teknik : selaras-perintah untuk meminta anak melakukan sesuatu tanpa penolakan

Teknik menyelaraskan dengan anak ini ternyata menjadi senjata ampuh agar anak mau mengikuti apa yang dikehendaki orang tua. Seringkali dalam komunikasi orang tua kepada anak, belum terjadi keselarasan antara keduanya , orang tua sudah main perintah. Misalnya anak menggambar di tembok .. saat anak asyik menggambar orang tua langsung melarang.. ayo adik jangan menggambar di tembok… Perintah tanpa penyelarasan ini akan mengakibatkan penolakan perintah oleh anak. Penyelarasan orang tua dapat dilakukan misalnya dengan memberikan apresiasi terlebih dulu kepada anak… wah gambar apa itu, bagus ya.. bisa diceritakan ke mama…. (baru kemudian perintah) .. eh mama juga punya buku gambar bagus.. yuk gambar sama mama …. . Dengan selaras-perintah ini maka anak dengan suka rela mengikuti apa yang di kehendaki orang tua.

Sebagai orang tua sebaiknya menghindari konflik apapun dengan anak, karena konflik ini dapat merusah hubungan jiwa antara orang tua dan anak. Semakin sering orang tua konflik maka potensi terjadinya “lost contact” dengan anak akan semakin besar, dan jika sudah terjadi adanya lost contact ini maka perintah perintah orang tua kepada anak akan sulit dilakukan bahkan anak akan cendering melawan. Teknik menyelaraskan dengan anak teknik yang sederhana namun efektif untuk memberikan suatu perintah kepada anak. Teknik ini menggunakan prinsip “awake hipnosis” hipnosis sadar, atau juga “ilmu gendam” prinsipnya …selaras… selaras.. selaras… perintah.

Proses pengasuhan berlangsung secara terus menerus, maka teknik ini tidak boleh dihentikan, misalnya anak sudah besar atau sudah menikah…. tidak teknik penyelarasan antara orang tua dan anak ini harus terus di lakukan. Menyeleraskan antara anak kecil dengan anak yang besar prinsipnya sama , bahasanya yang berbeda. Anak yang sudah besar kita dapat melakukannya dengan misalnya menghargai hobi positifnya, kreasi atau bakat anak. Pastinya jika anak mendapatkan dukungan dari orang tua maka anak akan senang, nah ketika senang itulah saatnya anak diperintah. Misalnya “… kalau belajar musik jangan setengah setengah ya (pasti anak senang karena hobinya didukung orang tua)….. dan ingat kalau adzan sholat dulu (ini merupakan perintah setelah sebelumnya memberikan dukungan kepada anak)”.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *