tradisi mudik yang merusak hasil puasa ramadhan

Ketika akhir bulan ramadhan banyak postingan baik di blog, fb dan WA berisi tentang sedihnya ditinggal ramadhan, ya banyak kisah sahabat yang mengisahkan demikian tapi fakta di masyarakat saat akhir akhir ramadhan adalah saat eforia disaat bertemu dengan keluarga, makanan di rumah melimpah, dan berbagai kesenangan ada tersedia. Sehingga menimbulkan “bagaimana bisa sedih dengan keadaan ini” ya ini menjadi sesuatu yang kontradiktif.

Tradisi mudiklah yang merusak suasana akhir bulan ramadhan. suasana ini hiruk pikuk dan semua disibukkan dengan kegiatan ini. Banyak orang menyebutkan bahwa mudik adalah kegiatan yang sangat bermanfaat, tapi bagi saya sebaliknya. Mudik sekarang sudah tidak sehat lagi, Disaat banyak orang yang merantau dan semua ingin mudik. Tradisi mudik inilah yang menjadi biang kerok dari rusaknya ibadah akhir bulan ramadhan.

Dan bahkan tradisi mudik ini menjadi pemicu rusaknya ibadah ramamdhan selama sebulan, kenapa bisa karena seharusnya kita mempertahankan hasil dari mensucikan di bulan ramadhan di rusak dengan dengan berbagai makanan yang mengudang hawa nafsu yang berlebihan. Seharusnya posisi kita ketika di bulan syawal sama ketika dibulan ramadhan yaitu keadaan puasa yang mampu meredam nafsu, mampu menahan gejolak dorongan hawa.

idul fitri tidak untuk senang senang, tidak untuk bergembira… idul fitri sama dengan ifthor atau buka puasa yaitu makan secukupnya. Kegembiraan itu bukan dari ajaran islam. seharusnya idul fitri itu banyak banyak mengagungkan Allah SWT, bukan mengagungkan kesenangan kita dengan makan sepuasnya setelah sebulan di larang makan di siang hari.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *