Apakah kita bisa bersatu dengan Allah

ini salah satu komoditi fitnah yang sering di lontarkan orang orang yang anti tasawuf, yang selalu “tidak paham dengan konsep menunggaling kawula gusti atau bersatu dengan Allah” mereka selalu meniupkan isu bahwa tasawuf itu sesat karena mengajarkan menunggaling kawula gusti atau bersatu dengan Allah. saya sebagai front pembela ulama tasawuf tidak terima … he he ..

nah begini bersatu dengan Allah dalam konsep islam ternyata memang tidak ada, konsep ini ada karena adopsi orang orang kejawen yang mencontoh islam tapi tidak mampu berada pada keadaan fana sebab Tuhan yang dipakai sudah salah. nah hal inilah yang menyebabkan konsep tasawuf yang di adopsi islam abangan ini kemudian di pakai sebagai puncak ilmu makrifat. Yang pada akhirnya karena mengacu pada ilmu tasawuf, maka ilmu tasawuf ini dituduh mengajarkan manunggaling kawulo gusti.

saya ingin meluruskan pemahaman yang benar tentang konsep bersatu dengan Allah, dalam konsep ketuhanan, Allah adalah Dzat yang tidak bisa disamakan dengan apapun, Allah ada Dzat yang berdiri sendiri dan tidak bisa disandingkan dengan apapun, maka sangat tidak mungkin kita bersatu dengan Allah SWT. Maka dalam islam tidak istilah manuggal atau bersatu atau wihdatul tapi yang ada adalah fana.

fana sangat berbeda dengan bersatu, Fana ini adalah penghilangan ego pada diri manusia. Konsep menghilangkan dan konsep bersatu pastinya akan berbeda. Konsep menghilangkan ataupun bersatu sangat terkait dengan bagaimana pemahaman kita tentang Allah. Jika Allah itu masih ada dalam pikiran kita maka akan terjadi wihdatul wujud, manunggaling kawula gusti atau bersatu dengan Allah, namun jika Allah itu ada dalam kesadaran kita bukan pada pikiran kita maka yang terjadi adalah pemfanaan ego atau penghilangan ego. Sebab sesuatu yang tidak ada dalam pikiran akan menyebabkan ego ini lenyap sebab tidak bisa lagi menjangkau ketinggian dari pada kesadaran tanpa pikiran ini. Ego letaknya ada pada jasad, sedangkan pikiran merupakan product dari pada jasad maka ego ini akan hilang jika pikiran kita kosong.

sehingga jawaban untuk pertanyaan diatas adalah mungkinkah bersatu jelas tidak mungkin. kalau bersatu berarti belum benar tapi jika itu dipertahankan dan di benar benar kan maka berarti tauhid kita sudah sesat, salah dan harus dikembalikan kepada sifat Allah yang tidak bisa disamakan dengan apapun , serta qiyamuhu binafsi.

Shalat khusyu dengan cara kejawen

cara menjalankan khusyu dengan emnggunakan ilmu kejawen ada empat cara, cara ini saya sebut dengan 4M M yang pertama adalah madep M yang kedua adalah manteb M yang ketiga adalah mantheng dan M yang terakhir adalah Mancer. Empat hal ini ternyata dapat membawa kekhusyuan dalam sholat. baik mungkin anda yang bukan orang jawa tidak paham dengan cara , baik akan saya jelaskan satu persatu :

  1. madep : ini adalah bagaimana kita bersikap dengan kesadaran akan ke Tuhanan. kemana kita menghadap selama sholat, jelas ke Allah. Inilah menghadapnya jiwa kita. jika tubuh kita menghadap kiblat maka jiwa menghadap kepada Allah SWT.
  2. manteb : ini adalah sikap yakin yang kuat, yang tidak di ragukan lagi yaitu menghadap Allah SWT. atau bisa juga diartikan menghadap kesadaran dan kemantaban hati
  3. Mantheng : orang yang mau menghadap Allah harus lurus, ini merupakan niat yang kuat yang lurus menghadap Allah tidak akan kemana mana.
  4. mancer : ini adalah perjalanan, artinya melakukan perjalanan menuju kepada Allah SWT, tidak akan kemana mana tidak mencari ilham, tidak mencari kaya tidak mencari sehat tidak mencari sakti, suatu perjalanan spiritual dilakukan pada tahap keempat ini yaitu mancer

keempat pedoman tersebut sudah ada di doa iftitah 

  1. madep : ada pada Allahu akbar kabira…..
  2. manteb : inni wajahtu wajhiya lilladzi….
  3. mantheng : hanifan musliman……
  4. Mancer : innashalatii wanusuki… ………….lillahirabbil alamin

Sikap 4m ini harus ada dalam setiap bacaan dan gerakan sholat, dari takbir sampai salam, sehingga sholat kita dalam keadaan khusyu meditatif.

baik selamat mencoba

Jika anda sudah mulai berpikir “bagaimana jika aku mati”

Kecemasan atau ketakutan menghadapi mati ternyata tidak sedikit yang mengalami, terlebih jika usia sudah mendekati kepala 5 atau 6. Berpikir tentang mati saya kira wajar karena memang semakin tua usia kita, rasa kematian itu akan semakin dekat. yang tidak wajar dan perlu diatasi adalah jika kita takut atau cemas menghadapi kematian. Ketakutan ini ada banyak sebab diantaranya, tidak mengetehui jalan kematian yang “sukses” itu bagaimana, masih menyenangi kehidupan dunia, terlalu cinta dengan anak dan istri atau suami, mencemaskan keluarga jika suatu saat kita meninggal, atau merasa kurang persiapan akhirat sehingga takut mendapatkan siksa neraka yang mengerikan.

jika anda sudah mulai berpikir tentang mati apa yang harus dilakukan ? baiklah ini ada sedikit tips yang mungkin membantu mengurangi kecemasan atau ketakutan anda menghadapi kematian :

  1. Belajarlah tentang hakikat diri “who am I” dengan benar insya Allah dengan mengenal ini kita akan lebih ihlas menghadapi semua kehidupan ini termasuk jika ajal menjemput.
  2. setelah mengenal asal kita tentunya kita akan bahagia jika dapat mengenal Allah, maka belajarlah ilmu makrifat sebelum mati, sehingga dengan mengenal Allah ini kematian adalah suatu pintu yang membahagiakan yang dapat menjadi jalan bertemu dengan Allah
  3. Nah lakukan action sejak sekarang yaitu melakukan perjalanan pulang kembali kepada Allah secara kesadaran. Dengan apa kita belajar pulang kepada Alah, tidak lain adalah dengan menjalankan sholat sesuai yang dituntunkan quran dan sunah rasulullah. jadikan sholat sebagai sholat kita yang terakhir dan jadikan sholat sebagai tempat berserah diri kepada Allah secara total.
  4. ketika sholat tinggalkan semua apa yang kita miliki dan luruslah kita menghadap Allah. ini seperti orang yang meninggal dunia.
  5. bergabunglah dengan orang orang yang memiliki visi yang sama untuk belajar kembali kepada Allah. dengan berkumpul dengan orang orang yang memiliki visi yang sama ini maka kita akan saling belajar dan saling mengingatkan. satu perkumpulan yang bisa anda ikuti adalah bergabung dengan komunitas shalat center karena dalam komunitas ini sangat ditekankan adanya bertemu dan kembali kepada Allah. Anda yang jauh dari komunitas ini, insya Allah melalui blog inipun saya sering menulis tentang : bagaimana kembali kepada Allah. sehingga menjadi semangat kita untuk selalu berserah kepada yang maha kuasa yaitu Allah SWT.

Sekarang anda tidak perlu cemas lagi menghadapi kematian, para ulama sholeh selalu menanti kematian ini dan tidak sabar untuk segera bertemu Allah secara sempurna.

MATI SAKJRONING URIP

URIP SAKJRONING MATI

wejangan Sunan Kalijaga tentang Kematian dalam hidup

Sekarat tananamu nyamur,
ja melu yen sira wedi,
lan ja melu-melu Allah,
iku aran sakaratil,
ruh idhofi mati tannana,
urip mati mati urip.
Penderitaan yang selalu menyertai
menjelang ajal (sekarat) tidak terjadi
padamu. Jangan takut menghadapi
sakratulmaut, dan jangan ikut-ikutan
takut menjelang pertemuanmu
dengan Allah. Perasaan takut itulah
yang disebut dengan sekarat. Ruh
idhofi tak akan mati; Hidup mati,
mati hidup
Liring mati sajroning ngahurip,
iya urip sajtoning pejah,
urip bae selawase,
kang mati nepsu iku,
badan dhohir ingkang nglakoni,
katampan badan kang nyata,
pamore sawujud, pagene ngrasa
matiya,
Syekh Malaya (S.Kalijaga) den
padhang sira nampani,
Wahyu prapta nugraha.
mati di dalam kehidupan. Atau sama
dengan hidup dalam kematian. Ialah
hidup abadi. Yang mati itu nafsunya.
Lahiriah badan yang menjalani mati.
Tertimpa pada jasad yang
sebenarnya. Kenyataannya satu
wujud. Raga sirna, sukma mukhsa.
Jelasnya mengalami kematian! Syeh
Malaya (S.Kalijaga), terimalah hal ini
sebagai ajaranku dengan hatimu
yang lapang. Anugerah berupa
wahyu akan datang padamu.

sikap manembah dalam sholat

sholat adalah sembahyang… sikap nya disebut dengan manembah… ini merupakan istilah jawa tapi bukan kejawen. sikap ini harus kita pakai sebelum takbir.. jadi ketika niat sikap manembah ini harus sudah ada dulu. sikap manembah kepada Allah adalah ringkasan dari sikap hormat, tunduk, tawadlu, memuji, sujud dan meminta… jadi dalam sholat sujud kita, hormat kita, permohonan kita pada saat sholat dilandasi dengan sikap “manembah” ini.

petikan terjemahan serat jatimurti

KEADAAN SEJATI. Adanya keadaan sejati, karena adanya yang tidak sejati.

SESUATU yang ada itu sesungguhnya berasal dari yang ada. Yang tidak ada asalnya juga tidak ada. Misalnya : anak yang bernama Dipa, atau kambing, kacang, jambu, kukus, api, mega, semuanya adanya hanya sementara dan tidak ada lagi. Bagaimana mau dikatakan ada kalau adanya seperti munculnya ombak. Muncul kemudian hilang, kemudian muncul yang lainnya tapi juga akhirnya hilang begitu seterusnya. Jelas disini bahwa si “muncul” itu sebenarnya tidak ada, yang tetap ada yaitu air yang naik turun, bukan si “muncul”. Tingkah laku air tadi dinamakan ombak, sehingga ombak itu bukan yang ada, ia hanya kejadian. Jelas jika kejadian itu bukan yang jadi.

Continue reading

who am I (2)

mengenal diri sejati ini harus dengan kesengajaan karena ini merupakan olah kesadaran menuju taraf yang lebih tinggi. yakni semakin sadar dan semakin sadar (the altered states of consciousness). sadar akan diri merupakan perluasan dan mikrokosmos menuju makrokosmos atau dalam istilah jawa jagad alit menuju kepada jagad ageng. sang Aku tidak bisa dibatasi oleh keterbatasan tubuh (mikrokosmos) namun luas (makrokosmos).
dasar dari tulisan kedua ini adalah membedakan diri berubah menjadi makro yaitu suatu kesadaran bahwa diri sebenarnya adalah diri yang bersujud (bukan tubuh).
pada sholat Allahu Akbar yang bisa membesarkan Allah secara hakiki adalah sang Aku bukan tangan yang terangkat atau mulut yang mengucap Takbir…
baik kita pahami dulu tujuan dari pengenalan diri ini dari mikro menjadi makro. untuk tulisan berikutnya kita akan bahas lebih dalam lagi tentang hakikat diri

alon alon waton kelakon

sabar berada diantara malas dan tergesa gesa. kalau orang malas berarti tidak sabar demikian juga orang yang trgesa gesa juga tidak sabar.
sabar itu menjalankan dan jalannyapun harus sesuai dengan ritme yang ada. kalau ritemnya lambat berarti malas kalau ritemnya cepat berarti tergesa gesa. jadi yang paling pas ada pakai filosofi jawa ALON ALON WATON KELAKON. arti alon alon berarti menjalankan, arti waton berarti ada ritme yang diikuti.