antara doa, yakin dan perilaku atau tindakan tidak dipisah pisah… tapi satu kesatuan. Ketika saya mohon diselamatkan rumah saya dari pencuri maka doa saya adalah menggembok pintu rumah saya , ketika saya lapar maka doa saya adalah mencari makan…. ketika saya ingin khusyu maka doa saya adalah mengikuti pelatihan sholat khusyu dan mempraktekannya. Pemahaman ini ternyata membawa dampak yang luar biasa, orang tidak akan terkotak kotak dengan terminologi “doa” , “yakin”, “tindakan” ketiganya menjadi satu …

kalau dipisah pisah yang muncul adalah keraguan… tapi kalau menjadi satu maka apa yang kita inginkan akan cepat terjadi. kalau saya ingin sembuh dari sakit maka doa, keyakinan dan tindakan saya wujudkan dalam satu kesatuan yaitu pergi ke dokter dan minum obat.

lebih dulu mana antara doa dengan yakin , lebih dulu mana yakin dengan tindakan… jawabannya : tidak ada yang lebih dulu semua berjalan bersama sama.

Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ اْلإِيْمَانُ بِالتَّمَنىِّ وَلَكِنْ مَا وَرَقَ فِى اْلقَلْبِ وَصَدَّقَةُ اْلعَمَلَ, وَإِنَّ قَوْمًا قَدْ غَرَّتْهُمُ اْلأَمَانِيُّ وَقَعَدُوْا عَنِ اْلعَمَلِ, وَقَلُوْا: نَحْنُ نُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ, وَكَذَبُوْا, لَوْ اَحْسَنُوْا الظَّنَّ َلأُحْسِنُ اْلعَمَلَ.
(روى اصل الحديث الديلمى فى مسند الفردوس)

“Tidaklah iman itu (sempurna) dengan tamanni (mengharap sesuatu yang tidak mungkin terjadi), tetapi iman yang sempurna adalah yang mencakup kuat dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Sesungguhnya suatu kaum telah tertipu oleh lamunan-lamunan, mereka tidak berbuat apapun akan tetapi mengatakan: kami bersangka baik kepada Allah. Mereka sesungguhnya telah berbohong. Jika memang berbaik sangka kepada Allah niscaya mereka akan melakukan amal perbuatan dengan sebaik-baiknya.