Articles with tahfidz

Kasihan Melihat Penghafal Al Quran

saya kasihan melihat penghafal Al Quran, dan mungkin para penghafal pun kasihan melihat sy, karena saya tidak hafal seperti mereka.

Saya kasihannya adalah kenapa masih menggunakan panah sedangkan pistol, Senjata ApiĀ  lebih mematikan.

kasihan saya yang lain, dengan menghafal waktu mereka habis untuk menghafal dan mengulang. Saya tidak bisa membayangkan ketika mereka sudah dewasa dan harus bekerja memenuhi kebutuhan rumah tangga dan disibukkan dengan urusan anak dan rumah serta pekerjaan. Bagaimana mereka bisa menjaga hafalannya. pasti butuh perjuangan ekstra

kasihan saya yang selanjutnya adalah keadaan tertekan secara psikis ketika mereka lupa akan hafalannya. karena bagi penghafal lupa akan hafalan merupakan dosa … padahal kita tahu bahwa semakin tua otak tidak semakin baik menyimpan tapi semakin aus dan semakin mudah lupa.

apalagi kalau anak anak… kalau yang lain bangga anak sudah hafal sekian jus sekian juz, kalau saya malah kasihan… kasihan karena otaknya hanya digunakan untuk fungsi yang “hanya menghafal” padahal masa kanak kanak adalah masa emas bagaimana anak mampu menggunakan otak kreatif nya dengan mengamati, mempelajari, menganalisa, dan kemampuan otak yang lebih tinggi. Otak diciptakan tidak untuk menyimpan tapi otak diciptakan Allah untuk berfikir. Coba saja kalau tidak percaya.. pasti banyak perintah untuk berfikir, mengamati, mencermati… dan tidak ada perintah untuk menghafal.

ya ini anggap saja omong kosong, sebab kalau anda anggap isi dan berbobot pasti anda akan marah marah kepada saya. dan pasti akan menyalahkan saya dan mengejek saya “berapa surat yang sudah anda hafal ?” … makanya tulisan ini anggap angin lalu saja.. dari seorang yang prihatin dengan keadaan umat islam ini.

saya lanjutkan ya .. kalau anda mau berhenti membaca silahkan, saya akan lanjut menulis saya

quran di turunkan tidak untuk dihafal tapi untuk di amalkan. hafal hanya alat saja untuk mengamalkan. ketika ada alat lain yang mempermudah untuk mengamalkan, kenapa masih menggunakan hafalan , kan cukup dengan membuka gadget yang ada terjemahannya dan tafsirnya kemudian amalkan itu akan lebih cepat mengamalkan.

jangan berkata bahwa ketika hafal akan lebih mudah mengamalkan, itu omong kosong, karena seseorang tidak akan bisa menjalankan suatu perintah jika dia tidak paham dengan perintah itu. Misalnya anda diberi surat perintah tapi berbahasa perancis dan anda sangat hafal dengan surat perintah itu maka apakah anda akan mengamalkan surat perintah itu? jelas itu tidak mungkin karena orang tersebut tidak paham dengan surat perintah yang berbahasa perancis.

ironisnya, banyak sekolah sekolah penghafal yang mendapat sokongan uang dariĀ  luar negeri, dan sekarang menjamur sekolah menghafal. Kita seharusnya curiga sebab kenapa menghafal di biayai, orang yang hafal di puja bak artis, coba kalau anda logika “adakah maksud lain dari orang luar itu untuk menghacurkan islam.. menjauhkan islam dari mengamalkan al quran menjadi sekedar menghafal” kalau kita jeli akan hal ini pasti akan geleng geleng kepala.. dan anda tahu siapa yang mendukung pendanaan tersebut… sebagian besar dilakukan oleh negara negara islam yang pro amerika… dan anda tahu bagaimana amerika dibalik dia adalah yahudi yang sangat anti pati dengan islam.

memerangi islam tidak harus dengan senjata, bagi mereka ngabisi uang dan ngabisin energi. Cukup di belokkan saja umat islam ini dari pedomannya. Dibelokkan dari mengamalkan menjadi menghafal.

he he santai dulu… tulisan saya pedas ya…. he he mari ngopi dulu kita nyantai… ambil nafas agak panjang dan coba terima tulisan saya jangan langsung menolak. coba telaah lagi sisi sisi kebenarannya , sementara abaikan sisi kesalahannya (jika memang anda menganggapnya salah… )

he he… dilanjut ngopinya … srupuut,,, maattt

 

menghafal adalah kompetensi terendah dalam proses pembelajaran

mengingat - menghafal
mengingat – menghafal

 

jika kita melihat taksonomi diatas maka mengingat atau kemampuan menghafal adalah kompetensi yang paling rendah yang ada dalam proses pendidikan atau dalam proses pembelajaran. Maka dalam proses pendidikan yang harus ditekankan dalam proses pembelajaran tidak boleh menekankan penghafalan. Jika dalam proses pembalajaran yang ditekankan adalah menghafal dan menghafal maka anak tidak akan memiliki kemampuan lebih dari pada sekedar menghafal. memang kalau ditanya ini dan itu sekitar hafalannya dia akan menjadi orang hebat yang bisa menghafal kitab atau buku setebal itu namun selebihnya dia tidak akan mampu atau sangat kurang kemampuannya. Kesibukannya tiap hari hanya menjaga hafalanya saja, karena memang kelemahan utama dalam menghafal adalah hilangnya hafalan jika tidak diulang ulang.

kompetensi terendah ini yaitu perintah untuk menghafal ini ternyata juga tidak ada dalam alquran, Al quran tidak menyebutkan kita untuk menghafal sesuatu. yang ada adalah perintah untuk berfikir, untuk mengamati, untuk meneliti dan mencermati. Kenapa Quran tidak ada perintah untuk menghafal karena memang menghafal tidak memberikan dampak kuat terhadap proses pembelajaran, dan cenderung membuang waktu. Kenapa membuat waktu ya… jika kita mengamati sessuatu, mencermati sesuatu maka otomatis kita akan hafal (meski hafalnya tidak hafal persis seperti “flashdisk”). tapi kalau kita hanya menghafal maka tidak akan mengerti apapun paling paling sebatas apa yang kita hafal.

Saat ini kita sangat dibantu oleh teknologi. dimana alat penyimpan data sudah sangat canggih. Bisa di flashdisk, di Android, di komputer bahkan Eyang google siap memberikan apapun yang kita tanyakan. jadi untuk apa lagi menghafal … kita harus meningkat ke kompetensi yang lebih tinggi lagi seperti yang diperintahkan al quran yaitu berfikir, mengamati, mencermati, meneliti dan yang paling bagus adalah mengamalkannya.