dalam pembahasan saya tentang perbedaan dzikir napas dan dzikir nafas tentunya kita paham bahwa napas itu jasad dan nafas itu adalah jiwa atau nafs. latihan latihan pada level nafas akan memahamkan kita tentang hakikat dari pada nafas yaitu diri, diri yang mengamati gerak napas. Ketika kita bergerak menuju kepada Allah maka kita akan paham siapa yang bergerak tersebut. lebih jelas lagi ketika anda duduk pada wilayah tersebut maka keadaan diri sejati akan sangat jelas. Inilah yang saya maksud dengan dzikir nafas.
memisahkan diri untuk menjadi dua yang bernapas dan yang mengamati napas yaitu nafs. sampai disini anda akan mengenal yang mana yang nafs, inilah dasar untuk mengenal Tuhan. man arafa nafsahu barang siapa yang mengenal nafsnya, faqod arafa rabbahu maka dia akan mengenal Tuhannya.
Tag Archives: makrifat
Mendekat ke Allah hingga tidak terasa
Karena Allah tidak dapata di kenal dengan rasa maka kita mendekat kepada Allah tentunya hingga tidak berasa atau tidak merasakan apa apa lagi. selama kita masih merasakan sensasi sensasi tentang pendekatan kepada Allah berarti kita belum mampu untuk meleburkan diri. ibarat Ombak belum melebur menjadi air laut. seorang ombak seharusnya sadar bahwa dirinya bukanlah ombak seharusnya dia sadar bahwa ombak hanya penampakan yang sebenarnya tidak nampak dari air.
sebagai manusia yang semakin sadar dengan keadaan diri yang sebenarnya maka kita pun dituntut untuk menemukan Tuhan kita secara sebenarnya. kenyatataan bahwa Allah tidak dapat dirasakan lagi harus benar benar dicapai sehingga kita mampu beribadah tanpa kesombingan, beramal bukan karena dunia, dan melakukan semua perbuatan hidup semua berdasarkan ihlas lillahi taala. bagaimana mungkin kita mampu beramal dengan iihlas jika kitanya masih ada, jika ego kita masih ada. ingat syetan menggoda melalui ego kita. dan ingat bahwa hanya orang orang yang ihlas sajalah yang tidak mampu digoda oleh syetan.
saya sarankan bagi anda yang sudah melakukan pendekatan diri kepada Allah melalui metode patrap, lakukannlah sekarang dengan patrap berserah diri kepada Allah. jika anda mendekat dan mendekat kepada Allah namun tidak berserah maka sebenarnya yang mendekat adalah nafsu anda, bagaimana anda dapat mendekat kepada Allah dengan nafsu, Pelajaran patrap 1 sebenarnya tidak untuk menuju kepada Allah tapi belajar untuk meninggalkan tubuh ini. setelah tubuh terlepas dari Ruh maka selanjutnya adalah melakukan penyerahan diri secara total. Sebab penyerahan diri tanpa meninggalkan jasad juga tidak mungkin.
ketika anda berserah diri kepada Allah maka anda akan merasakan bahwa Allah benar benar “tdak ada” nah didalam rasa ketiadaan itulah anda benar benar berada pada kebenaran keTuhanan.
Anda yang tidak paham dengan apa yang saya tulis ini sebaiknya “pass” saja tidak perlu anda berpikir yang macam macam. hentikan dan browsing yang lain, bagi anda yang paham segera duduk relaks, tinggalkan tubuh anda pelan pelan dan keluarlah dengan penuh kepasrahan kepada Allah. …GO..
ya Allah terimalah Ruh kami kembali….
