tidak mengandalkan keyakinan kepada Allah

keyakinan kita kepda Allah jangan sampai membuat kita lebih mengandalkan keyakinan kita dari pada mengandalkan Allah itu sendiri. kita tidak bisa mengandalkan diri kita dengan yakin kepada Allah dari pada Allah sendiri sang Maha Mutlak. seringkali kita tidak bisa membedakan mana keyakinan kepada Allah dengan Allah itu sendiri. jika kita merasa keyakinan kita gagal misalnya dalam berdoa maka berarti kita mendandalkan keyakinan kita dari pada mengandalkan Allah itu sendiri.

sikap di atas keyakinan kita kepada Allah adalah sikap pasrah kepada Allah, sikap pasrah adalah sikap dimana kita sudah (have done) yakin kepada ALlah. untuk meninggalkan kekuatan keyakinan kita yang berasal dari EGO kita maka keyakinan itu harus kita rubah menjadi kepasrahan kepada Allah. Misalnya kita sakit tenggorokan kita yakin bahwa Allah menyembuhkan, kita rubah menjadi menyerahkan sakit tenggorokan tersebut kepada Allah

dan anda akan merasakan perubahan yang mendasar dari penyerahan tersebut. lebih hebat dari pada jika anda yakin bahwa Allah menyembuhkan

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

8 thoughts on “tidak mengandalkan keyakinan kepada Allah

  1. Assalamualaikum wbt.

    Daya kepasrahan dan penyerahan kepada Allah itu lebih tinggi berbanding hanya yakin sahaja.Iya kan maksudnya begitu Ustaz?

  2. Subkhanallah, yakin merupakan buah dari iman. Yakin yang benar sebagaimana ketika ibrahim dibakar oleh Raja Namrud dan Musa yang terjebak dipinggir lautan merah yang dikejar oleh firaun, dan Billal yang disiksa dipadang pasir oleh kaum qurais. Ataupun nabi Muhammad yang bersembunyi digua sur saat dikejar mau dibunuh. Jazakallah ustadz atas artikelnya. Mantap.

  3. pasrah barangkali bisa dianalogkan dalam rumus” aljabar” sebagai
    0/1=~.kepasrahan total pada Allah yang esa sungguh akan melahirkan suatu power yang luar biasa,pengalaman pribadi saat memasuki ruang operasi untuk kateterisasi rs harapan kita yang alhamdulillah dalam tempo 8 menit dinyatakan clean..Allahu Akbar..

  4. Asslmkm pak ustadz…trima ksh pencerahannya,semoga apa yg Allah ilhamkan pd pak ustadz semakin membawa manfaat buat bnyk org yg selama ini memahami “makna berserah diri”…kalau sy boleh berpendapat,kalau kt brsandar pd keyakinan akn kekuasaan Allah atas sgala sesuatu rasanya smua msh di ranah akal pikiran yg bs bercampur ego,”merasa yakin”..merasa yakin Allah mendengar,mengabulkan,melihat…dst…dst…masih memakai energi keakuan diri kita akan keyakinan itu…tapi begitu kita berserah diri…sdh tdk ada lagi diri kita ini yg ada hanya diriNYA…wlpn kita misalnya punya masalah,kesulitan,..Allah lebih tahu mengapa kesulitan itu ditimpakan kpd kita dan bukan pd org lain,ketika hati kita “yakin”Allah akan membantu menyelesaikan kesulitan kita,tapi serasa masalah msh berputar2 di otak kita dan msh membebani hati kita masalah itu…tapi begitu kita memahami bhw Allah-lah sang dalang yg Maha mengatur,membimbing,menggerakkan,mencukupi,sgl kbuthan makhlukNya dan Dialah pemegang remote controle utk segla kseimbangn di alam semesta ini akhirnya dengan mudahnya hati ini berserah utk penyelesaian dan kecukupan sgla urusan kita hanya pd yg memegang kendali remote controle itu..yaitu Allah yg Maha kuasa atas sgl sesuatu…begitu kt menyerahkan/mempercayakan yg memang sang dalangnya,shg semua akn terasa lepas,ringan dan merdeka hati ini….tanpa terasa tiba2 kita digerakkan ke suatu tempat…dan disitulah “jln keluar” itu tempatnya…sungguh pak sy dlm hidup jg pernah nubruk sana nubruk sini krn sy memakai ego, nafsu,dan akal yg msh dlm keyakinan itu…masya Allah sangat melelahkan mental,hati,dan energi…tapi tdk ketemu jalannya…subhanallah..begitu berserah diri…kalo org jawa bilang trnyata “njlekethek ae dalane…unpredictable…dan kdg malah kita remehkan sblumnya…”Mohon maaf pak ustadz..kepanjangan ya comment saya…tapi itulah pak kalau ngrasani ttg qodrat-irodat Allah kok asyik sekali…”
    Demikian sharing sy smg bs brmanfaat….insya Allah.. amin (tapi mohon koreksinipun nggih ustadz)
    Matur nuwun

  5. Maaf sebelumnya, yakin itu adalah pandangan yang berdasarkan rasa keimanan. Rasulullah menyuruh kita belajar “ilmu Yakin” karena dengan keyakinan maka hubungan kita kepada Allah menjadi berarti, kokoh, dan dengan demikian kehambaan kita menjadi bernilai di sisi Allah. Kepasrahan tanpa keyakinan tidak bisa dipahami; bagaimana seseorang bisa pasrah kepada Yang Maha Kuat jika dia tidak yakin bahwa yang Maha Kuat itu ada? Jadi maaf, premis anda cukup aneh.

    Masalah umat Islam sekarang justru pada krisis ilmu keyakinan. Kita mengira jika sudah tahu berarti yakin. Tahu Allah maha Mengawasi tapi korupsi, berzina, tahu Allah Maha Kaya tapi sedekah tetap sedikit. Ternyata tahu saja belum cukup untuk bertaqwa. Yakin seringkali diidentikkan pula dengan keimanan padahal dari segi bahasa saja jelas berbeda.

    Diriwayatkan, suatu hari para sahabat mendatangi Nabi Muhammad SAW dengan cemasnya setelah melihat suatu kejadian yang ganjil. Mereka melihat usungan mayat seorang pendeta Nasrani, yang mana setiap melewati sebuah kampung maka seluruh orang yang sakit seketika sembuh. Nabi menyatakan bahwa itulah buah dari keyakinan, apatah lagi jika yang diyakininya benar. Peristiwa yang kami saksikan sendiri terjadi di pedalaman kalimantan, ada seorang tokoh dayak yang setelah mengucap kalimah syahadat mampu berpindah tempat sejauh ratusan meter padahal ketika ditanya beliau tidak mengerti sama sekali arti dari bacaan syahadat tersebut dan mengaku mewarisinya dari nenek moyang. Di sini kita dapat menangkap hikmah bahwa keyakinan (ilmu yakin) dengan yang diyakininya (ilmu/pengetahuan iman) adalah dua hal yang berbeda.

    Sang pendeta dan tokoh Dayak tersebut menguasai ilmu yakin atau memiliki keyakinan di dalam dirinya walau program keimanannya salah. Inilah yang dapat menjelaskan mengapa banyak orang non muslim yang dapat melakukan hal-hal yang di luar keumuman, walau keadaan khusus ini hanya berlaku di dunia saja. Keyakinan itu suatu fasilitas yang dititipkan Allah pada diri setiap manusia. Dia seperti komputer yang siap menjalankan program apapun. Kita disuruh Nabi untuk mengaktifkannya, Al Gazali menyarankan untuk mengaktifkannya kita berkumpul dengan orang-orang yang yakin. Dan banyak lagi cara yang bisa kita tempuh untuk mengaktifkannya, yang pasti kita harus bersifat terbuka karena ilmu yakin ini bukan semata milik masyarakat Muslim tapi juga masyarakat lainnya (Nabi: jika kamu menemukan hikmah maka ambillah sebab itu seperti milikmu yang hilang. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *