk sederajat memang belum ada tapi saya akan membangun sebuah kesadaran akan Allah pada orang awam awam, saya akan sadarkan mereka seolah mereka ini orang terjajah yang tidak sadar kalau sedang dijajah. terjajah tauhidnya karena lebih menuhankan ulama kyai dari pada menuhankan Allah SWT. sampai sampai berdoa sendiri saja harus kyai dan ulama yang mendoakan, doa sendiri katanya tidak makbul kalau kyai makbul.. sungguh ini sebuah tanda bahwa pengkastaan itu ada. cara saya untuk menghilangkan budaya kasta dalam islam ini adalah dengan menyadarkan umat kepada Allah. dengan kesadaran akan Allah ini umat yang awam akan meninggalkan kyai dan ulama dalam hal berhubungan dengan Tuhan Allah. namun tentunya ini juga akan ditentang oleh para kyai dan ulama yang merasa berada di kasta lebih tinggi dari orang awam, mereka pasti marah dan jengkel dengan ajakan dan dakwah saya karena eksistensinya sebagai kasta yang lebih tinggi akan terganggu dan akan turun. tapi bagi kyai dan ulama yang tidak menganggap dirinya memiliki kasta yang lebih tinggi dari orang awam pasti beliau akan dengan senang hati dengan dakwah sadar Allah ini. Karena kyai dan ulama tersebut tugas nya terbantukan dengan program sadar Allah yang saya dakwahkan ini.