cara cepat mencapai puncak marifat

ada satu pertanyaan pak bagaimana cara cepat mencapai puncak marifat?, lha memang makrifat ada dasar ada puncak? menurut saya makrifat adalah satu titik, ketika kita bertemu titik itu maka ya itu, tidak ada yang lain. nah perkara di dalam makrifat itu menimbulkan ilmu ya itu ilmu , ilmu makrifat, kalau makrifat sendiri ya cuma ada satu ya itu.

dan cara mencapai makrifat tidak ada cepat tidak ada lambat, kita pakai cara cepat malah lambat kita pakai cara lambat eh malah cepat. jadi dalam belajar makrifat jangan mentargetkan cepat atau sangat cepat, yang kita lakukan sebaiknya berjalan dengan istiqomah dan penuh keberserahan diri kepada Allah, hanya itu caranya.

 

Apa beda syariat dengan hakikat

Semua perintah Allah itu mengandung suatu makna, perintah Allah itulah syariat dan makna dibalik perintah itu lah hakikat. misalnya kenapa kita dalam shalat ada perintah sujud karena agar kita pasrah  berserah diri kepada Allah. sehingga yang namanya syariat adalah perintah sujud dalam shalat sedangkan hakikatnya adalah kita berserah diri kepada Allah SWT.

nah jelas bedanya kan, jadi kalau kita mengamalkan syariat kita harus tahu hakikatnya. Percuma saja kita hanya menjalankan perintah tapi tidak tahu untuk apa diperintah. contohn tadi dalam shalat ada perintah sujud tapi jiwa kita tidak berserah kepada Allah. 

Tidak menjalankan hakikat ini menyebabkan ibadahnya terasa kering dan tidak memiliki kandungan apa apa. maka mau tidak mau belajar shalat harus belajar hakikat, belajar puasa harus belajar hakikat , belajar dzikir harus belajar hakikat, dan semua yang diperintahkan Allah harus kita pelajari hakikatnya.

Mengapa lampu anda tidak dapat bersinar

saya menganalogikan antara syariat dan makrifat. antara menjalankan perintah Allah dan mengenal Allah. Lampu adalah ibarat syariat yang memiliki komponen yang rumit dengan kawat pijarnya dan perlengkapan pendukungnya. Mempelajari syariat ibarat mempelajari cara lampu bekerja, cara membuat kaca bolamnya, cara membuat kawat pijarnya dan seterusnya yang kalau dipelajari mungkin sampai matipun tidak akan selesai. Ibarat yang kedua adalah makrifat yang saya  ibaratkan sebgai listrik atau power yang bisa membuat lampu tersebut bekerja dan akhirnya dapat mengeluarkan sinar.

Analogi ini menggambarkan bahwa jika kita sudah menjalankan syariat namun tidak makrifat (mengenal Allah) atua tidak ada kesambungan dengan Allah maka sama saja sebuah lampu yang tidak dialiri arus listrik. Orang yang sholat orang yang puasa ataupun zakat dan haji jika tidak makrifat, tidak ada kesambungan hati kepada Allah maka ibadahnya tidak akan mengeluarkan sinar kehidupan, ibadahnya tidak akan memiliki pencerahan apapun, ibadahnya tidak akan memberikan kontribusi apapun baik di dunia apalagi di akhirat.

Maka saya sarankan selain anda mempelajari syariat dan menjalankan syariat tentunya, anda juga harus mencari cara bagaimana hati anda bisa merasakan kehadiran Allah dalam setiap ibadah yang anda jalankan, karena dengan kehadiran hati tersebut ibadah kita bisa bersinar. Saya tawarkan dua metode untuk bisa sambung kepada Allah ;

  1. Patrap
  2. Dzikir nafas 

Dua metoda ini dapat melatih anda untuk bisa sambung ke Allah sehingga ibadah anda akan lebih sempurna. 2 metode tersebut sangat ampuh untuk membuat sholat anda lebih bisa menghadirkan Allah sehingga ibadah apapun yang anda jalankan membuat bisa lebih khusyu. Metode ini merupakan metode turun temurun yang disampaikan secara pribadi namun saya memberanikan diri untuk menyusun menjadi sebuah metode yang saya bukukan tujuan saya agar seluruh umat islam dalam menjalankan ibadah bisa lebih khusyu dan bersinar.

