bukan manunggaling kawulo gusti

ada dua versi dalam mengartikan manunggaling kawulo gusti

  1. mengartikan bahwa manunggaling itu diibaratkan seperti bercampurnya antara kopi dan gula dimana sudah tidak bisa dibedakan lagi mana gula dan mana kopinya 
  2. ada juga yang mengartikan bahwa manunggaling kawulo gusti itu diibaratkan seperti garam yang di masukkan ke dalam lautan dimana garam sudah masuk ke lautan dan bersatu di lautan

Kedua pengertian tersebut tidak sama dengan kajian hakikat makrifat dalam islam. Sebab baik pengertian pertama dan kedua masih menggunakan ego, artinya masih mengandung makna bersatu atau manunggal. Yang pertama jelas sekali manunggalnya antara gula dan kopi yang kedua jelas sekali manunggalnya garam dengan air laut.

Di dalam kajian hakikat makrifat dalam islam tidak ada istilah bersatu, sebab konsep islam adalah berserah, ketika berserah total maka tidak ada lagi yang namanya aku yang ada adalah Aku. tidak ada lagi yang namanya ego tapi yang ada adalah diri.

Dalam islam sangat kuat sekali dalam peniadaan ego ini bahkan setiap amal ibadah mengharus kita untuk meniadakan ego (ananiah). Jadi pengertian manunggaling kawulo gusti hanya pas untuk sistem kepercayaan lain dan bukan islam. Islam jelas laa ilaha ilallah, artinya hanya Allah saja, tidak ada kita tidak ada aku dan tidak ada kami yang lebur.

pengertian ini untuk meluruskan pemahaman kita bahwa kaum sufi dan tasawuf tidak mengenal istilah manunggaling kawulo gusti, istilah ini jika dihembuskan oleh orang orang yang anti pati tasawuf yang selalu menuduh bahwa aliran tasawuf adalah sesat.

Apakah kita bisa bersatu dengan Allah

ini salah satu komoditi fitnah yang sering di lontarkan orang orang yang anti tasawuf, yang selalu “tidak paham dengan konsep menunggaling kawula gusti atau bersatu dengan Allah” mereka selalu meniupkan isu bahwa tasawuf itu sesat karena mengajarkan menunggaling kawula gusti atau bersatu dengan Allah. saya sebagai front pembela ulama tasawuf tidak terima … he he ..

nah begini bersatu dengan Allah dalam konsep islam ternyata memang tidak ada, konsep ini ada karena adopsi orang orang kejawen yang mencontoh islam tapi tidak mampu berada pada keadaan fana sebab Tuhan yang dipakai sudah salah. nah hal inilah yang menyebabkan konsep tasawuf yang di adopsi islam abangan ini kemudian di pakai sebagai puncak ilmu makrifat. Yang pada akhirnya karena mengacu pada ilmu tasawuf, maka ilmu tasawuf ini dituduh mengajarkan manunggaling kawulo gusti.

saya ingin meluruskan pemahaman yang benar tentang konsep bersatu dengan Allah, dalam konsep ketuhanan, Allah adalah Dzat yang tidak bisa disamakan dengan apapun, Allah ada Dzat yang berdiri sendiri dan tidak bisa disandingkan dengan apapun, maka sangat tidak mungkin kita bersatu dengan Allah SWT. Maka dalam islam tidak istilah manuggal atau bersatu atau wihdatul tapi yang ada adalah fana.

fana sangat berbeda dengan bersatu, Fana ini adalah penghilangan ego pada diri manusia. Konsep menghilangkan dan konsep bersatu pastinya akan berbeda. Konsep menghilangkan ataupun bersatu sangat terkait dengan bagaimana pemahaman kita tentang Allah. Jika Allah itu masih ada dalam pikiran kita maka akan terjadi wihdatul wujud, manunggaling kawula gusti atau bersatu dengan Allah, namun jika Allah itu ada dalam kesadaran kita bukan pada pikiran kita maka yang terjadi adalah pemfanaan ego atau penghilangan ego. Sebab sesuatu yang tidak ada dalam pikiran akan menyebabkan ego ini lenyap sebab tidak bisa lagi menjangkau ketinggian dari pada kesadaran tanpa pikiran ini. Ego letaknya ada pada jasad, sedangkan pikiran merupakan product dari pada jasad maka ego ini akan hilang jika pikiran kita kosong.

sehingga jawaban untuk pertanyaan diatas adalah mungkinkah bersatu jelas tidak mungkin. kalau bersatu berarti belum benar tapi jika itu dipertahankan dan di benar benar kan maka berarti tauhid kita sudah sesat, salah dan harus dikembalikan kepada sifat Allah yang tidak bisa disamakan dengan apapun , serta qiyamuhu binafsi.

