Articles with jiwa

Lepasnya jiwa dari ikatan ego

fokus saya dalam berspiritual adalah pada kesadaran. Kesadaran ini yang terus saya latih dan latih hingga mencapai keadaan kesadaran yang semakin sadar dan semakin sadar. Saya tidak main di alam ghoib atau alam alam lainnya.Jadi ketika belajar dengan saya maka jangan berpikir jauh tentang alam alam atau yang sejenisnya. Misalnya ketika saya menuliskan lepasnya jiwa dari ikatan ego, maka jangan berpikiran bahwa saya mengajarkan keadaan lepasnya jiwa yang meluncur kemana … tidak, sekali lagi saya fokus pada kesadaran. jadi lepasnya jiwa dari ego ini adalah lepasnya jiwa yang menjadi jiwa yang fitrah yang tidak terikat lagi dengan sifat keakuan.

baik jadi jiwa kita ini awalnya adalah fitrah yaitu jiwa yang belum ada ego, nah kemudian seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan, maka muncullah ego dalam jiwa kita, seingga jiwa yang fitrah sudah tidak fitrah lagi. dan Setelah baligh tugas kita adalah mengembalikan jiwa kita agar terbebas dari ego, yaitu dengan ibadah ibadah yang kita lakukan.

bagiamana terlepasnya jiwa dan ego? ya caranya mudah, lurus saja ke Allah kemudian bebaskan jiwa tadi dari alam pikiran dan persepsi, terus tembus keadaan alam pikiran dan perasaan, terus lurus ke Allah mencapai Allah yang bukan ini dan itu, Allah yang bukan kita persepsikan Allah yang tidak ada dalam pikiran kita yaitu allah yang tidak sama dengan apapun. ketika kita mencapai keadaan ini maka kita akan dapat merasakan keadaan jiwa terlepas dari ego.

keadan terlepasnya jiwa dari ego ini kemudian kita gunakan dalam setiap ibadah kita, gunakan dalam shalat dalam dzikir dan ibadah lainnya, setelah itu gunakan juda dalam keseharian ketika berjalan berdiri atau berbaring. baik semoga kita mendapatkan bimbingan Allah SWT. bagi yang belum paham terima dulu saja teori ini, suatu saat jika Allah memberikan petunjuk ALlah akan membimbing secara langsung kepada kita, jangan ditolak karena itu akan dapat menutup pintu hidayah dan pelajaran yang ALlah berikan.

Keterpisahan Ketuhanan dan Kejasadan

inilah yang kadang kadang membuat orang tidak mau lagi menjalankan shalat dan ibadah lainya. Karena merasa dirinya sudah mampu menjalankan shalat tanpa jasad. Dan ini pula yang sering dituduhkan oleh orang  bahwa dengan dzikir nafas akan menyebabkan tidak mau shalat lagi. Ya diwilayah ini memang terjadi keterpisahan antara alam jasadiah dan alam KeTuhanan dimana yang berada di alam KeTuhanan sudah bukan jasad lagi, begitu pula sebaliknya. Semacam kita ini ada dua wilayah yang berbeda yaitu yang berada di wilayah yang berbeda.

di dzikir nafas berbeda dengan laku spiritual lainnya yang jika sudah mencapai keadaan ini sudah tidak mau lagi menjalankan shalat. Justru sebaliknya di Dzikir nafas keterpisahan wilayah yang berbeda ini kita harus dapat menyatukan dalam satu penegekan shalat maka benar saja di quran yang disebut adalah orang yang menegakkan shalat bukan orang yang menjalankan shalat. menegakkan shalat ini maknanya bahwa ada yang berada di wilayah ke Tuhanan ini yang menegakan shalat dan ada yang di wilayah jasad yaitu yang menjalankan shalat. Perpaduan dari dua wilayah dalam satu gerakan shalat ini akan menjadikan suatu gerakan yang memiliki daya spiritual yang tinggi yang membantuk akhlak yang baik

saya baru saja menemukan wilayah ini dan saya belajar untuk terus berada di kedua wilayah ini dan menerapkan dalam setiap ibadah yang saya jalankan sesuai dengan syariat Rasulullah SAW. saya berharap dengan tulisan ini kita bisa bersama sama berlatihuntuk menuju kepada kebaikan baik jasad jiwa dan ruhani kita. baik semoga kita semua terutama saya di beri kefahaman yang menadalam tentang hali ini. Amin

yang dzikir jiwa bukan pikiran dan hati

kita harus tahu bedanya pikiran hati sebagai tubuh dan jiwa itu sendiri sebagai eksistensi diri.
yang dzikir ke Allah bukanlah pikiran dan hati.. tapi jiwa … sebab jika dzikir nya menggunakan pikiran maka ketika otak ini digunakan untuk berfikir lainnya maka dzikirnya lepas… hati pun demikian. tapi kalau jiwa yang berdzikir maka ketika kita berpikir, merasa atau beraktivitas lainnya kita tetap berdzikir, bahkan ketika tidur yang notebene tidak berpikir…. kita tetap bisa berdzikir

spsiritual parenting (2) ajak anak secara ruhani bersilatun

ketika kita sambung kepada Allah, jiwa kita menyebar dan kita sambung kan ke anak kita. seperti halnya cinta , cinta bisa kita salurkan ke anak kita dan anak kita menerima. kita sambung ke allah yang aktif adalah kejiwaan kita dan kejiwaan kita meluas sehingga bisa arahkan ke anak kita untuk kita ajak ke allah. kekuatan ikatan ruhani dan kejiwaan orang tua yang didasari oleh cinta akan menjadi by pass untuk mengajak anak ke allah. inilah inti dari spiritual parenting yaitu mengajak secara ruhani ke Allah.

bahagianya menyentuh jiwa

rasa dekat dengan Allah memang betul betul membahagiakan hati, jadi sampai menyentuh jiwa yang dalam. seperti kalau kita kedinginan, dinginnya ke sumsum tulang.. wah sangat dingin. nah rasa dekat dengan Allah, bahagianya menyentuh jiwa tidak hanya menyentuh hati… tapi masuk hingga ke dalam.
kedalaman rasa ini lah yang akan mewarnai hidup dan setiap langkah kita. sehingga apapun yang kita hadapi akan terasa bahagia, apapun itu termasuk yang biasa kita anggap negatif.

terpisahnya Ruh jiwa dan jasad ketika sholat

sholat seperti halnya kematian, unsur unsur tubuh kita akan terpisah. dalam kematian tubuh di kubur, jiwa mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia dan Ruh kembali kepada Allah. dalam sholat jasad melakukan bacaan dan gerakan sholat, jiwa berkomunikasi kepada ALlah, dan Ruh pulang ke ALlah.
Pulangnya Ruh ini harus dilakukan dalam sholat, inilah kesadaran kita dalam sholat, untuk urusan jasad dan jiwa kita tinggalkan biarkan dia (jasad dan ruh) menjalankan fungsi nya masing masing, yang bergerak sholat ya biarkan begerak sholat, yang berkomunikasi dengan ALlah ya biarkan dia berkomunikasi dengan ALlah. urusan kita hanya pulang ke Allah.
dengan berpisah seperti ini nanti maka kita akan mengenal bagian bagian dari diri kita mana jasad mana jiwa dan mana Ruh, selamat mencoba

Antara jiwa, ruh, emosi dan pikiran

ada hipotesis menarik dari diskusi kemarin dengan seorang teman, ada pertanyaan pikiran dulu atau emosi dulu…. jawaban saya emosi dulu… baru pikiran.. kalau emosi tenang maka pikiran juga tenang, kemudian diskusi berlanjut bagaimana menenangkan emosi ? jawaban saya ya emosi itu dipengaruhi oleh jiwa , jadi jiwa harus tenang dulu nanti otomatis emosi akan tenang… berlanjut lagi… bagaimana agar jiwa kita tenang.. jawaban saya jiwa dipengaruhi oleh Ruh… maka Ruh harus di pulangkan ke Allah jadi harus pasrah…. jadi kesimpulannya untuk menenangkan semuanya caranya dengan pasrah dan berserah diri kepada Allah.

who am I (4) tentang Ruh

Ruh adalah milik Allah dan kalau kita meninggal Ruh akan diminta kembali kepada Allah. Ruh ini semacam fasilitas yang diberikan kepada kita ketika kita hidup. jalanhidup adalah kembali kepada Allah nah Ruh lah alatnya. jiwa kita harus berpulang kepada Allah untuk bisa pulang harus menggunakankendaraan yang dinamakan dengan ruh. maka sejak sekarang ketika masih hdup kita harus selalu pulang ke Allah atau berserah diri kepada Allah. inilah tujuan hidup yang hakiki yaitu pulang kepada allah. Ruh tidak dapat kita kenali namun Ruh dapat kita sadari sebagai kesadaran tertinggi karena kesadaran inilah kita dapat mengembalikan jiwa kita kepada ALlah sehingga jiwa kita mendapatkan ketenangan dan jiwa yang demikianlah yang akan dipanggil Allah untuk masuk syurga. hai jiwa yang tenang kemarilah kembalilah kepada jalan ibadah dan masuklah dalam surga ku… demikianlah Allah memanggil jiwa atau diri kita karena memiliki ketenangan, dan tidak lain ketenangan jiwa dapat kita peroleh dengan berserah diri kepda ALlah.
Ruh tidak perlu dicari dia akan aktif dan akan bergerak jika jiwa kembali atau mengingat allah. maka ketika kita ingat Allah, Ruh akan aktif dan aktifnya ruh ini akan menggetarkan hati dan tubuh kita.. dalam quran disebutkan orang yang berimana jika disebut asma Allah maka akan bergetar hatinya. dan ini benar benar bergetar tidak di getar getarkan.
nah jika kita ingin lebih paham lagi tentang RUh maka kembalikan jiwa kita lurus kepada Allah insya Allah kita akan mendapatkan ketenangan. aminn

struktur insan dari pak Alif

Salaam,

Untuk menjelaskan struktur insan yang kompleks ini maka Imam Al-Ghazali ra menggambarkan bahwa manusia itu adalah hewan yang mampu berpikir (hayyawan nathiq)., maksudnya berjasmani seperti hewan, tapi juga mampu mencerap pengetahuan tentang Allah SWT sebagaimana malaikat. Perbedaan antara manusia dengan hewan adalah adanya tambahan unsur jiwa (an-nafs) yang membuat manusia mampu berpikir dan mewujudkan apa yang dipikirkannya (nathiq), baik dalam bentuk perkataan hingga perbuatan, sehingga bila saja binatang diberi jiwa (an-nafs) sebagaimana yang diberikan kepada manusia, tentu ia akan sanggup berpikir dan akhirnya mukallafah.

Struktur makhluq yang seperti ini oleh Imam Al-Ghazali ra dibagi dalam tiga aspek: Jiwa (an-nafs), Ruh dan Jasmani (jism).

Jasmani manusia terbentuk dari berbagai komponen dan unsur yang sanggup ‘membawa’ dan mempertahankan ruh dan nafsnya, yang kemudian menjadi suatu tubuh berpostur yang memiliki wajah, dua tangan dan kaki, serta bisa tertawa. Unsur-unsur jasmani tersebut adalah unsur yang sama dengan unsur makrokosmos yaitu air, udara, api dan tanah. Hal ini terlihat dari proses penciptaan jasmani Nabi Adam as yang dilukiskan melalui tahapan ath-thiin dan shalshal di mana kedua jenis tanah liat tersebut merupakan hasil dari perubahan empat unsur tanah, air, udara dan api. Bagi anak-cucu Nabi Adam as, proses tersebut tidak transparan lagi karena jasmani bani adam terbentuk dalam rahim ibu melalui fase-fase nuthfah, ‘alaqah dan mudhghah. Meski begitu secara hakiki jasmani bani adam tetap berasal dari 4 unsur tersebut dan akan kembali ke bentuk unsur dasar itu.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan insan dari suatu saripati (berasal) dari tanah (thiin). Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).Kemudian air mani itu Kami ciptakan jadi segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami ciptakan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami ciptakan menjadi tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk (berbentuk) lain. Maha Memberkahi Allah, Sebaik-baiknya Maha Pencipta. (Al-Mu’minun [23]: 12-14)”

Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku menciptakan seorang basyar dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam (shalshal) yang diberi bentuk.” (Al-Hijr [15]: 28)

Kemudian adanya ruh membuat manusia mirip dengan hewan karena ruh yang dimaksud di sini adalah ruh yang juga dimiliki oleh hewan, yaitu ruh hewani. Dalam Al-Qur’an dikenal dengan istilah “nafakh ruh”. Ruh hewani ini adalah sesuatu yang bertempat, sehingga eksistensinya bisa dideteksi oleh ilmu kedokteran. Ia berjalan (mengalir) di seluruh anggota tubuh, pembuluh darah , urat nadi dan syaraf. Kehadirannya di suatu anggota tubuh, membuat bagian tubuh tersebut menjadi hidup. Apakah itu berwujud gerakan, sentuhan, menatap, mendengar, dan sebagainya. Ibaratnya seperti pelita yang beredar menelusuri suatu tempat yang penuh dengan lorong-lorong; tempat tersebut adalah ibarat tubuh. Bagian-bagian tubuh yang diibaratkan dengan lorong-lorong akan hidup ketika cahaya pelita menerangi lorong tersebut.Cahaya pelita itulah ibarat dari ruh hewani yang mengalir dan beredar di seluruh tubuh. Ruh tersebut tidak memberi petunjuk pada pengetahuan. Ia tak lebih daripada perangkat unik yang bisa mematikan badan, di mana misi Rasulullah Saw bukan ditujukan pada ruh tersebut. Ruh inipun bukanlah Ruh Amr yang dimaksud di Al-Israa’ [17]: 85

Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ar-Ruh. Katakanlah: Ar-Ruh itu berasal dari Amr Rabbku, dan tidaklah engkau diberi pengetahuan tentang itu melainkan sedikit. (Al-Israa’ [17]: 85)

Sehingga bisa dikatakan bahwa Imam Al-Ghazali meluruskan pemahaman sebagian umat Islam yang menyamakan makna Ar-Ruh dengan Nafakh Ruh (ruh hewani).