ibadah anda harus dapat bersinar sebab kita hidup memiliki tugas sebagai khalifah yaitu memberikan manfaat kepada orang lain. Tugas kekhalifahan adalah tugas memberi manfaat kepada alam sekitar. Perpaduan antara makrifat dan syariat akan memberikan sinar yang bisa menerangi sekitar kita. Buatlah sekeliling anda bahagia dengan kehadiran anda jangan sebaliknya. Sholat kita bisa membuat kita bahagia dan membuat orang lain bahagia itulah ibadah yang bersinar.

Sudah saatnya umat islam kembali kepada Allah (tidak hanya kembali kepada quran dan hadis), dengan kita menyertakan Allah maka kekuatan spiritual itu akan kita dapatkan, dan dapat kita pergunakan untuk diri kita keluarga kita dan untuk masyarakat. jangan hanya syariat saja yang dipelajari dan dijalankan namun sumber kekuat harus juga kita jalankan yaitu menyambungkan hati atau menghadirkan Allah dalam setiap perbuatan kita.

Efek Kesadaran Tentang Allah Bukanlah Sesuatu (Syaiun)

ketika kita menggunanakan kesadaran kita ke Allah yang tiidak bisa disamakan dengan apapun maka ada efek yang ditimbulkan, yaitu efek pikiran kosong. Pikirann kosong ini menjadikan lebih tenang. Banyak orang yang berteori tentang mengosongkan pikuran tapi dengan usaha pikiran juga ya jelas usaha ini akan sia sia, bahkan usaha mengosongkan pikiran dengan pikiran akan menambah kuantitas yang kita pikir. Memaksa pikiran untuk kosong adalah pekerjaan berat bagi pikiran, yang ditunjukkan dengan semakin mengosongkan pikiran maka isi pikiran akan semakin kuat dan semakin kuat. Nah cara yang paling praktis adalah menggunakan kesadaran yaitu kesadaran Allah yang bukan sesuatu, akan berdampak pada kosongnya pikiran.

Kesadaran terhadap Allah yang bukan sesuatu ini memang kesadaran tinggi, artinya anda harus benar benar berlatih menggunakan kesadaran anda. Metode saya tentang dzikir nafas bisa menjadi laithan yang intensif untuk masuk dalam kesadaran yang kosong.

kosongnnya pikiran ini banyak di cari oleh orang orang sufi, pencari spiritual, dan yang benar benar belajar makrifat. Keadaan kesadaran Allah yang bukan sesuatu yang berdampak pada pikiran kosong sebenarnya adalah pintunya makkrifat. Dari pintu inilah awal pelajaran pelajaran pengenalan Tuhan akan mengalir, artinya Allah SWT sendirilah yang akan mengajarkan tentang Dirinya.

Kosong pikiran bukanlah tujuan karena kosong pikiran hanya sebagai alat saja, yang terpenting adalah pengajaran dari Allah SWT dari waktu ke waktu. Maka sangat jelas bahwa menyadari Allah yang bukan sesuatu ini menjadi “ilmu wajib” bagi siapapun yang belajar makrifat, belajar mengenal Allah.

Pengajaran Allah pada level makrifat memang tidak untuk diperdebatkan, jika diperdebatkan akan semakin membuat ilmu makrifat menjadi bahan cerita bahkan kalau saya menjadi sesuatu yang tidak pantas untuk disampaikan. Pengajaran Allah adalah bersifat pribadi antara hamba dengan Tuhannya, sehingga menjadi hal yang kurang sopanlah kalau pengajaran khusus ini disampaikan kepada yang belum sampai, karena pasti akan menimbulkan konflik, kebingungan dan mugnkin rasa iri dari yang mendengarnya. Kalau ingin ya belajarlah untuk menyadari Allah yang bukan sesuatu. Dengan berada pada keadaan ini maka nanti akan mendapatkan pengajaran langsung dari Allah juga. Pengajaran Allah ini seperti rizki harta artinya tidak bisa kita banding bandingkan dengan orang lain, berapapun yang diterima kita syukuri. Dan yang pasti tidak di pamer pamerkan karena akan menimbulkan keirian.

Saran saya belajarlah dan praktekan dzikir nafas dengan sungguh sungguh insya Allah nanti akan menemukan keadaan kesadaran Allah yang bukan sesuatu (laa kamitslihi syaiun)

Sudah tidak jamannya belajar makrifat

Sejak makrifat dipelajari, dibuat teori, dibuat buku, di adakah pengajian khusus makrifat maka makrifat menjadi suatu yang sulit, menjadi suatu yang di awang awang, seperti membahas bulan yang kita tidak pernah mungkin bisa kesana “hanya astronot saja yang bisa”, sama persis seperti pelajaran makarifat yang sekarang ini … hanya para Nabi dan Rasul saja serta para wali para syehk saja yang bisa makrifat. Lebih parah lagi ilmu makrifat ini dikuasai oleh para mursyid yang artinya belajar makrifat harus melalui beliau, dengan berbagai tingkat dan maqom, yang akhirnya makrifat ini menjadi eksklusif dan semakin tidak terjamah oleh orang orang “awam”. Tambah lebih parah lagi belajar makrifat dibuat tingkatan atau maqom pada setiap maqom harus di buka atau harus mendapat ijazah dari guru mursyid. wadddooouuuh menambah rentetan ‘sulitnya belajar makrifat”. Hanya untuk mengenal Tuhan saja begitu berlikunya harus melalui birokrasi yang panjang yang mungkin kalau dijalani sampai matipun tidak akan sampai. nah masih ada satu lagi yang membuat para calon murid makrifat ini tidak berani melangkah untuk belajar makrifat secara langsung sebab ada ketakutan yang amat sangat jika belajar makrifat tanpa guru mursyid, ketakutan yang tidak beralasan yang selalu disampaikan oleh para guru mursyid yaitu “jangan belajar tanpa guru nanti sesat”…. yaah memang yang bikin sesat atau tidak sesat  itu guru mursyid, wali, manusia? ya jelas  tidak lah yang membuat manusia ini sesat ini ya Allah. Dan sangat tidak mungkin kita belajar mendekat dan mengenal kepada Allah lalu Allah begitu kejamnya menyesatkan hambanya yang mau mendekat ke beliau, padahal Beliau sendiri yang menyatakan bahwa barang siapa yang bersungguh sungguh ingin bertemu dengan Ku maka akan ketemu dengan Ku.

mungkin saya ini orang aneh yang  berani menentang birokrasi makrifat ini, ya kenapa tidak berani karena memang apa yang terjadi sekarang ini banyak kesalahan dalam proses bermakrifat, yang berakibat pada orang malas untuk makrifat, orang malas untuk mengenal Allah dampaknya ibadah yang dilakukan hanya asal asalan saja tanpa landasan makrifat. Apa artinya ibadah tanpa landasan makrifat.

sudah bukan jamannnya belajar makrifat mengandung arti bahwa kita harus segera mempraktekan dan mengamalkan makrifat ini dalam bentuk perilaku. Mengenal Allah itu tidak susah yaitu cukup menggunakan kesadaran kita lalu kita gunakan untuk ibadah dan untuk perbuatan sehari hari. Apa sih susahnya menggunakan kesadaran kita , misalnya ketika maka saya sadar bersama Allah, ketika jalan saya sadar Allah ada di dekat saya, ketika sholat saya sadar saya sedang menghadap Allah dan seterusnya. Itulah makrifat yang sebenarnya, tidak ada gunanya belajar makrifat sampai jakarta sampai banyuwangi sampai solo… tapi kalau hatinya tidak ada Allahnya lalu untuk apa?…

makrifat itu simple makrifat itu sederhana lebih sederhana dari pada syariat lebih mudah dari pada menghafal alquran, belajar ilmu tajwid dan lainnya…pokoknya makrifat itu paling mudah dibanding ilmu agama islam yang lainnya. hanya ada lima huruf untuk bisa bermakrifat itu yaitu “SADAR” dengan sadar Allah maka kita sudah bermakrifat. Untuk saat ini tinggalkan guru mursyid tinggalkan buku makrifat tasawuf dan sudah mulai bergerak untuk sadar Allah. Beberapa kali saya mendapat wajangan dari Bapak Haji Slamet Utomo kitabmu masukkan ke almari, lalu almari itu di kunci dan kuncinya buang ke laut. makna dari wejangan ini adalah bahwa kita harus sudah mulai berperilaku sadar Allah dalam segala hal nanti Allah sendiri yang akan mengajarkan kita tentang makrifat itu. Allah itu lah mursyid sejati asal kita ihlas dalam mendekat dan menyadari Allah dalam segala hal maka Allah akan mengajari kita bagaimana makrifat yang sebenarnya.

tulisan saya ini merupakan kegundahan hati saya yang selalu kalau orang mau belajar makrifat keluhannya adalah takut sesat, belum waktunya, tidak ada guru mursyid yang pas, takut tidak ada yang membimbing…. dan lain sebagainya sumpek rasanya merasakan keadaan ini padahal kita semua umat islam ini harus makrifat. saya merasa seolah makrifat ini di asingkan agar orang tidak bisa beragama dengan benar. Makrifat di jauhkan dari umat agar ibadahnya tidak bisa sempurna, lha kalau sudah begini lalu bagaimana islam ini mau bangkit … maka wajar saja kalau kekacauan islam ini semakin ramai, ibadahnya hanya sebagai ritual tanpa makna, padahal seharusnya ibadah ini menjadi kekuatan utama. marilah bersama saya membangun peradaban makrifat di kalangan umat islam ini. dekatkan lagi makrifat ke umat islam, orang awam, ustad, syeh, atau siapapun marilah kita bermakrifat sama sama tanpa birokrasi yang bertele tele. cukup gunakan lima huruf “SADAR”. jangan terlalu dipelajari jalani saja insya Allah kita dituntun Allah tapi kalau hanya dipelajari pasti syetan akan menyesatkan. Allah hanya memberikan petunjuk bagi siapapun yang menjalankan bukan hanya yang belajar belajar belajar tanpa mau menjalankan.

maaf jika ada sahabat yang tidak berkenan dengan tulisan saya ini. dan silahkan jika ada pertanyaan atau keberatan dengan tulisan saya ini silahkan dituliskan di kolom komentar.

Jadilah sang Pencipta

harap baca sampai habis, jangan anda membaca berhenti karena ada pemahaman positif dari tulisan saya ini, jika tidak selesai kemungkinan anda akan menjadi bingung atau malah salah tafsir dari tulisan ini. Baik  saya akan menjelaskan sedikit yang saya ketahui kenapa kita harus menjadi Allah SWT. Untuk menjadi Allah SWT bukan seperti yang terjadi sekarang ini, orang melakukan dzikir orang mempelajari akhirnya dia secara jiwa terjebak dalam bersatu dengan Allah. Tulisan saya yang satu ini berbeda. Kalau yang lain lebih fokus kepada penyatuan dengan Allah kalau tulisan ini lebih fokus dengan akhlak kita sebagai hamba yang mengambil logika logika ketuhanan.

Ketika anda menjadi pencipta dan menciptakan alam semesta ini maka seharusnya apapun yang terjadi pada ciptaan itu pasti kita akan menerimanya. Kalau ada aturan yang datang dari Allah maka sebagai pencipta apa apa yang diciptakan pasti mengikuti dengan rela dan suka hati.

Orang yang belajar menuju ke Allah yang akhirnya berada pada penyatuan dengan Allah maka harus berani meninggalkan ego nya untuk beralih kepada Ego Ilahi sehhingga apa apa yang berjalan di muka bumi ini dia hadapi dengan senyuman dan rasa senang karena segala sesuatu yang terjadi adalah perbuatan yang membuat alam semesta.

orang yang mengaku makrifat tapi masih ada perbedaan jarak antara dirinya dengan keadaan semesta berarti belum makrifat. penyatuan yang benar atau bahkan masuk level berikutnya yaitu ke fana an seharusnya terimplikasi kedalam kehidupan sehari hari. Orang belajar tasawuf atau orang belajar makrifat tiidak sebatas pada praktek menunggaling kawula gusti atau fana Fillah tapi harus terwujud dalam perbuatan. Dimana dia akan bisa menyatu juga dengan penderitaan dengan musibah dengan keberuntungan dengan kebahagiaan dan seterusnya.

jadilah sang pencipta berarti kita harus benar benar menghilangkan ego kita dan menerima segala sesuatu yang sudah dicipta, yang menciptakan adalah Allah SWT, yang berbuat adalah Allah SWT maka jadilah sang pencipta sebagai tahap Awal menghilangkan ego diri. Tahap penyatuan merupakan tahap pertama yang tidak boleh berhenti kepada tahap manunggal kita harus bersih untuk bisa menghilangkan ke aku an menuju fana fillah. jadi, menjadi sang pencipta adalah meniadakan diri kita sampai pada perbuatan dan sifat tidak hanya Dzat-nya saja.

demikian semoga kita yang berjalan meniadakan ego, meniadakan ananiyah, meniadakan ke aku an, diberikan rahmat Allah sehingga benar benar menemukan arti sebenarnya dari pada ber Tuhan.

Berdoanya orang makrifat dan berdoanya orang syariat

perbandingan ini seperti halnya kalau kita membandingkan bagaimana kita melihat sebuah ombak di pantai. kalau orang syariat melihat bahwa yang bergerak itu adalah ombak tapi kalau orang makrifat yang bergerak bukanlah ombah tapi air laut. Bisa juga di analogikan begini kalau orang syariat melihat angin itu yang bergerak adalah debu tapi kalau orang makrifat melihat angin yang bergerak bukanlah debu tapi ada udara yang bergerak. Tentunya dua duanya adalah benar tidak perlu diperdebatkan, masing masing memegang kebenarannya sesuai dengan tingkatan ilmunya. Demikian pula dengan berdoa antara orang makrifat dan orang syariat akan ada perbedaan yang jelas.

dalam tulisan ini saya tidak menganggap diri saya sudah makrifat tapi saya ingin memaparkan perbedaan saja. sehingga nantinya kita akan mengetahui hal hal yang membedakan tersebut. Kalau orang makrifat dalam berdoa dia akan melihat bahwa doa harus benar benar sambung dulu ke Allah, ada kesadaran kedekatan dengan Allah baru dia minta (al baqoroh 186). berbeda dengan orang syariat yang berdoa tanpa mengindahkan siapa yang dia minta, dekat atau jauh dengan Allah bagi orang syariat tidak menjadi perhatiannya.

perbedaan lagi kalau orang syariat berdoa karena sekedar memenuhi syariat saja misalnya doa pagi doa petang doa sehabis sholat , doa doa yang dipanjatkan sangat tekstual tanpa mengindahkan hakikinya memohon. sekali lagi orang syariat tidak peduli dengan siapa dia berdoa, hal sangat berbeda dengan orang makrifat yang berdoa selain bersandar pada syariat dia juga sangat memperhatikan makna komunikasi dengan Allah sewaktu berdoa.

perbedaan yang paling mencolok antara orang syariat dan orang makrifat adalah ketika berdoa kalau orang syariat hanya “membaca doa” sedangkan orang makrifat “memohon meminta kepada Allah” . Doa yang sekedar membaca doa, seperti membaca teks pancasila ketika upacara bendera, tapi kalau berdoa (memohon dan meminta) seperti kita datang ke seseorang untuk meminta bantuan.

nah sekali lagi bahwa ini tidak perlu kita perdebatkan , jika anda membaca tulisan saya ini cukup evaluasi sendiri sendiri saja apakah kita masuk wilayah hanya syariat atau kita sudah masuk wilayah makrifat.