Articles with psikologi islam

mengidentifiasikan diri sebagai kucing

pentingnya sadar Allah ini dapat menghindarkan diri dari identifikasi diri yang keliru. Ada yang merasa dirinya perempuan padahal laki laki, ada yang merasa laki laki padahal perempuan. kemudian ada juga yang merasa dirinya jelmaan dari nenek moyangnya yang sakti sehingga bisa sakti. Identifikasi yang salah ini memang dapat memunculkan kekuatan kekuatan seperti apa yang diidentifikasikan. Seperti kasus wanita norwegia ini yang merasa jelmaan kucing dan dapat berkomunikasi dengan kucing.
Sadar Allah menjadikan kita terjaga dari identitas yang salah. Kita sadar sebagai manusia sebagai mahluk Allah, kita sadar akan hal ini maka kita akan dapat menyadari sebagai manusia misalnya laki laki ya menjadi laki -laki, jadi intinya ketka kita sadar Allah maka kita akan menjadi fitrah yaitu seperti apa yang Allah ciptakan kepada kita, kita tidak akan merasa menjadi kucing, kita tidak akan merasa menjadi lawan jenis.
fenomena kisah wanita norwegia jelmaan kucing ini sebenarnya dia tenggelam alam bawah sadar tentang kucing. Penguasaan kucing yang ada di “bawah sadar” ini akan menjelma secara riil … hampir mirip dengan kesurupan. kalau kesurupan misalnya kesurupan kucing maka dia akan berubah menjadi kucing cuma ini temporer dan caranya menggunakan metode “masuk bawah sadar secara instan” tapi kalau yang kasus wanita norwegia ini lebih permanen secara terus menerus seperti orang laki laki yang menjadi perempuan.
baik metode efektif untuk terhindar dari perilaku salah atau menyimpang ini adalah dengan sadar Allah. http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160129205819-277-107698/kisah-wanita-norwegia-jelmaan-kucing/

Psikologi islam di tengah persimpangan jalan

psikologi islam sebagai ilmu yang berada di tengah, islam nggak begitu… psikologi juga menyimpang dari teori minstream. Sebagai aliran ilmu baru, wacana keislaman banyak menemui kendala, sayangnya ditambah dengan para pengusungnya yang masih ragu ragu apakah benar apa tidak, padahal ya sudah dikaji. nampaknya Para psikolog muslim ini masih takut dengan para ulama kyai jika hasil kajiannya mlenceng dari pendapat kyai dan ulama, sehingga benar benar psikologi islam ini di persimpangan jalan. Sebagai aliran keilmuan yang memiliki dasar yang jelas yaitu ilmiah seharusnya berani di “adu” dengan pendapat para kyai dan ulama. Jangan malah berpandapat bahwa psikologi islam bukan ilmu yang pasti bukan ilmu yang mutlak… meski iya tapi kalau ini menjadi prinsip akan bahaya sebab seperti aliran ilmu yang tidak punya dasar dasar yang jelas dan meyakinkan.

Psikolog islam harus berani menerjang jalur psikologi yang bukan islam, dan berani berpendapat jika memang hasil riset dan hasil kajiannya berbeda dengan pendapat para ulama. Ingat bahwa para kyai dan para ulama fokus ilmunya tidak ke psikologi sehingga kita bisa menang 1-0 untuk hal ilmu psikologi sehingga kita punya dasar untuk berbeda jika memang berbeda

kalau tidak berani dan dimulai sejak sekarang bagaimana psikologi islam ini akan berkembang. Umat islam sangat membutuhkan peran dari psikologi islam ini. bagaimana dzikir tidak dapat membuat hati tenang, shalat tidak dapat menjadi perbuatan yang dapat merubah perilaku.. padahal qurannya jelas … yang pasti yang bisa menjelaskan hal ini adalah psikolog bukan kyai atau ulama. kyai atau ulama tidak paham apa itu gelombang alva dan sebagainya nah menjadi tugas kita untuk berani mengatakan bahwa dzikir sebatas mulut tidak akan membawa jiwa tenang.

jangan sampai psikologi islam yang sudah dibangun sekian puluh tahun ini berada di persimpangan jalan yang tidak jelas arahnya. saya kira perlu adanya gebrakan gebarakan sehingga umat islam terutama melirik untuk mendengar penjelasan ilmiah dari psikologi islam. Gebrakan ini penting agar kajian di psikologi islam juga berkembang.

sudah tidak masanya lagi kita membahas paradigma psikologi islam, epitimologi psikologi islam dan sejenisnya seharusnya kita sudah mulai memberikan kemanfaat kepada umat tentang psikologi islam. kita teliti kita terapkan….. kita teliti kita terapkan jika perlu kita ¬†buat modul pelatihan yang sesuai dengan hasil penelitian. kalau memang agak beda dengan para ulama dan kyai tidak perlu takut. asal memang dilandasi dasar ilmiah yang kuat, tapi juga bila mendapat masukan harus terbuka, sehingga terus berkembang.

who am I

kalau kita melihat diri kita maka ada yang bersifat kasar dan halus, kata orang jawa ono badan wadag lan ono badan alus.. siapa kita sebenarnya.. ? ini suatu pertnayaan yang selalu kita tanyakan pada diri kita… ini adalah pertanyaan yang sangat wajar ketika kita menggali diri kita untuk apa kita diciptakan dan lain sebainya. kita sempat merenung .. iya ya kenapa ya saya ini diciptakan.. iya ya siapa saya…
baik kita kembali ke 2 unsur dasar manusia yaitu badan kasar dan badan halus. seringkali kita mengatakan bahwa ini adalah badanku…. dari kata kata ini saja kita dapat mengambil sebuah kseimpulan bahwa ada badan dan ada yang memiliki badan… ada badan dan ada Aku…. suatu unsur yang berbeda yaitu antara pemiliki dan yang dimiliki (badan) dimanakah saya? jelas saya adalah bukan badan saya adalah saya yang memiliki badan yaitu Aku.
perbedaan ini harus dipahami benar hingga taraf merasakan mana aku dan mana yang bukan aku.. sehingga jelas siapa diri kita sebenarnya.. dan ini bukan hal yang sulit…kita rasakan saja … ada yang berniat ada yang berbuat mengikuti niat … yang berniat adalah aku dan yang mengikuti niat adalah tubuhku…
pada sesi pertama ini coba kita pahamkan diri kita tentang perbedaan aku dan yang bukan aku tadi…