Articles with salafi

makna syariat

Dalam makna syariat, umat Islam sering terjebak dalam pengertian sempit sehingga tak jarang kehilangan substansinya. Dan akibatnya, mereka hanya melakukan ibadah seremonial dan tidak mendapatkan sesuatu yang berharga yakni pembuka jalan menuju “kebenaran syariat”. Sikap terhadap shalat misalnya, betapa banyak nilai penghayatan dan kekhusyu’an yang terabaikan. Shalat bukan lagi sebagai kebutuhan dialog dan memohon petunjuk tetapi telah berubah sebagai kewajiban yang harus dipenuhi dengan berbagai macam larangan dan ancaman yang mengerikan. Sehingga terasa sekali muncul ketidaknyamanan dalam setiap melakukan syariat Islam. Hal ini tidak ubahnya seperti tawanan perang yang harus memenuhi kewajiban membayar upeti seraya terbayang betapa kejamnya sang penguasa.

quran tidak untuk ditafsirkan tapi di amalkan

kesibukan yang paling menyita banyak waktu umat islam adalah menfasirkan quran yang di dalamnya sebenarnya sudah tidak ada keraguan lagi …. orang banyak berdebat, mempelajari… dan menfasirkan… namanya menafsirkan setiap kepala memiliki penafasiran sendiri sendiri…. makanya banyak sekali tafsir tafsir al quran… dan di solo sendiri ini pun ada majelis yang mengkhususkan mbahas tafsir…
saking sibuknya membahas tafsir ….orang islam sampai lupa bahwa quran adalah untuk diamalkan …. penghargaan dari Allah adalah bagi mereka yang mengamalkan bukan yang menafsirkan.
pada tulisan saya seblumnya saya menuliskan bahwa quran adalah wahyu bukan tulisan atau bacaan yang ribut ditafsirkan, wahyu adalah petunnjuk unntuk segera diamalkan…dari pengamalan quran inilah nantinya akan keluar mukjizat….

apa bedanya islam liberal dengan kita (yang tidak liberal)

bedanya kalau islam liberal dia cerita bahwa dia liberal kalau kita ndak ngomong ngomong tapi perbuatan kita liberal… misal… gosok gigi dak pake siwak tapi pake odol… perang ndak pake pedang tapi pake senjata api… makan nggak pake tangan atau jari tapi pake sendok… silaturahmi tidak datang langsung ke temu orangnya tapi pake face book… he he … ternyata kita liberal juga…
cuma untungnya kita tidak cerita cerita sehingga tidak di hujat sana sini coba kalau kita ngomong bahwa kita sekarang meinggalkan siwak, kita meninggalkan jari untuk makan dan itu kita katakan “sudah bukan jamannya lagi” wah pasti kita juga akan dikatakan islam liberal…….