Pengertian bersatu dengan Allah ( manunggaling kawulo gusti )

banyak diantara kita yang begitu mendengar bersatu dengan Tuhan atau dalam bahasa jawa disebut dengan manunggaling gusti dalam bahasa arab wihdatul wujud, pikirannya langsung mengerah kepada sesat. tapi memang pikiran ini bisa ada benarnya tapi juga bisa salah. baik untuk melihat lebih jelas mana yang salah dan mana yang benar mungkin tulisan saya berikut bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan mana yang salah dan mana yang benar.
yang mana yang bersatu
manusia ini ada dua unsur, nafs manusia dikatakan hidup jika ada dua unsur, unsur yang pertama adalah jasad dan unsur yang kedua adalah ruh. nah baik unsur jasad dan ruh adalah sama sama ada dalam diri kita. sekarang mari kita bahas mana yang bisa bersatu dan mana yang tidak.
1. jasad : jelas unsur ini tidak bisa bersatu karena jasad ini adalah ciptaan Allah, dia akan rusak dan menjadi tanah.
2. Ruh, coba baca dalam surat al hijr 29, yang menyatakan bahwa Ruh itu milik Allah (min ruhii) karena milik pasti dia akan kembali kepada Allah. nah kembalinya Ruh kepada pemiliknya inilah yang dinamakan dengan bersatu dengan Allah.
jadi jika kita bersatu dengan Allah maka jika yang dimaksud adalah Ruh maka benarlah apa yang diungkapkan tersebut. tapi jika yang di maksud adalah jasad jelas salah. karena sekali lagi tidak mungkin jasad yang merupakan ciptaan bisa bersatu dengan yang menciptakan.
terus bagaimana halnya dengan nafs. Nafs ini seharusnya melakukan penyadaran asal muasal Ruh yang milik Allah maka nafs harus melakukan penyerahan diri total kepada Allah (berislam), jika nafs menyerahkan diri kepada Allah maka jasad akan kembali kepada tanah dan Ruh akan kembali kepada Allah.

sensasi kembali kepada tanah dan kembali kepada Allah.
Anda, saya yakin, pernah melakukan penyerahan diri kepada Allah. ketika anda berserah tubuh anda relaks, kan, seperti ditarik gaya gravitasi bumi, nah itulah hakikat tanah yaitu kembali atau ditarik oleh bumi, kemudian ketika anda berserah kepada Allah maka seperti ada tarikan ke atas kan (tentunya bagi yang sudah pernah melakukan dalam patrap dan dzikir nafas) nah itulah sensasi Ruh kita kembali kepada Allah. jika penyerahan diri ini secara terus menerus dilakukan maka Ruh kita akan bersatu dengan Allah. dalam bersatu kepada Allah ambil pengertian yang sederhana saja, suami dan istri yang cerai kemudian rujuk kembali itu juga dikatakan bersatu. mainan puzle ketika sudah jadi juga dikatakan bersatu. atau apalah, pokoknya kembalinya Ruh kepada Allah ini saya namakan dengan bersatu. saya sendiri tidak tahu Allah dan Ruh itu keadaan wujudnya seperti apa. saya kira ini tidak perlu dibahas panjang lebar kalaupun dibahas saya yakin anda juga tidak tahu sebenarnya hubungan Ruh dengan Allah itu seperti apa. saya juga tidak melayani debat tentang hal ini, jika anda punya pemahaman lain silahkan ditulis di komen tapi tidak perlu menyalahkan apa yang sudah saya tulis (he.. he.. ra gelem disalahke)

(ilham saya dapatkan ketika sholat di masjid merdeka kartasura solo, pada saat sholat jamaah subuh)

mendalami bi ismi Allah (2) stage of wihdatul wujud

masih ingat cerita syeh siti jenar atau pun al halaj, ya beliau di fitnah dan akhirnya dibunuh … pada saat itu agama dijadikan kendaraan politik sehingga yang berseberangan pemahaman di bunuh dan disingkirkan. pada saat al halaj dan syeh sit jenar pemahaman mereka berbeda tentang ke Tuhanan pendalaman tentang hakikat ketuhanan dilandasi dengan rasa cinta yang sangat kuat dan total menyebabkan penyatuan antara yang mencintai dan yang dicintai yaitu Allah. keadaan ini merupakan tahap dari suatu perjalanan spiritual jadi wajar wajar saja, kenapa hal ini menjadi ketakutan yang mendalam …. sebab yang pertama adalah ketikdak tahuan orang akan fenomena psikologis semacam ini sehingga menyebutnya “sesat” padahal kalau orang yang menyesatkan tersebut mendalami pendekatan kepada Allah dengan rasa cinta yang kuat akan mengalami hal yang sama, sebab hal ini adalah sunatullah artinya secara psikologi memang demikian. yang kedua : ketakutan dianggap sesat, padahal tidak lah sesat.. sebab akan sangat berbeda antara al halaj dengan firaun la’natullah.. kalau al halaj karena cintanya kepada Allah sehingga kesulitan membedakan dirinya dan Allah tapi kalau firaun benar benar congkak dan ingin bersekutu dengan Allah.
pada tulisan saya kali ini saya ingin menjelaskan sedikit tentang mengapa seseorang bisa menjadi wihdatul wujud…. wihdatul wujud merupakan stage atau tahap dalam pencapaian spiritual dalam islam. keadaan ini banyak dialami oleh para ulama ulama yang benar benar mencintai Allah hingga kedalaman rasa yang tak bisa di lesankan. kedalaman rasa ini menyebabkan keadaannya tidak bisa di bahasakan. wihdatul wujud sebenarnya merupakan bahasa yang tidak bisa diartikan secara harfiah… itu adalah makna kias.. artinya mungkin maksud bersatu dengan Allah itu tidak bisa menggambarkan sebenarnya tentang apa yang dirasakan oleh al halaj atau pun oleh syeh siti jenar. sehingga kalimat wihdatul wujud potensial menjadikan fitnah bagi orang yang
1. tidak suka (biasanya orang yang mengaku salaf)
2. bagi orang tidak paham (tidak mau belajar dan mendekat ke Allah)
3. bagi orang yang “allah menjauhkan dirinya dari Allah sendiri” sebab mau tidak mau mendekat ke Allah harus melalui tahap wihdatul wujud untuk selanjutnya masuk ke alam FANA.
terkait dengan bi ismi Allah, jelas Allahlah yang melakukan segalanya termasuk apapun, menulis, berjalanm beribadah semua bi ismi Allah arti dalam persepktif spiritual tingkat tinggi Allahlah yang menjalankan bukan kita, laa haula walaa quwata ila billah

nyatakan bahwa Allah itu Ahad

menyatakan bahwa Allah adalah Ahad bukanlah sekedar mengatakan atau sekedar mengucapkan. makna menyatakan bahwa kita dengan segenap kesadaran kita mengakui bahwa Allah itu 1 artinya 1 yang meliputi segalanya, 1 yang paling dekat dengan kita. Allah paling dekat dengan kita dan meliputi segala sesuatu.

pemahaman Ahad dalam surat al ihlas sangatlah dalam dan harus dapat kita sadari. kalau pengertian dan arti atau makna kita mudah untuk mengerti namun pemahaman hingga masuk sampai kesadaran kita bahwa Allah adalah ahad harus melalui laku (experience) sehingga pemahamannya merupakan bentuk yang dapat disadari. Ahad bisa mengandung beberapa hal yang pertama Allah adalah 1, Allah itu luas, Allahitu meliputi segala sesuatu, Allah itu dekat nah keempat pemahaman itu harus menjadi satu tidak dapat dipisah pisah.

jadi karena Allah itu satu maka dia meliputi segala sesuatu, karena meliputi segala sesuatu berarti Dia Maha Luas, dan karena meliputi segala sesuatu berarti Allah sangat dekat dengan kita.

jika kita benar benar masuk dalam wilayah ini maka rasanya seperti kita menyatu dengan Allah (wihdatul wujud) tapi ingat bahwa wilayah ini harus segera kita tinggalkan karena wihdatul wujud adalah bagian dari perjalanan dimana kita harus melanjutkan perjalanan tersebut untuk menuju kepada yang penyerahan diri hingga mencapi maqom fana.

mengapa surat ini dinamakan dengan surat al ihlas… karena surat merupakan pelajaran untuk mencapai keadaan wihdatul wujud yang selanjutnya mencapaike fanaan. mengapa ihlas karena kita mengihlaskan diri kita untuk diliputi Allah yang maha Ahad, kemudian kita mengihlaskan lagi untuk mencapai keadaan fana .

surat ini sangat luar biasa… bentuk keihlasan yang sempurna ada pada surat ini. jika kita mengulang ulang surat ini dengan segenap kesadaran bahwa Allah satu, luas, meliputi dan dekat kita ulang 100x saja maka keadaan kesadaran kita akan berubah (maaf saya belum mengamalkannya), tapi saya memliki keyakinan akan hal tersebut.

how to get this ahad experience

  1. duduklah relaks
  2. mulailah silatun/sambungkan ke Allah
  3. gunakan kesadaran kita bahwa Allah dekat, rasakan hingga kita benar benar merasakan kedekatan dengan Allah
  4. perluas kesadaran kita dengan perlahan lahan  menyadari bahwa “yang dekat meliputi segala sesuatu” rasakan hingga kesadaran kita benar benar meluas , terima reaksi nya
  5. pertahankan posisi ini hingga kita benar benar mengalami keadaan Ahad yaitu wihdatul wujud bahwa aku bagian dari keseluruhan. pertahankan dulu jangan kemana mana biarkan Allah SWT memberikan kita pelajaran wihdatul wujud
  6. kemudian yang merasa menjadi aku, yang merasa dekat, dan yang merasa bagian dari keseluruhan melakukan penyerahan diri secara total kepada yang luas, yang dekat, dan yang meliputi segala sesuatu….(lakukan hingga benar benar fana, meninggalkan maqom wihdatul wujud/ manunggaling kawula gusti)

laku ini sebaiknya tidak di teorikan atau diperdebatkan, sebaiknya di praktekan dengan benar benar ihlas karena Allah.

beda firaun dengan al halaj, syeh siti jenar

kalau kesamaannya kan seakan akan mengaku dirinya Tuhan, tapi ada perbedaan yang sangat mencolok. kalau firaun mengaku dirinya tuhan dengan kesombongannya, tapi al halaj atau pun syeh siti jenar mengaku anal Haq tidak dengan kesombongannya tapi dengan ke fanaannya

jangan terjebak cinta

cinta itu rasa, dan rasa itu relatif, plus berbolak balik (qolb). ketika orang terjebak pada cinta maka dia sebenarnya masuk dalam dimensi rasa yang siap mengombang ambingkan dirinya. tingkatan rasa itu ada tiga.

1. rasa negatif…. benci, dendam, kecewa dll rasa rasa ini sangat tidak mengenakkan , dan merupakan tingkatan paling rendah

2. rasa positif … cinta, rindu, senang, dll rasa ini tidak mengenakkan juga namun orang tidak sadar bahwa rasa ini bisa menjebak dan mengombang ambingkan dirinya, level rasa ini menengah.

3. “di atas rasa” ini merupakan level rasa tertinggi yaitu rasa yang tidak berasa. saya menyebutnya di atas rasa, suatu keadaan yang tidak cinta, tidak senang, tidak susah … dan memang tidak ada rasa. ini merupakan level tertinggi dari wilayah rasa….

jangan terjebak cinta, kita seringkali menganggap cinta itu suatu yang sangat bernilai tinggi, cinta kepada orang tua, cinta kepada kekasih, cinta kepada siapapun kita akan terjebak. coba saja… cinta pada orang tua… akhirnya kita akan ditinggal mati, cinta pada kekasih pasti suatu waktu kita akan dibuat sakit olehnya….

cinta kepada Allah pun itu masih suatu proses perjalanan, seorang pecinta Allah pada level tertinggi tingkat cintanya tidak bisa membedakan mana diri nya dan mana Allah. tokoh tokoh sufi seperti syeh siti jenar, dan saya kira banyak tokoh sufi yang lain tidak mau terjebak dalam “rasa cinta” kepada Allah. beliau beliau membebaskan diri nya dengan rasa sehingga rasa itu hilang berganti dengan kefanaan dirinya.

maka bagi para pencari Tuhan jangan berhenti pada cinta jika sudah cinta… meningkatlah pada posisi atau wilayah pemfanaan diri beralih kepada “yg ada hanya ALLAH” itu lah hakikinya CINTA