teori kehidupan dan kenyataan kehidupan

hidup itu kalau di teorikan enak, renyah dan tepuk tangan pun menyeruak…. ya kebanyakan motivator demikian. Nah ketika menghadapi dunia nyata maka teori yang indah itu seolah hanya angan angan hanya impian. Ya ternyata memang kenyataan kehidupan ini adalah milik Allah SWt bukan milik motivator. Teori kehidupan kadang malah bertolak belakang dengan kenyataan kehidupan. sang motivator berkata “kita bisa… kita bisa… kita bisa …” tapi Allah yang punya kehidupan selalu berfirman “tidak ada kekuatan selain kekuatan Ku”. mau mengikuti motivator atau mengikuti Allah?

bahkan sekelas teori spiritual pun itu masih teori… di dunia tasawuf, di dunia spiritual di dunia ilmu makrifat semua masih dalam teori dan teori. Al Hikam pun teori ihya pun teori. Kita belajar al hikam kita belajar ihya, kita belajar teori spiritual dari ahli ahli nya dengan rangkaian kalimatnya yang rumit dan bisa di pahami oleh ahli spiritual tersebut. Semuanya tidak akan ada arti “kenyataan” sebelum kita mempraktekan. Kalau ada ahli spiritual minus praktek maka dan pasti ahli spiritual itu menyesatkan, kalau ahli spiritual itu hanya berteori dan berteori tanpa ada praktek …

kalau sudah menguraikan tentang kehidupan…. terus ngopo…. so what …  terjadi diskusi tentang kehidupan… tentang tuhan.. tapi kehidupan dia sendiri jauh dari kemakmuran… spiritualitas jeblok sama sekali tidak berakhlak, dan syariat dia tinggalkan. Orang yang meninggalkan aturan hidupnya pasti kacau, orang yang hanya berspiritual tapi meninggalkan syariat hidupnya pasti kacau.

teori kehidupan harus mendasarkan pada kenyataan kehidupan bahwa hidup itu harus dijalani tidak dijadikan teori dan hidup itu karena milik Allah maka yang harus kita ikuti ya apa yang menjadi aturannya Allah sehingga selalu matching, atau selalu pas. orang-yang-hanya-berspiritual

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *