Toleransi Beragama Perspektif Makrifat

Pertama kita harus memahami bahwa orang kafir adalah orang yang tertutup. Sebenarnya jika penutup itu terbuka maka dia akan beriman. Sebab tertutupnya itu karena dia sendiri yang menutupnya lalu Allah beri peringatan tetap saja menutup diri akhirnya Allah tutup sekalian sehingga semakin jauh dia dari kebenaran. Nah kita ini umat muslim ini adalah orang yang terbuka. Terbuka terhadap apa? terbuka terhadap ├é┬áhakikat keTuhanan. Kita melihat bahwa Allah adalah sesuatu yang tidak dapat kita persepsikan. Bedakan dengan orang tertutup (baca: kafir) yang menutup diri dengan patung, tuhan yesus, salib atau benda benda yang menghalangi dirinya dengan kebenaran Tuhan yang tidak dapat dilihat dengan apapun kecuali dengan penglihatan Ruh. Perbedaan inilah yang menjadikan toleransi beragama kita menjadikan “kasihan” kepada orang-orang yang tertutup mata ruhaninya terhadap kebenaran Ilahi.

Toleransi perspektif makrifat ini tentunya berbeda dengan toleransi dalam perpekstif dalam kehidupan beragama yang selalu menekankan pada perbedaan. Pada toleransi perspektif makrifat ini kita yang terbuka (iman), kita kasihan kepada mereka yang tertutup, dan tetap menghormati kehendak Allah yang menutup mata hati mereka yang tidak mampu melihat Allah. sikap toleransi ini menjadikan kita dapat bergaul dengan baik dengan mereka. Kita biarkan mereka beribadah versi ketertutupan hati mereka dengan berhala-berhala yang ada dalam pikirannya, sebagai bentuk penghormatan atas kehendak Allah kepada mereka.