Mengapa lampu anda tidak dapat bersinar

saya menganalogikan antara syariat dan makrifat. antara menjalankan perintah Allah dan mengenal Allah. Lampu adalah ibarat syariat yang memiliki komponen yang rumit dengan kawat pijarnya dan perlengkapan pendukungnya. Mempelajari syariat ibarat mempelajari cara lampu bekerja, cara membuat kaca bolamnya, cara membuat kawat pijarnya dan seterusnya yang kalau dipelajari mungkin sampai matipun tidak akan selesai. Ibarat yang kedua adalah makrifat yang saya  ibaratkan sebgai listrik atau power yang bisa membuat lampu tersebut bekerja dan akhirnya dapat mengeluarkan sinar.

Analogi ini menggambarkan bahwa jika kita sudah menjalankan syariat namun tidak makrifat (mengenal Allah) atua tidak ada kesambungan dengan Allah maka sama saja sebuah lampu yang tidak dialiri arus listrik. Orang yang sholat orang yang puasa ataupun zakat dan haji jika tidak makrifat, tidak ada kesambungan hati kepada Allah maka ibadahnya tidak akan mengeluarkan sinar kehidupan, ibadahnya tidak akan memiliki pencerahan apapun, ibadahnya tidak akan memberikan kontribusi apapun baik di dunia apalagi di akhirat.

Maka saya sarankan selain anda mempelajari syariat dan menjalankan syariat tentunya, anda juga harus mencari cara bagaimana hati anda bisa merasakan kehadiran Allah dalam setiap ibadah yang anda jalankan, karena dengan kehadiran hati tersebut ibadah kita bisa bersinar. Saya tawarkan dua metode untuk bisa sambung kepada Allah ;

  1. Patrap
  2. Dzikir nafas 

Dua metoda ini dapat melatih anda untuk bisa sambung ke Allah sehingga ibadah anda akan lebih sempurna. 2 metode tersebut sangat ampuh untuk membuat sholat anda lebih bisa menghadirkan Allah sehingga ibadah apapun yang anda jalankan membuat bisa lebih khusyu. Metode ini merupakan metode turun temurun yang disampaikan secara pribadi namun saya memberanikan diri untuk menyusun menjadi sebuah metode yang saya bukukan tujuan saya agar seluruh umat islam dalam menjalankan ibadah bisa lebih khusyu dan bersinar.

ibadah anda harus dapat bersinar sebab kita hidup memiliki tugas sebagai khalifah yaitu memberikan manfaat kepada orang lain. Tugas kekhalifahan adalah tugas memberi manfaat kepada alam sekitar. Perpaduan antara makrifat dan syariat akan memberikan sinar yang bisa menerangi sekitar kita. Buatlah sekeliling anda bahagia dengan kehadiran anda jangan sebaliknya. Sholat kita bisa membuat kita bahagia dan membuat orang lain bahagia itulah ibadah yang bersinar.

Sudah saatnya umat islam kembali kepada Allah (tidak hanya kembali kepada quran dan hadis), dengan kita menyertakan Allah maka kekuatan spiritual itu akan kita dapatkan, dan dapat kita pergunakan untuk diri kita keluarga kita dan untuk masyarakat. jangan hanya syariat saja yang dipelajari dan dijalankan namun sumber kekuat harus juga kita jalankan yaitu menyambungkan hati atau menghadirkan Allah dalam setiap perbuatan kita.

Efek Kesadaran Tentang Allah Bukanlah Sesuatu (Syaiun)

ketika kita menggunanakan kesadaran kita ke Allah yang tiidak bisa disamakan dengan apapun maka ada efek yang ditimbulkan, yaitu efek pikiran kosong. Pikirann kosong ini menjadikan lebih tenang. Banyak orang yang berteori tentang mengosongkan pikuran tapi dengan usaha pikiran juga ya jelas usaha ini akan sia sia, bahkan usaha mengosongkan pikiran dengan pikiran akan menambah kuantitas yang kita pikir. Memaksa pikiran untuk kosong adalah pekerjaan berat bagi pikiran, yang ditunjukkan dengan semakin mengosongkan pikiran maka isi pikiran akan semakin kuat dan semakin kuat. Nah cara yang paling praktis adalah menggunakan kesadaran yaitu kesadaran Allah yang bukan sesuatu, akan berdampak pada kosongnya pikiran.

Kesadaran terhadap Allah yang bukan sesuatu ini memang kesadaran tinggi, artinya anda harus benar benar berlatih menggunakan kesadaran anda. Metode saya tentang dzikir nafas bisa menjadi laithan yang intensif untuk masuk dalam kesadaran yang kosong.

kosongnnya pikiran ini banyak di cari oleh orang orang sufi, pencari spiritual, dan yang benar benar belajar makrifat. Keadaan kesadaran Allah yang bukan sesuatu yang berdampak pada pikiran kosong sebenarnya adalah pintunya makkrifat. Dari pintu inilah awal pelajaran pelajaran pengenalan Tuhan akan mengalir, artinya Allah SWT sendirilah yang akan mengajarkan tentang Dirinya.

Kosong pikiran bukanlah tujuan karena kosong pikiran hanya sebagai alat saja, yang terpenting adalah pengajaran dari Allah SWT dari waktu ke waktu. Maka sangat jelas bahwa menyadari Allah yang bukan sesuatu ini menjadi “ilmu wajib” bagi siapapun yang belajar makrifat, belajar mengenal Allah.

Pengajaran Allah pada level makrifat memang tidak untuk diperdebatkan, jika diperdebatkan akan semakin membuat ilmu makrifat menjadi bahan cerita bahkan kalau saya menjadi sesuatu yang tidak pantas untuk disampaikan. Pengajaran Allah adalah bersifat pribadi antara hamba dengan Tuhannya, sehingga menjadi hal yang kurang sopanlah kalau pengajaran khusus ini disampaikan kepada yang belum sampai, karena pasti akan menimbulkan konflik, kebingungan dan mugnkin rasa iri dari yang mendengarnya. Kalau ingin ya belajarlah untuk menyadari Allah yang bukan sesuatu. Dengan berada pada keadaan ini maka nanti akan mendapatkan pengajaran langsung dari Allah juga. Pengajaran Allah ini seperti rizki harta artinya tidak bisa kita banding bandingkan dengan orang lain, berapapun yang diterima kita syukuri. Dan yang pasti tidak di pamer pamerkan karena akan menimbulkan keirian.

Saran saya belajarlah dan praktekan dzikir nafas dengan sungguh sungguh insya Allah nanti akan menemukan keadaan kesadaran Allah yang bukan sesuatu (laa kamitslihi syaiun)

Sudah tidak jamannya belajar makrifat

Sejak makrifat dipelajari, dibuat teori, dibuat buku, di adakah pengajian khusus makrifat maka makrifat menjadi suatu yang sulit, menjadi suatu yang di awang awang, seperti membahas bulan yang kita tidak pernah mungkin bisa kesana “hanya astronot saja yang bisa”, sama persis seperti pelajaran makarifat yang sekarang ini … hanya para Nabi dan Rasul saja serta para wali para syehk saja yang bisa makrifat. Lebih parah lagi ilmu makrifat ini dikuasai oleh para mursyid yang artinya belajar makrifat harus melalui beliau, dengan berbagai tingkat dan maqom, yang akhirnya makrifat ini menjadi eksklusif dan semakin tidak terjamah oleh orang orang “awam”. Tambah lebih parah lagi belajar makrifat dibuat tingkatan atau maqom pada setiap maqom harus di buka atau harus mendapat ijazah dari guru mursyid. wadddooouuuh menambah rentetan ‘sulitnya belajar makrifat”. Hanya untuk mengenal Tuhan saja begitu berlikunya harus melalui birokrasi yang panjang yang mungkin kalau dijalani sampai matipun tidak akan sampai. nah masih ada satu lagi yang membuat para calon murid makrifat ini tidak berani melangkah untuk belajar makrifat secara langsung sebab ada ketakutan yang amat sangat jika belajar makrifat tanpa guru mursyid, ketakutan yang tidak beralasan yang selalu disampaikan oleh para guru mursyid yaitu “jangan belajar tanpa guru nanti sesat”…. yaah memang yang bikin sesat atau tidak sesat  itu guru mursyid, wali, manusia? ya jelas  tidak lah yang membuat manusia ini sesat ini ya Allah. Dan sangat tidak mungkin kita belajar mendekat dan mengenal kepada Allah lalu Allah begitu kejamnya menyesatkan hambanya yang mau mendekat ke beliau, padahal Beliau sendiri yang menyatakan bahwa barang siapa yang bersungguh sungguh ingin bertemu dengan Ku maka akan ketemu dengan Ku.

mungkin saya ini orang aneh yang  berani menentang birokrasi makrifat ini, ya kenapa tidak berani karena memang apa yang terjadi sekarang ini banyak kesalahan dalam proses bermakrifat, yang berakibat pada orang malas untuk makrifat, orang malas untuk mengenal Allah dampaknya ibadah yang dilakukan hanya asal asalan saja tanpa landasan makrifat. Apa artinya ibadah tanpa landasan makrifat.

sudah bukan jamannnya belajar makrifat mengandung arti bahwa kita harus segera mempraktekan dan mengamalkan makrifat ini dalam bentuk perilaku. Mengenal Allah itu tidak susah yaitu cukup menggunakan kesadaran kita lalu kita gunakan untuk ibadah dan untuk perbuatan sehari hari. Apa sih susahnya menggunakan kesadaran kita , misalnya ketika maka saya sadar bersama Allah, ketika jalan saya sadar Allah ada di dekat saya, ketika sholat saya sadar saya sedang menghadap Allah dan seterusnya. Itulah makrifat yang sebenarnya, tidak ada gunanya belajar makrifat sampai jakarta sampai banyuwangi sampai solo… tapi kalau hatinya tidak ada Allahnya lalu untuk apa?…

makrifat itu simple makrifat itu sederhana lebih sederhana dari pada syariat lebih mudah dari pada menghafal alquran, belajar ilmu tajwid dan lainnya…pokoknya makrifat itu paling mudah dibanding ilmu agama islam yang lainnya. hanya ada lima huruf untuk bisa bermakrifat itu yaitu “SADAR” dengan sadar Allah maka kita sudah bermakrifat. Untuk saat ini tinggalkan guru mursyid tinggalkan buku makrifat tasawuf dan sudah mulai bergerak untuk sadar Allah. Beberapa kali saya mendapat wajangan dari Bapak Haji Slamet Utomo kitabmu masukkan ke almari, lalu almari itu di kunci dan kuncinya buang ke laut. makna dari wejangan ini adalah bahwa kita harus sudah mulai berperilaku sadar Allah dalam segala hal nanti Allah sendiri yang akan mengajarkan kita tentang makrifat itu. Allah itu lah mursyid sejati asal kita ihlas dalam mendekat dan menyadari Allah dalam segala hal maka Allah akan mengajari kita bagaimana makrifat yang sebenarnya.

tulisan saya ini merupakan kegundahan hati saya yang selalu kalau orang mau belajar makrifat keluhannya adalah takut sesat, belum waktunya, tidak ada guru mursyid yang pas, takut tidak ada yang membimbing…. dan lain sebagainya sumpek rasanya merasakan keadaan ini padahal kita semua umat islam ini harus makrifat. saya merasa seolah makrifat ini di asingkan agar orang tidak bisa beragama dengan benar. Makrifat di jauhkan dari umat agar ibadahnya tidak bisa sempurna, lha kalau sudah begini lalu bagaimana islam ini mau bangkit … maka wajar saja kalau kekacauan islam ini semakin ramai, ibadahnya hanya sebagai ritual tanpa makna, padahal seharusnya ibadah ini menjadi kekuatan utama. marilah bersama saya membangun peradaban makrifat di kalangan umat islam ini. dekatkan lagi makrifat ke umat islam, orang awam, ustad, syeh, atau siapapun marilah kita bermakrifat sama sama tanpa birokrasi yang bertele tele. cukup gunakan lima huruf “SADAR”. jangan terlalu dipelajari jalani saja insya Allah kita dituntun Allah tapi kalau hanya dipelajari pasti syetan akan menyesatkan. Allah hanya memberikan petunjuk bagi siapapun yang menjalankan bukan hanya yang belajar belajar belajar tanpa mau menjalankan.

maaf jika ada sahabat yang tidak berkenan dengan tulisan saya ini. dan silahkan jika ada pertanyaan atau keberatan dengan tulisan saya ini silahkan dituliskan di kolom komentar.

Jadilah sang Pencipta

harap baca sampai habis, jangan anda membaca berhenti karena ada pemahaman positif dari tulisan saya ini, jika tidak selesai kemungkinan anda akan menjadi bingung atau malah salah tafsir dari tulisan ini. Baik  saya akan menjelaskan sedikit yang saya ketahui kenapa kita harus menjadi Allah SWT. Untuk menjadi Allah SWT bukan seperti yang terjadi sekarang ini, orang melakukan dzikir orang mempelajari akhirnya dia secara jiwa terjebak dalam bersatu dengan Allah. Tulisan saya yang satu ini berbeda. Kalau yang lain lebih fokus kepada penyatuan dengan Allah kalau tulisan ini lebih fokus dengan akhlak kita sebagai hamba yang mengambil logika logika ketuhanan.

Ketika anda menjadi pencipta dan menciptakan alam semesta ini maka seharusnya apapun yang terjadi pada ciptaan itu pasti kita akan menerimanya. Kalau ada aturan yang datang dari Allah maka sebagai pencipta apa apa yang diciptakan pasti mengikuti dengan rela dan suka hati.

Orang yang belajar menuju ke Allah yang akhirnya berada pada penyatuan dengan Allah maka harus berani meninggalkan ego nya untuk beralih kepada Ego Ilahi sehhingga apa apa yang berjalan di muka bumi ini dia hadapi dengan senyuman dan rasa senang karena segala sesuatu yang terjadi adalah perbuatan yang membuat alam semesta.

orang yang mengaku makrifat tapi masih ada perbedaan jarak antara dirinya dengan keadaan semesta berarti belum makrifat. penyatuan yang benar atau bahkan masuk level berikutnya yaitu ke fana an seharusnya terimplikasi kedalam kehidupan sehari hari. Orang belajar tasawuf atau orang belajar makrifat tiidak sebatas pada praktek menunggaling kawula gusti atau fana Fillah tapi harus terwujud dalam perbuatan. Dimana dia akan bisa menyatu juga dengan penderitaan dengan musibah dengan keberuntungan dengan kebahagiaan dan seterusnya.

jadilah sang pencipta berarti kita harus benar benar menghilangkan ego kita dan menerima segala sesuatu yang sudah dicipta, yang menciptakan adalah Allah SWT, yang berbuat adalah Allah SWT maka jadilah sang pencipta sebagai tahap Awal menghilangkan ego diri. Tahap penyatuan merupakan tahap pertama yang tidak boleh berhenti kepada tahap manunggal kita harus bersih untuk bisa menghilangkan ke aku an menuju fana fillah. jadi, menjadi sang pencipta adalah meniadakan diri kita sampai pada perbuatan dan sifat tidak hanya Dzat-nya saja.

demikian semoga kita yang berjalan meniadakan ego, meniadakan ananiyah, meniadakan ke aku an, diberikan rahmat Allah sehingga benar benar menemukan arti sebenarnya dari pada ber Tuhan.

Berdoanya orang makrifat dan berdoanya orang syariat

perbandingan ini seperti halnya kalau kita membandingkan bagaimana kita melihat sebuah ombak di pantai. kalau orang syariat melihat bahwa yang bergerak itu adalah ombak tapi kalau orang makrifat yang bergerak bukanlah ombah tapi air laut. Bisa juga di analogikan begini kalau orang syariat melihat angin itu yang bergerak adalah debu tapi kalau orang makrifat melihat angin yang bergerak bukanlah debu tapi ada udara yang bergerak. Tentunya dua duanya adalah benar tidak perlu diperdebatkan, masing masing memegang kebenarannya sesuai dengan tingkatan ilmunya. Demikian pula dengan berdoa antara orang makrifat dan orang syariat akan ada perbedaan yang jelas.

dalam tulisan ini saya tidak menganggap diri saya sudah makrifat tapi saya ingin memaparkan perbedaan saja. sehingga nantinya kita akan mengetahui hal hal yang membedakan tersebut. Kalau orang makrifat dalam berdoa dia akan melihat bahwa doa harus benar benar sambung dulu ke Allah, ada kesadaran kedekatan dengan Allah baru dia minta (al baqoroh 186). berbeda dengan orang syariat yang berdoa tanpa mengindahkan siapa yang dia minta, dekat atau jauh dengan Allah bagi orang syariat tidak menjadi perhatiannya.

perbedaan lagi kalau orang syariat berdoa karena sekedar memenuhi syariat saja misalnya doa pagi doa petang doa sehabis sholat , doa doa yang dipanjatkan sangat tekstual tanpa mengindahkan hakikinya memohon. sekali lagi orang syariat tidak peduli dengan siapa dia berdoa, hal sangat berbeda dengan orang makrifat yang berdoa selain bersandar pada syariat dia juga sangat memperhatikan makna komunikasi dengan Allah sewaktu berdoa.

perbedaan yang paling mencolok antara orang syariat dan orang makrifat adalah ketika berdoa kalau orang syariat hanya “membaca doa” sedangkan orang makrifat “memohon meminta kepada Allah” . Doa yang sekedar membaca doa, seperti membaca teks pancasila ketika upacara bendera, tapi kalau berdoa (memohon dan meminta) seperti kita datang ke seseorang untuk meminta bantuan.

nah sekali lagi bahwa ini tidak perlu kita perdebatkan , jika anda membaca tulisan saya ini cukup evaluasi sendiri sendiri saja apakah kita masuk wilayah hanya syariat atau kita sudah masuk wilayah makrifat.

Menjadi murid dari Guru Makrifat

Guru makrifat itu mengajarkan bukan lagi dengan fisik, tapi dia akan mengajarkan menggunakan ruhaninya. maka kadang tidak match antara jasadnya dengan apa yang dia ajarkan. saya akan mengambil contoh secara umum yaitu apa yang terjadi pada nabi Khidir dan Nabi Musa. Nabi Khidir mengajarkan kepada Nabi Musa apa apa yang berbeda dengan ruhani nabi Khidir. Ruhani beliau sudah menangkap kalau si Anak ini kalau besar akan berbuat jahat dengan orang tuanya yang sholeh, yang kemudian anak tersebut di bunuh oleh nabi khidir. kejadian ini tentunya membuat nabi musa bertanya tanya. Kenapa sekelas Nabi Khidir membunuh anak yang tidak berdosa.

Cerita Nabi Khidir diatas tentunya memberikan suatu pelajaran bagi kita bahwa jika kita  belajar makrifat kepada guru makrifat maka kita harus siap dengan hal hal yang di luar nalar. saya pernah silaturahmi kepada seorang kyai, beliau adalah sering dipanggil dengan Mbah Kusnan (Alm) tinggal di matesih karanganyar solo. Ketika saya bertamu ada seorang tamu yang lain di samping saya. tiba-tiba Mbah Kusnan menuduh tamu disamping saya kalau tamu saya tersebut sering berbuat zina. Dengan bahasa yang sangat kasar. Sayapun terdiam dan tamu itupun terdiam seolah dia mengakui bahwa dia sering berzina. kemudian tiba waktu sholat dzuhur sayapun ambil wudlu dan disamping saya Tamu tadi yang dikatakan Mbah Kusnan sering berzina. tamu tersebut bilang ke saya. Iya Mas benar apa yang dikatakan Mbah Kusnan tadi saya sering berbuat zina, dan mulai saat ini saya akan berhenti berbuat zina. Ternyata perkataan yang kasar dan bagi orang bisa membuat sakit hati karena dikatakan didepan umum, ternyata tidak membuat dia sakit hati tapi membuat dia sembuh dari perbuatan zina.

nah orang makrifat mendidik murid muridnya dengan cara yang kadang tidak bisa diterima oleh akal kita. untuk itu ketika berniat untuk belajar makrifat kita harus selalu berkhusnudzan kepada Guru Makarifat tersebut. karena kita yakin bahwa Guru tersebut adalah baik, maka apa yang beliau lakukan semuanya adalah baik.

Menjadi murid dari guru makrifat harus selalu rendah hati baik di hadapan guru atapun tidak. kesambungan hati harus selalu dijaga. sekali kita suudzan maka ilmu akan berhenti, sebab sekali lagi bahwa guru makrifat mengajarkan lebih pada spiritualnya bukan pada pengetahuannya. makrifat adalah sprititual nah pelajaran spiritual yang asli bukan melalui penjelasan penjelasan tapi melalui sambungan ruhani dan jiwa.

Menjadi murid dari guru spiritual harus dewasa dan harus memiliki kecerdasan emosi. jika tidak dewasa lebih baik jangan berguru dulu, Bergurulah ketika sudah siap.

makrifat ya makrifat tapi profesional dong….

Mengaku makrifat tapi tidak profesional bisa bikin dunia kacau…..Allah itu profesional, sholat ada waktunya, haji ada tempatnya, zakat ada penerimanya dan semua aturan Allah pasti, tidak ada unsur menunda tidak ada unsur seenaknya. Tidak mungkin proesional menunggu ilham…. waduh bisa kacau… bagaimana Pak keputusannya para pelangganan sudah menunggu? maaf belum ada ilham, belum ada daya ….. waduh….

Kalau memang benar makrifat Allah pasti memberikan petunjuknya kapanpun diperlukan. Makrifat itu diatasnya keteraturan bukan dibawahnya kateraturan. artinya hidup kita teratur belum tentu makrifat, tapi kalau makrifat pasti teratur, disiplin dan profesional.

Inilah kenapa banyak yang makrifat tapi kehidupannya secara duniawi dibawahnya orang yang tidak makrifat tapi profesional. sehingga hal yang demikianpun perlu kita pertanyakan benarkan makrifatnya?. fenomena ini mungkin yang menyebabkan orang enggan untuk bermakrifat sebab kalau makrifat pasti hidupnya susah, miskin dan tidak mengenakkan.

Orang makrifat akan terlihat dalam kehidupannya, orang makrifat pasti hidupnya dicukupi Allah. Orang makrfiat pasti hidupnya di dunia happy, dan tentunya happy ending juga. Bagi kawan kawan yang sedang belajar makrifat atau yang sedang mencari guru makrifat carilah guru yang kehidupan duniawinya menyenangkan, dan lihat ajarannya apakah membuat hidup tambah sengsara atau membuat hidup tambah bahagia, jika membuat sengsara ya saya sarankan tinggal saja guru spiritual yang demikian. Kalau ada guru makrifat mengajak untuk tidak bekerja, tidak beraktivitas mencapai kehidupan dunia yang lebih baik, ya tinggalkan saja. Kalau dunianya saja sengsara bagaimana nanti di akhirat?.

ya kembali ke judul diatas…. makrifat tetap profesional.