Kemudian manusia juga memiliki jiwa (an-nafs) yang merupakan jauhar, yaitu yang berdiri sendiri, tidak berada di tempat manapun dan juga tidak bertempat pada apapun. Jiwa adalah alam sederhana yang tidak terformulasi dari berbagai unsur (materi) sehingga tidak mengalami kehancuran sebagaimana benda materi. Karena itu, kematian bagi manusia sesungguhnya hanyalah kematian tubuh dimana yang hancur dan terurai kembali ke asalnya adalah tubuh, sedangkan jiwa tidak akan hilang dan tetap eksis, sebagaimana firman Allah di Ali ‘Imran [3]: 169.

“Janganlah engkau sekali-kali mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati: bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapatkan rizki”. (Ali ‘Imran [3]: 169)

Jiwa (an-nafs)merupakan esensi yang sempurna dan tunggal yang tidak muncul selain dengan cara mengingat, menghapal, berpikir, membedakan dan mempertimbangkan sehingga dikatakan bahwa ia menerima seluruh ilmu. Ia mengetahui masalah-masalah yang rasional maupun yang ghaib. Dialah yang sanggup memahami, berpikir dan merespon segala yang ada; bukan tubuh maupun otak yang sebenarnya hanyalah sebentuk materi. Bahkan Imam Al-Ghazali ra mengatakan bahwa ilmu pengetahuan sebenarnya adalah suatu kondisi yang ada pada jiwa. Adanya ilmu menggambarkan jiwa yang berpikir tenang (an-nafs an-nathiqah al-muthmainnah) tentang hakikat segala sesuatu, artinya adanya pengetahuan tentang al-haq itu merepresentasikan tentang jiwa. Ini dikarenakan jiwa di dalam tubuh akan berusaha mencari kesempurnaan, agar ia sanggup mengikuti derajat malaikat yang dekat dengan Allah (muqarrabun), di mana Allah adalah sumber segala pengetahuan juga merupakan obyek ilmu yang paling utama, paling tinggi, dan paling mulia.

Kesemuanya ini adalah struktur dasar yang memiliki alamnya masing-masing, tetapi kemudian dalam totalitas diri manusia, semua ini akan saling berinteraksi dan membentuk relasi-relasi. Relasi-relasi antar alam ini kemudian bisa mewujud dan menciptakan alam-alam baru yang tak kalah eksis. Bahkan kehadiran mereka bisa membiaskan eksistensi struktur dasar jiwa-ruh-jasad sehingga manusia menjadi makhluk yang amat kompleks. Pada titik inilah usaha mengenali diri sebagaimana diisyaratkan dalam hadits Rasulullah Muhammad Saw “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Robbahu”, menjadi sedemikian sulit dan butuh jihad. Semakin kompleks kehidupannya, maka semakin besar jihad yang dibutuhkan.

Demikian, mohon maaf bila ada hal2 yang kurang berkenan.

wassalam.

selengkapnya silahkan baca di sini http://suluk.blogsome.com/2005/06/30/jism-aradh-jauhar-dan-ruh-amr–struktur-insan-dalam-perspektif-imam-al-ghazali/

Hidup lurus ke allah

Kemurnian tauhid adalah kelurusan kepada allah. Seperti memasuki lorong dimana alam pikiran dan alam perasaan menarik kearah menyamping dari arah lorong itu. Ke allah sering di tutupi dengan alam pikiran dan alam perasaan seingga allah tidak seperti apa adanya allah, namun masuk dalam rekayasa alam pikiran. Kelurusan kepada allah ini membawa kita kepada kemurnian kita kepada allah. Coba kalau kita duduk diam mengarahkan diri kepada allah (mancer) maka akan terlihat jelas bagaimana alam pikiran dan alam perasaan menarik seperti magnit untuk keluar dari tujuan kita kepada allah. Hidup lurus kepada allah ibarat sebuah perjalanan yang penuh rintangan, rintangan rintangan itu bukan dari luar namun dari dalam diri. Ketika kita lurus kepada allah maka hati dan pikiran yang menggoda kita, namun kalau kita kuat ke allahnya maka pikiran dan perasaan akan mengikuti keadaan jiwa kita sehingga alam pikiran dan alam perasaan akan merasakan suatu experience dari keadaan kejiwaan kita, nah dalam posisi ini kita akan dapat menguasai pikiran dan perasaan, tidak tergoda lagi