tokoh jenaka yang di tuhankan

dikalangan orang jawa banyak tokoh tokoh fiktif yang di riilkan seolah olah tokoh tokoh fiktif tersebut benar benar ada dan masih ada sampai sekarang, bahkan menguasai tempat tempat tertentu. kita ambil contoh misalnya tokoh semar, semar adalah punokawan yang merupakan tokoh fiktif wayang ramayana versi indonesia. tokoh ini sebenarnya “dagelan” tapi di Riilkan menjadi tokoh benar benar ada . yang namanya fiktif kok di riilkan ya tetap tidak riil tetap fiktif. bahkan ada sekolompok orang yang saking kuatnya pikiran dan keyakinan tentang keberadaan semar maka dia merasa ditemui semar dan diberi wejangan dari semar… pada hal kita tahu bahwa semar adalah “rekayasa pikiran manusia” sekedar untuk menghibur masyarakat pada masa itu.

kebaradaan tokoh fiktif tidak sekedar ada namun beberapa kelompok “kejawen” ada yang menuhankan semar sang tokoh jenaka… jelas ini merupakan kenyataan yang lebih jenaka dari pada semar itu sendiri. tokoh jenaka yang dituhankan .. apa tidak sangat jenaka jadinya…

banyak sekali tokoh tokoh fiktif yang dipersonkan secara riil. seperti nyi roro kidul… seorang nyai yang hidup di laut selatan….. (mirip spongebob dan patrick) ini merupakan tokoh fiktif yang dibuat oleh kerajaan mataram pada waktu ituuntuk menakut nakuti rakyatnya agar patuh kepada raja.. dan sekarang masih di “ada ada” kan.

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

8 thoughts on “tokoh jenaka yang di tuhankan

  1. sebenarnya kita mau mengidolakan sesuatu yg maha gaib cuma karena pengetahuan kita tentang yg maha gaib yaitu tuhan yang kabur sehingga apapun menjadi tuhan pahadal sudah jelas tuhan kita tidak sama dengan yang apapun.sangat dekat,.,dekat sekali, tiada tuhan selain allah dan muhammad rasullullah

  2. lho berarti nyi roro kidul itu cuma mitos ya pak…….wah berarti mereka yg ilang di laut selatan itu ya memang ilang…..bukan di jadikan pembantunya Nyai ya pak……

    Budaya biasanya memiliki mitos2 tertentu….

  3. Sangat susah untuk menghilangkan endapan memori hal hal tersebut di otak anak jawa seperti saya, yang sejak kecil sudah dicekoki dengan kepercayaan yang berkembang di lingkungan. bagaimana cara menghapuskannya. sambil beriman tetapi kenapa kita juga “syirik” ya ?mksh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *