Yang Penting Perjalanannya bukan Wilayahnya

Belajar menuju kepada Allah yang paling penting adalah perjalanan kita untuk menuju kepada Allah, jadi ke Allah hal yang sangat penting adalah aktivitas kita menuju kepada Allah. Misalnya ketika kita merendah di depan Allah ketika sholat maka yang paling penting adalah proses mendekat kita kepada Allah bukan perasaan kita berada di dekat Allah. Semakin kita mendekat maka akan ada perasaan dekat, namun jika kita merasa mendekat tapi berhenti mendekat maka lama lama perasaan dekat itu akan hilang. Boleh merasa dekat tapi jangan lama lama, perjalanan mendekat kepada Allah harus terus dilanjutkan.

Perjalanan menuju kepada Allah harus dilakukan terus menerus, makanya dalam spiritualitas islam tidak ada istilah sampai. Perjalanan seperti membuka tabir rahasia yang selalu ada karena Allah memang maha rahasia sehingga tidak akan pernah tidak rahasia Dia Allah akan selalu rahasia, inilah yang menjadi alasan mengapa kita harus selalu membuka tabir atau membuka hijab.

Fana sendiri pun yang merupakan puncak dari pada perjalanan spiritual dalam islam tetap harus diusahakan untuk fana lebih fana dan lebih fana lagi.Fana bukanlah terminal atau stage tapi fana adalah pintu makrifat yang di dalam pintu tersebut seperti lautan yang tidak bertepi, semakin kita memasukinya semakin luas alam kefanaan.

bak burung yang terbang dan lenyap

miraj seperti burung yang terbang lalu lenyap

Untuk itu dalam belajar makrifat kita harus terampil betul dalam melakukan perjalanan sebab kalau jalannya terseok seok, jalannya tidak lancar, sedikit sedikit berhenti tentunya akan memperlama proses perjalanan itu padahal kita tahu paling umur kita rata-rata 65an.

“Hadapkan wajahmu lurus-lurus kepada Agama Allah Yang telah berkenan menciptakan fitrah-kejadin manusia sesuai betul dengan Agama itu. Tidak ada perubahan pada kreasi Allah itu. Itulah Agama yang lurus; namun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”. (QS Ar Rum: 30)

kalau kita te rus Lurus menghadap Allah dalam perjalanan (suluk) maka kita akan menemukan kefitrahan kita tapi ketika dalam berjalan kita banyak tengok kanan dan tengok kira maka akan lama sampainya. dan mungkin kita akan tersesat karena kalau tidak lurus bukan lagi kita menuju kepada Allah tapi menuju ke yang selain Allah.