pikiran dan hati bukan kita

melanjutkan diskusi tentang nalaogipengendali kuda yang ternyata mendapatkan respon cukup baik, saya bermaksud menjelaskan lebih jelas lagi tentang kaitannya siapa diri.

seringkali dalam sholat kita mengatakan bahwa kita sulit mengatur pikiran, pikiran ini selalu melayang kemana mana. ketika tadi sore saya mendapatkan telepon dari orang yang saya tidak kenal, beliau bertanya tentang pikiran yang melayang ketika sholat. maka saya teringat dengan analogikuda dan saya jawab spontan inspiratif bahwa pikiran bukanlah kita jadi kita akan kesulitan untuk mengendalikan. kalau dalam analogi tersebut kita adalah yang mengendalikan kuda bukan kuda itusendiri. kesalahan persepsi ini yang menyebabkan kita merasa bahwa kita adalah pikiran sehingga yang terjadi adalah ketika pikiran melayang ketika sholat kita menyangka bahwa pikiran itu adalah kita padahal bukan.

pemisahan yang jelas ini tentunya akan membawa suatu pemahaman yang mendalam tentang hakikat diri terutama pikiran kaitannya dengan sholat tersebut. bahkan tidak hanya sholat dalam kehidupan sehari hari pun kita akan mengetahui bahwa pikiran sering lari kesana kemari padahal kita sedang makan misalnya.

hikmah dari pemisahan ini adalah kita akan ke allah dan kita akan membiarkan pikiran kita sesuai fitrahnya yaitu berpikir, biarkan dia bekerja sesuai deng fitrahnya. seperti halnya telinga apakah kita bisa mencegah agar telinga tidak mendengar… tidak bisa tetap mendengaar karena telinga diciptakan untuk mendengar.

maka di dalam sholat kita yang terpenting adalah kemampuan mengabaikan pikiran yang muncul namun kita tetap kuat ke allah. pikiran adalah hiasan perjalanan dalam sholat maka biarkan saja namun kita tetap berjalan menuju ke allah. dalam berjalan ini kita jangan sampai terganggu oleh hiasan jalan tersebut. terus saja berjalan dan berjalan. ketika kita merespon pikiran yang masuk entah kita meladeninya atau mengusir pikiran tersebut sama saja kita memperhatikan pikiran tersebut dan hal ini berarti kita melupakan allah.