1 hal cara belajar spiritual
namanya spiritual artinya kita belajar kepada Allah bukan kepada siapapun bahkan kepada yang manusia yang menyampaikan. Manusia yang menyampaikan juga sedang belajar sama seperti yang lain. Kalau kita belajar kepada orang yang sedang belajar maka kita akan terombang ambing karena orang yang sedang belajar kepada Allah dia juga akan diajari dengan ini dan itu , kalau pelajaran bagus ok, tapi kadang pelajarannya tidak masuk akal. Kita belajar dengan Allah nah sekarang mari kita perbaiki cara belajar spiritual kita kepada guru atau ustad. Caranya adalah dengan melihat daya yang terpancar dari apa yang beliau sampaikan bisa melalui lisan ataupun tulisan. daya itu adalah powernya dan apa yang disampaikan melalui lisan ataupun tulisan adalah saluran energi itu yang akan masuk ke dalam diri kita. Maka lihatlah siapa yang sebenarnya memberikan energi itu , kita saksikan bukan guru kita tapi Allahlah yang memberikan energi kita. Ketika kita memandang Allah sebagai yang memiliki energi maka kita tidak akan tersesat dalam belajar spiritual.
Guru atau ustad seperti kran air saja, yang sebenarnya memiliki air adalah Allah SWT. Tapi ingat kita harus tetap hormat dan berterimakasih kepada guru kita, karena keridloannya guru kepada kita sangatlah penting. Semakin guru ridlo kepada kita maka energi ilmu yang mengalir dari Allah akan semakin besar kita terima. maka dalam tradisi taklim seorang murid tidak boleh melakukan hal hal yang dapat menyebabkan gurunya tidak ridlo.
jadi dalam belajar spiritual Allah yang kita lihat, guru yang menyampaikan kita hormati.
Ilmu Perjalanan Makrifat
Belajar makrifat yang perlu di ketahui adalah bagaimana kita bisa terjaga untuk terus lurus kepada Allah. Ilmu ini jika tidak dikuasai dan tidak dilatih maka ketika makrifat akan terjadi penyimpangan yang terus menerus dan tidak terasa akhirnya kita menjadi lambat dalam belajar makrifat atau bahkan malah tersesat. Penyakit yang paling parah tapi juga paling halus adalah perasaan bahwa perjalanannya terasa benar dan inilah jalannya. Perasaan terasa benar ini sebenarnya seperti pohon jatuh di tengah jalan yang menghalangi kita berjalan. Untuk itu ilmu perjalanan ini diperlukan.
kalau makrifatnya nanti Allah sendiri yang akan berikan, namun bagaimana kita bisa lurus dan istiqomah inilah yang perlu kita lakukan. Mustahil orang mampu belajar makrifat karena makrifat adalah pemberian Allah, tapi kalau bagaimana perjalanan itu maka itulah yang harus kita lakukan.
Berapa banyak orang belajar makrifat tersesat, digunakannya makrifat untuk kesaktian, untuk bisa ini dan itu, bahkan ada yang makrifat mengejar agar memiliki karomah. disesatkan syetan tidak terasa. Ingat tujuan awal yaitu mengenal Allah, dan yang namanya mengenal Allah tidak akan habis sampai kita mati. kalau kita akhirnya disibukkan dengan hal lain misalnya dengan mengobati orang, dengan dakwah kesana kemari, dan lupa akan perjalanan sebenarnya bahwa kita kembali kepada Allah maka berarti kita telah di belokkan syetan meski nampak baik.
tulisan ini untuk saya sendiri, bukan untuk orang lain karena pasti akan banyak yang menentang. Karena visi dan misi saya adalah untuk kembali kepada Allah bukan untuk menjadi DAI.
baiklah semoga kita semua mendapat petunjuk Allah agar kita selalu di jalan yang di ridloinya. amin
beda menjalankan syariat solat dan hakikat solat
Syariat solat adalah bagaimana rukun sah nya solat kita lakukan misalnya sujud dengan meletakkan 7 anggota tubuh ke lantai, gerakan dan bacaan lainnya yang sesuai dengan hukum hukum syariat. Bicara syariat bicara masalah hukum. masalah hukum kita akan bicara masalah benar dan salah. orang yang berkutat pada syariat (syariat minded) solatnya hanya sekedar memenuhi sahnya solat saja. dia tidak akan memperhatikan lebih jauh daripada solatnya lebih dari pada hukum hukum dalam menjalankan solat. misalnya kalau solat pikiran kemana mana sah maka ketika solat dia tidak merasa bermasalah dengan pikiran yang kemana mana ketika sholat. bahkan gerakan gerakan tangan semasa sholatpun tidak akan dihiraukannya , misalnya tangannya garuk garuk (padahal tidak gatal), atau mengelus elus jenggot. Dia tidak memperhatikan apakah sholatnya sedang diperhatikan Allah apa tidak, karena dia sendiri tidak yakin bahwa Allah ada disini.
Baik paragraf pertama diatas membahas syariat, sekarang kita bahas tentang hakikat solat. hakikat solat adalah menjalankan sisi kejiwaan dalam sholat. hakikat berada di atasnya menjalankan syariat. artinya kalau kita menjalankan hakikat, syariat kita harus sempurna. misalnya kita akan menjalankan hakikat sujud maka sujud kita harus sempurna terutama rukun sahnya dalam sujud. orang yang menjalankan meski dia tidak memperhatikan sujudnya secara syariat tapi dia tidak meninggalkan syariat sujud. Hakikat sujud adalah berserah kepada Allah. maka yang dia perhatikan hanya berserah kepada Allah, dia sudah tidak memperhatikan syariat sujudnya karena memang sudah sempurna.
inilah yang dilakukan para kaum sufi , sudah tidak memperhatikan syariat tapi juga tidak meninggalkan syariat. Fokus kaum sufi dalam menjalankan syariat bukan pada syariat tapi fokus kepada untuk apa dia perintahkan Allah untuk menjalankan ibadah tersebut. seperti sujud, kaum sufi sudah tidak memperhatikan sujudnya secara syariat karena memang sudah benar dan sempurna sujudnya, fokus kaum sufi adalah ketika sujud berserah diri kepada Allah secara total.
Bahaya Syariat Minded
Syariat bukanlah tujuan tapi syariat adalah tata cara. tujuan utama dalam beribadah adalah menghamba kepada Allah. inilah yang saya maksud hakikat. kalau kita fokus hanya syariat dan syariat maka hati kita akan kering meski amal kita banyak. orang yang hanya syariatnya saja yang dijalankan menyebabkan banyaknya ibadah yang dia lakukan berbanding lurus dengan kekerasan hatinya. Maka hanya syariat saja yang dijalankan dalam ibadah menyebabkan bahaya jiwa. inilah mungkin yang menyebabkan orang islam di hancurkan Allah dan direndahkan Allah karena solatnya masih tergolong munafik (antara yang diucapkan dalam solat tidak sesuai dengan apa yang ada di hati).
solatnya orang munafik
solatnya orang munafik selalu berkutat pada syariat. takbirnya tidak mengagungkan Allah meski tangan dan mulutnya bertakbir. sujudnya tidak berserah kepada Allah meski badannya sujud. inilah beberapa perilaku orang munafik di dalam sholat. tulisan ini mungkin agak keras, bukan agak lagi tapi sangat keras. hal ini untuk menyadarkan kepada kita “mbok ya kalau solat itu jiwanya juga solat”.
pelatihan pelatihan solat yang saya lakukan di indonesia maupun di malaysia, selalu menekankan kepada sinkronisasi antara syariat dan hakikat, harmonisasi antara tubuh dan Ruh. Sehingga diharapkan peserta dapat merasakan benar benar kebahagiaan ketika terjadi perpaduan antara gerak tubuh dan gerak Ruh.
Baiklah tulisan ini kami tujukan agar dalam solat kita paham arti pentingnya belajar hakikat. belajar hakikat ada dalam sholat. Insya Allah dengan menjalankan hakikat sholat ini maka kita akan mendapatkan banyak hal. Kedalaman sholat tidak ada batasnya, semakin kita mendalaminya dengan hakikat sholat maka kita akan mendapatkan banyak hal. semoga Allah mengajari kita. amin
Toleransi Beragama Perspektif Makrifat
Pertama kita harus memahami bahwa orang kafir adalah orang yang tertutup. Sebenarnya jika penutup itu terbuka maka dia akan beriman. Sebab tertutupnya itu karena dia sendiri yang menutupnya lalu Allah beri peringatan tetap saja menutup diri akhirnya Allah tutup sekalian sehingga semakin jauh dia dari kebenaran. Nah kita ini umat muslim ini adalah orang yang terbuka. Terbuka terhadap apa? terbuka terhadap hakikat keTuhanan. Kita melihat bahwa Allah adalah sesuatu yang tidak dapat kita persepsikan. Bedakan dengan orang tertutup (baca: kafir) yang menutup diri dengan patung, tuhan yesus, salib atau benda benda yang menghalangi dirinya dengan kebenaran Tuhan yang tidak dapat dilihat dengan apapun kecuali dengan penglihatan Ruh. Perbedaan inilah yang menjadikan toleransi beragama kita menjadikan “kasihan” kepada orang-orang yang tertutup mata ruhaninya terhadap kebenaran Ilahi.
Toleransi perspektif makrifat ini tentunya berbeda dengan toleransi dalam perpekstif dalam kehidupan beragama yang selalu menekankan pada perbedaan. Pada toleransi perspektif makrifat ini kita yang terbuka (iman), kita kasihan kepada mereka yang tertutup, dan tetap menghormati kehendak Allah yang menutup mata hati mereka yang tidak mampu melihat Allah. sikap toleransi ini menjadikan kita dapat bergaul dengan baik dengan mereka. Kita biarkan mereka beribadah versi ketertutupan hati mereka dengan berhala-berhala yang ada dalam pikirannya, sebagai bentuk penghormatan atas kehendak Allah kepada mereka.
Bergurulah kepada Abu Sangkan
saya mendapatkan ceramah dari seorang ahli sufi yang menerangkan tentang berteman dan berguru. Sufi tersebut membahas buku karya ibn Athoillah. Dalam menjelaskan kitab tersebut, Sufi tersebut menerangkan bahwa carilah murid atau guru yang dapat mengajakmu “naik” ke Allah. Dalam uraiannya bahwa yang dimaksud naik itu adalah yang dapat mengangkat spiritualitas kita. Kalau guru tersebut dapat mengangkat spiritualitas kita berarti guru tersebut memang benar benar memiliki kekuatan spiritual yang lebih dan dapat mengajarkan kepada orang lain.
Ketika saya mendengarkan cerama Ahli Sufi tersebut dalam menjelaskan kitab al Hikam, saya langsung terkoneksi dengan guru saya dan panutan saya Yang Dirahmati Allah Ust Abu Sangkan, Saya merasakan sendiri ketika saya bersama beliau spiritualitas saya terasa meningkat. Ketika saya berguru dengan beliau selama kurang lebih 12 tahun, saya merasakan bahwa saya benar benar merasa (subjektif) dekat dengan Allah. Dan saya mendapatkan banyak pencerahan spiritual dan pencerahan dalam hidup saya.
Saya merasa tidak salah pilih untuk menjadikan Ust Abu Sangkan sebagai guru spiritual saya, meski beliau selalu menganggap bahwa diri beliau adalah kawan seperjalanan (sahabat). Untuk itu, karena saya sudah membuktikan tentang guru saya ust Abu Sangkan maka saya mengajak kepada saudara ku untuk bersama-sama berguru kepada beliau. Tidak harus bertemu langsung, jika memang berhalangan. Saudaraku bisa menggunakan Buku karya beliau, CD CD yang beliau hasilkan, rekaman rekaman ceramah beliau, atau kirim fatihah kepada beliau insya Allah aliran spiritual beliau akan mengajak kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.
