Articles with takwa

kenapa tasbih dilakukan dengan sujud

Mungkin ini menjadi salah satu benak pertanyaan yang ada pada kita. Kalau kita perhatikan di dalam shalat kita yaitu di sujud kenapa bacaannya adalah bacaan subhana yaitu bacaan tasbih. Bacaan ini bahkan tidak hanya di sujud tapi juga di rukuk. Dan kalau kita perhatikan baik di sujud maupun rukuk, semua kepala kita dibawah. Sangat ada hubungannya antara sujud rukuk dengan tasbih yang kita baca. Dan andapun pasti sudah bisa menjawab keterkaitan antara keduanya.

Bacaan tasbih sendiri di beberapa ayat quran, bahkan ketika shalat menyebutkan kesucian Allah maka imampun lalu melakukan sujud. nah apa-apa yang sering kita alami dan kita lakukan ini tentunya menjadi suatu pertanyaan yang harus terjawab. Kita menjalankan ibadah harus tahu makna di balik gerakan dan bacaan tersebut, sehingga pengaruh terhadap jiwa kita akan lebih mendalam.

tasbih dilakukan saat sujud bermakna bahwa jiwa kita harus grounding, jiwa kita harus lebih dari sekedar menerima tapi benar benar grounding. Dengan grounding ini maka segala kejadian apapun yang sedang kita hadapi tidak akan menyebabkan kita stress. kalau dalam kelistrikan, ada salah satu kabel yang kita groundingkan agar tidak nyetrum. ….

posisi grounding ini adalah posisi dimana kita paling dekat kepada Allah, itu artinya jika semakin grounding maka akan semakin dekat kita dengan Allah. Posisi ini sebenarnya juga menjadi syarat mutlak seorang hamba untuk berdoa maka ada salah satu Anjuran Rasulullah bahwa ketika kita dalam keadaan sujud maka berdoalah. Jadi ketika kita grounding maka kita berdoa memohon kepada Allah. Mungkin salah satu dari kenapa doa kita tidak terkabul karena tidak tepenuhinya syarat grounding ini.

Pelajaran grounding akan selalu kita bawa akan selalu kita pelajari karena ini memang pelajaran akhlak dasar setelah kita sadar Allah. Sadar Allah tanpa grounding nantinya tidak akan membawa kepada kebahagiaan dan keberuntungan. Berapa banyak orang hanya sebatas mengenal, sebatas makrifat tapi tidak memiliki “menerima Allah” dan kita lihat hidupnya tidak beruntung. Bahkan ada yang parah, seorang guru spiritual hidupnya dari pemberian murid muridnya. Coba kalau guru spiritual ini mau menerima Allah dan patuh (grounding) Pasti dia akan memberi bukan menerima. Maka saya sarankan kalau kita belajar spiritual cari guru yang hidupnya bukan dari pemberian murid tapi dari pemberian Allah. Guru yang seperti ini yang akan membawa keberutungan. Karena apa, karena hidupnya dicukupi Allah, dibahagikan berarti jalan spiritualnya sudah benar. Kalau guru hidupnya sengsara pasti ada yang salah dalam dirinya. 

kalau ingin hidup bahagia dunia akhirat, ya carilah guru spiritual yang memang dia hidup bahagia dunia akhirat. orang yang hidupnya bahagia di akhirat pasti di dunia bahagia, kalau di dunia bahagia pasti hidupnya dijamin oleh Allah SWT. Tidak ada dalam dirinya minta kepada manusia, pasti mintanya kepada Allah. Kalau ada guru sampai minta kepada murid nya berarti dia sendiri spiritualnya perlu dipertanyakan. Spiritual yang macam ini yang tidak akan membawa murid bisa bahagia dunia dan akhirat.

Mungkin beberapa dari pembaca akan berpikir bahwa tulisan saya ini benar atau tidak, ya… terserah saja, tapi yang pasti bahwa dengan grounding sujud dan menerima hidup kita akan dicukupi Allah, kalau tidak dicukupi berarti memang saat nya kita kembali kepada Allah. Kalau kita masih dicukupi maka kita akan dikehendaki untuk hidup. Dengan sujud dan grounding segala perintah akan terpampang jelas, dan tinggal kita jalankan. Orang yang tidak menjalankan perintah Allah berarti dia tidak grounding. Misalnya kita disuruh berdagang ya berdagang kita disuruh jadi driver ya jadi driver…. mana yang Allah perintah kan itu yang kita jalankan. Jangan hanya diam dan berdoa serta menggunakan kekuatan sadar Allah untuk meminta rejeki tanpa menjalankan perintahnya itu tidak akan membuat hidup kita  bahagia dan beruntung. 

baiklah tulisan panjang kebar ini intinya adalah bahwa dengan sujud ini maka jiwa kita grounding dan semakin grounging maka jiwa kita akan semakin tenang dan bahagia, dan semakin jelas perintah Allah dan semakin ringan kita menjalankan perintah Allah. Saya doakan semua pembaca diberikan pemahaman tentang hal ini amin.

Allah tidak menghendaki derajat pangkat dalam agama

kasta dalam islam jelas tidak ada, itu adalah jelas dari agama lain adanya kasta dan derajat. termasuk juga dalam islam tidak mengenal kasta awam, kasta alim, kasta syeh apalagi kasta habib. Semua umat islam adalah sama. Hanya satu hal yang membedakan dalam islam yaitu tingkat ketakwaan. dan derajat ketakwaan ini tidak ada hubungannya dengan surban, jubah, baju ala arab dan asesoris lainnya. Bahkan dalam islam tidak di bedakan antara yang bisa bahasa arab dan tidak, yang bisa baca tulisan arab dan tidak.. yang membedakan adalah bagaimana tingkat menjalankan atau tidak.

Maka sebagai orang awam jangan menempatkan diri orang awam tapi jadilah umat islam yang sama derajarnya disisi Allah SWT, demikian pula yang pernah belajar agama atau yang pandai bahasa arab tidak perlu mendudukkan dirinya lebih dari pada yang lain, dan berusahalah untuk tidak membagakan bahwa telah lulus kairo, mesir atau meksiko. tidak ada yang dibanggakan dari pada pandai bahasa arab, karena yang pandai bahasa inggris atau pandai bahasa jawapun juga tidak membanggakan kepandaiannya. jadilah muslim yang sama dengan yang lain.

penyebab kasta yang paling parah di masyarakat islam adalah kemampuan di bidang ghoib, seperti mampu menyembuhkan, menghilangkan penyakit, kesaktian seperti kebal dan sejenisnya serta model kesaktian lain misalnya penglarisan dan sejenisnya juga. seolah kalau sudah memiliki kemampuan ini seolah menjadi orang suci yang dipuja dan di kultuskan. Padahal ..tahu nggak sih.. kalau sebenarnya kesaktian dan sejenisnya tadi tidak ada hubungannya dengan ketakwaan, kesucian dan lainnya. Masyarakat kita banyak tertipu mengenai hal ini. sehingga kalau baru di panggil kyai kalau sudah sakti kalau belum kelasnya baru ustad.

membongkar paradigma ini sangat sulit, yang awam merasa nyaman dengan kawamannya karena dijamin masuk surga oleh kasta di atasnya seperti kyai atau kelas yang lebih tinggi, sedangkan yang kyai atai kasta tinggi sangat nyaman karena kemana mana di sanjung dipuja dikultuskan, hidupnya  dijamin dengan sedekah oleh kasta di bawahnya. sebuah penyakit yang sulit untuk disembuhkan. kesadaran untuk sederajat memang belum ada tapi saya akan membangun sebuah kesadaran akan Allah pada orang awam awam, saya akan sadarkan mereka seolah mereka ini orang terjajah yang tidak sadar kalau sedang dijajah. terjajah tauhidnya karena lebih menuhankan ulama kyai dari pada menuhankan Allah SWT. sampai sampai berdoa sendiri saja harus kyai dan ulama yang mendoakan, doa sendiri katanya tidak makbul kalau kyai makbul.. sungguh ini sebuah tanda bahwa pengkastaan itu ada. cara saya untuk menghilangkan budaya kasta dalam islam ini adalah dengan menyadarkan umat kepada Allah. dengan kesadaran akan Allah ini umat yang awam akan meninggalkan kyai dan ulama dalam hal berhubungan dengan Tuhan Allah. namun tentunya ini juga akan ditentang oleh para kyai dan ulama yang merasa berada di kasta lebih tinggi dari orang awam, mereka pasti marah dan jengkel dengan ajakan dan dakwah saya karena eksistensinya sebagai kasta yang lebih tinggi akan terganggu dan akan turun. tapi bagi kyai dan ulama yang tidak menganggap dirinya memiliki kasta yang lebih tinggi dari orang awam pasti beliau akan dengan senang hati dengan dakwah sadar Allah ini. Karena kyai dan ulama tersebut tugas nya terbantukan dengan program sadar Allah yang saya dakwahkan ini.