who am I (4) tentang Ruh

Ruh adalah milik Allah dan kalau kita meninggal Ruh akan diminta kembali kepada Allah. Ruh ini semacam fasilitas yang diberikan kepada kita ketika kita hidup. jalanhidup adalah kembali kepada Allah nah Ruh lah alatnya. jiwa kita harus berpulang kepada Allah untuk bisa pulang harus menggunakankendaraan yang dinamakan dengan ruh. maka sejak sekarang ketika masih hdup kita harus selalu pulang ke Allah atau berserah diri kepada Allah. inilah tujuan hidup yang hakiki yaitu pulang kepada allah. Ruh tidak dapat kita kenali namun Ruh dapat kita sadari sebagai kesadaran tertinggi karena kesadaran inilah kita dapat mengembalikan jiwa kita kepada ALlah sehingga jiwa kita mendapatkan ketenangan dan jiwa yang demikianlah yang akan dipanggil Allah untuk masuk syurga. hai jiwa yang tenang kemarilah kembalilah kepada jalan ibadah dan masuklah dalam surga ku… demikianlah Allah memanggil jiwa atau diri kita karena memiliki ketenangan, dan tidak lain ketenangan jiwa dapat kita peroleh dengan berserah diri kepda ALlah.
Ruh tidak perlu dicari dia akan aktif dan akan bergerak jika jiwa kembali atau mengingat allah. maka ketika kita ingat Allah, Ruh akan aktif dan aktifnya ruh ini akan menggetarkan hati dan tubuh kita.. dalam quran disebutkan orang yang berimana jika disebut asma Allah maka akan bergetar hatinya. dan ini benar benar bergetar tidak di getar getarkan.
nah jika kita ingin lebih paham lagi tentang RUh maka kembalikan jiwa kita lurus kepada Allah insya Allah kita akan mendapatkan ketenangan. aminn

0 thoughts on “who am I (4) tentang Ruh

  1. As.wr.wb. tentang ruh ini,bgmn kaitannya dg ungkapan populer “man ‘arofa nafsahu,faqod ‘arofa robbahu”?. Matur nuwun.

    • Ruh seperti yang Pak Setiyo ungkap adalah dari Allah, bagaimana rupa, esensi dan hakikatnya manusia tidak akan pernah mengerti, yang tahu 100% hanya Allah sendiri maka kita tidak boleh berdebat mengenai makna ini.

      Ruh yang berasal dari Allah tadi adalah seperti daya hidup (laksana batery pada mainan, namun ini tidak akan pernah habis seperti batery2 yang ada di dunia ini)

      Dimana letaknya didalam jasad manusia?, tidak terletak dimanapun dan tidak terikat apapun, namun ruh dibungkus oleh Nafsa/Nafs/jiwa/diri sejati.

      mengapa ruh dibungkus pakaian ini?, karena sifat ruh itu sendiri yang suci dari yang maha suci, maka yang berjalan menuju Allah dan diserahi seluruh tanggung jawab untuk menghantar ruh kembali adalah Nafsa/Nafs/Jiwa/diri sejati.

      Silahkan anda perhatikan dalam ayat-ayat di dalam Al Qur’an bahwa yang dimintai pertanggung jawaban nanti di akhirat adalah si nafsa ini dengan jasad kita.

      Nafsa/Nafs/Jiwa/diri sejati sifatnya sangat halus (karena dia adalah pakaian ruh) maka kita mengenalnya (dalam sebutan kita) bahwa Nafsa ini adalah ruh itu sendiri.

      Dalam orang yang mengenal Meraga Sukma, maka dia mampu melihat dirinya sendiri (jasadnya) duduk atau tidur sedang dia pergi meninggalkan dirinya itu(jasad), maka sebenarnya yang melihat itu adalah diri sejati/Nafsa/Nafs/Sukma -nya.

      Ada sebagian menganggap bahwa atsar “man arafa nafsa faqad arafa robba” adalah hanya sampai pada tahapan ini – menguasai ilmu Meraga Sukma/Ngerucut/ apapun itu istilahnya.

      Arti atsar tersebut sebenarnya bukan sampai pada pemahaman ini, tapi jauh lebih dalam dan jauh lebih mulia.

      Man Arafa nafsa yang secara terjemahan adalah barang siapa yang mengenal dirinya/nafs nya sendiri; maka yang dimaksud disini adalah bukan hanya berarti telah mampu mengenal/mengeluarkan si diri/nafsa/nafs/sukma/jiwa ini dalam bentuk ujudnya tapi adalah mengenal sisi batiniah (ruhani) dan sisi jasmaniah (badani).

      kenal siapa dia, apakah dia itu cuma ujud raga ini saja? kenal untuk apa raga nya dicipta disamping nafsa/ruh/jiwa dia dicipta? kenal bagaimana caranya dia menghantar ruh nya untuk sampai kembali pada yang mencipta dirinya? kenal bagaimana memadukan antar sisi jasmani dan ruhani dia sehingga dia akan sampai pada tujuan akhirnya yaitu faqad arafa robba (mengenal Tuhan nya).

      caranya bagaimana? apakah cara ini bertentangan dengan Qur’an dan Sunnah Rosul saw?

      Nah caranya silahkan anda temukan sendiri – tapi petunjuknya dari saya, tetap berpegang teguh pada prinsip Qur’an dan Sunnah Nabi insyaallah anda akan sampai disana dan tidak akan tersesat dalam Bid’ah dan Zindik.

      Semoga Allah swt menuntun langkah kita.

  2. kalau sudah sering kembali ke Allah, kan lebih baik terus tinggal bersama Allah… baqa bi Allah???

    salam kasih sayang..

    • Kita diutuskan oleh Allah sebagai Khalifah iaitu wakil Allah untuk mentadbir alam. Tanggungjawab kita harus ditunaikan selagi Allah mengkehendaki dan tanggungjawab mesti dijalankan dengan jalan yang lurus, tidak dimurkai Allah dan bermanafaat kepada yang lain.

      Cukup masanya, Allah akan ambil kita semula mengikut kehendak Allah SWT. Sebab itulah “berkerjalah seolah-olah hidup seribu tahun dan beribadahlah seolah2 esok akan mati”.

      Kerana itu kita tidak boleh meminta kepada Allah SWT untuk mati.

  3. salam..

    baqa bi Allah… itu bahasa Arabnya, bahasa Indonesianya .. kekal dengan Allah..

    begitulah yang saya tahu..bagaimana dengan pendapat pak Cak pula..

    • Assalamualikum,
      maaf Ibu zaliha saya tahu arti baqa bi allah itu kekal bersama Allah, tapi saya mohon ibu beri penjelasan atau contonya dari opini ibu – sehingga saya bisa memberi opini dari pemahaman saya, terimakasih.

      • maaf mas cak,
        lewat balasannya…ini sudah tentu ketentuanNya juga.

        Pada pendapat saya ada beberapa cara seseorang boleh kekal bersama Allah sepanjang masa atau masa-masa tertentu (masa tertentu ini maksudnya apabila ia lupa maka ia tidak bersama Allah lagi).

        Iaitu dengan makrifat dan keyakinan,

        apabila seseorang itu telah mencapai tahap Haqul yakin, maka ia merasakan Allah itu sentiasa bersamanya, ia mengerti dengan maksud kata-kata: di mana saja kamu ada Allah bersamamu, sesaat pun ia tidak lupa dengan kehadiran Allah, maka inilah yang dikatakan kekal bersama Allah.

        Tahap yang berikutnya ialah apabila ia mencapai Isbatul yakin, iaitu ia melihat kehadiran Allah tanpa ragu-ragu lagi, maka apabila ia sentiasa melihat Allah bersamanya, maka ini pun dikatakan kekal bersama Allah.

        Sedangkan dengan makrifat pula, ia tahu ia tidak ada yang ada hanya Allah, dengan itu hanya Allah yang kekal.

        Padanya kata-kata “kekal bersama Allah” itu hanya lah sebuah frasa yang bermaksud hanya ada Allah, hanya Allah yang kekal.

        Maaf, begitulah pemahaman saya.

  4. trm ksh mas Pur dan juga cak mamad dan manmoncang atas tambahan ilmunya. Smg Allah SWT selalu mengalirkan ilmunya kpd qta semua.

  5. Apa yang saya obsesikan mulai tercerahkan dengan keterangan cak Mamad jadi masih ada “diri sejati” to?? Kirain cuma ruh dan jasad, tpi pak Abu “hanya” fokus pada ruh, jadi seolah-olah setelah mati jadi bener-bener TAMAT RIWAYAT tanpa ada kelanjutannya.karena semua telah kembali masing2.

  6. Saya harap cak Mamad dan yang lainnya tidak keberatan melihat komentar-komentar saya mulai dari tema who am I semenjak awal, supaya kita dapat mengambil pelajaran berharga dari tema super penting ini.

    Kalau begitu ada pertanyaan susulan, jadi sesuai keterangan cak Mamad atau mas Pur, yang paling “pantas” menyebut “aku” ketika kita masih hidup di dunia ini yang mana? Ruh, jati diri atau jasad??
    Kalau menurutku sih jati diri sebab dialah yang “punya tugas” dan kwajiban di Bumi, sementara ruh adalah milik Allah dan jasad adalah “alat” kerja kita.
    Benarkah pemahaman saya ini?? Mohon di koreksi.

    • Pak Tarman – Leres pundikanipun panjenengan – artinya benar semua kata-kata anda. Jati diri ini atau saya lebih senang menyebutnya dengan Nafsa manusia ada menyusuri ruang waktu milik Allah, sebelum manusia (berbentuk jasad wadag ini lahir kedunia) dahulu kita bersaksi Tauhid pada Allah adalah dalam bentuk Nafs ini (dalam Al Qur’an disebut Dzur-benih manusia).

      Lalu Allah memasukan kita kembali secara ghaib (agar berjalan sunnatulloh-Nya kembali kedalam sulbi nabi Adam as. agar menjadi anak keturunannya didunia ini).

      Saat manusia dialam dunia, Nafs ini memang sengaja Allah lupakan dengan kejadian awal dahulu, tentang alam malakut dan isinya, namun Allah tidak sepenuhnya menghapus memori itu. Terkadang, untuk orang yang beriman, suatu saat kita merindukan suasana syahdu seolah kita pingin pulang ke suatu tempat asal yang jauh namun damai sekali rasanya (itulah rindunya nafsa pada kampung akhirat).

      Saat Nafsa ini terlahir didunia (dan disebut annaas-manusia), nafsa ini terikat oleh jasad manusia, dan dalam jasad tersebut Allah telah membekali kita dengan mata, pendengaran, dan Hati.

      Kenapa Hati?, karena saat Dzur manusia bersaksi pertama kali, persaksian itu sejatinya menjadi benih keimanan seseorang (fitrah ketuhanan).

      Dengan memberi modal inilah Allah kemudian menguji semua Nafsa yang terlahir kedunia, untuk memisahkan yang benar persaksiannya dan yang kafir atau munafik.

      Sejatinya meskipun sejatinya kita adalah Nafsa ini, namun rahasia Allah menempatkan kita didunia dengan menjadikan manusia sebagai khalifah adalah agar secara optimal manusia ini mampu memanfaatkan jasadnya untuk mengemban tugas Allah swt.

      Jasad ini yang dapat merasakan rasa asin, manis, pahit, gurih, enak, capek, dan rasa lainnya sedang Nafsa kita adalah mnerjemahkan rasa tadi dengan bahasa roso, roso itu adalah sedih, senang, lega, sempit dsb.

      Tanpa jasad kita tidak mungkin mensempurnakan rasa syukur dan pengabdian kita pada Allah swt.

      sekian wacana saya.

  7. untuk ibu zaliha,

    maaf bu dalam bahasa jawa cak itu adalah sama dengan kata “mas” jadi cak mamad = mas mamad.

    nama pangilan saya mamad bu.

    ah, terimakasih atas penjelasan ibu tentang Baqa’ bi Allah (kekal bersama dengan Allah).

    tak apalah meski sudah lewat waktu menjelaskannya, sudah diatur oleh Allah itu.

    Ibu, saya setuju dengan pendapat ibu, namun saya menambah sedikit dari sudut pandang saya,

    Manusia ini saat ia sudah mengenal sejatinya diri dia sendiri, maka ia bukan lagi seonggok daging (jasad) yang membungkus diri ia sendiri.

    Saat itu telah sampai maka dzikir tak lagi dengan suara atau dengan gerak, dzikirnya adalah melihat siapa yang ia ingat.

    Ia melihat wajah Allah dimanapun ia berada, dan ia tak lagi melihat kematian itu mati, karena sejatinya ia menyusuri ruang waktu milik Allah bersama Allah.

    ia adalah cahaya Allah dibumi ini, dan ia tetap akan menjadi cahaya milik Allah saat di akhirat nanti.

    dan ia sepenuhnya milik Allah, terserah Allah mau menaruh ia dimana.

  8. Kalu masih bersama jasad namanya Ruh. Kalau sudah tidak bersama jasad lagi (kiamat) ya kembali ke Maha Yang Punya Ruh. Ruh itu sebenarnya ya Yang Maha Hidup. Tinggal lagi jiwanya kemana- mana. Ngak tau pulang tujuannya kemana. Nongkrong di batang pohon bambu. Ya soalnya dia tidak kenal Tuhannya sih. Tinggal tunggu belas kasih Tuhan sama dia. Alam barzah, alam penyekat, gelap, eee maaf ya. Ngelantur….

  9. untuk cak mamad

    berbanyak maaf mas atas kesilapan nama itu, maklumlah saya ini di malaysia, tidak biasa dengan istilah nama seumpama itu.

    juga terima kasih banyak atas pencerahan yang mas berikan, semoga mas tidak keberatan memberikan banyak lagi komen yang bermanfaat di blog ini.

    Salam buat mas mamad dan pak setiyo..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *