Zikir Napas : hari ini dimuat di harian Republika

Artikel Opini Republika:

Zikir di Jalan Macet

Oleh: Setiyo Purwanto, S.Psi., M.Si.

republika 16 mei 2013

 

Problematika kemacetan yang pelik di Ibu Kota dan kota-kota besar di Tanah Air rupanya berdampak dan menyentuh hingga ranah spiritual. Tidak sekadar menyulut emosi negatif dalam bentuk stres, amarah, egoisme, atau amuk, kemacetan lalu lintas berpotensi mengarah pada degradasi spiritualitas bagi kalangan muslim. Setidaknya, inilah isu yang diturunkan dalam pemberitaan oleh Harian Republika, edisi Kamis, 2 April 2013. Mental dan spiritual masyarakat muslim terancam terkikis oleh kemacetan akut yang menghiasi hampir seluruh hari-hari warga Ibu Kota.

Tiga tokoh sumber berita dalam pemberitaan itu, Asrorun Niam, Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI, KH. Satori Ismail, Ketua Ikatan Dai Indonesia/IKADI, dan Yayat Supriyatna, Pakar Tata Kota, bersepakat bahwa umat Islam terancam dari fenomena amburadulnya manajemen lalu lintas ini. Ancaman kelumpuhan arus transportasi yang menghambat laju produktivitas ekonomi sudah pasti mengkhawatirkan. Namun tergerusnya spiritualitas kaum muslim, tentu jauh lebih menggiriskan.

Ketiga nara sumber dalam berita itu pun bersepakat bahwa harus ada strategi dan solusi. Shalat yang diqada dan dijamak adalah salah satunya dari sisi fiqih. Solusi yang lebih bersifat praktis-agamis, yakni untuk bergegas menuju masjid di waktu shalat juga dinilai mampu mengurangi pertemuan kendaraan yang memicu kemacetan.

Dalam tulisan ini, sambil tetap mengapresiasi upaya pemerintahan provinsi DKI dalam mengurai macet yang sedang dilaksanakan, dan dalam waktu yang sama merasa prihatin melihat dampak negatif dari kemacetan yang telah menggerus spiritualitas kaum muslim, saya hendak menambahkan solusi baru dari pendekatan psikologis dan spiritual yang diharapkan efektif dalam menjawab ketergerusan nilai-nilai spiritual pada umat ini.

Dalam tulisan ini, saya hendak menyodorkan suatu solusi berupa metode praktis yang diharapkan bisa membalik realita. Dari solusi ini diharapkan mampu mengubah situasi macet  menjadi momen yang justru konstruktif untuk membangun spiritualitas seorang muslim. Karena di balik fenomena ini, sejatinya ada peluang-peluang yang untuk dibangun ke arah ini (baca: kebangkitan spiritual, sebagai lawan ketergerusan spiritual). Dengan metode ini, kemacetan di jalan raya tak sekadar membuang toksin-toksin jiwa, namun juga menjadi arena meningkatkan kualitas spiritualitas.


Bahagia di Jalan

            Adalah fakta bahwa macet di Ibu Kota sudah menyandera kehidupan sosial dan spiritual. Ini boleh jadi tercetus karena frekuensi dan periode kejadiannya yang teramat massif. Kemacetan hampir terjadi dalam kisaran antara 2 hingga 6 jam per hari dan terjadi setiap hari. Ini tentu sebuah stresor yang kuat bagi semua pemakai jalan. Namun, dengan solusi praktis ini, kita bisa membalik realita.

Apakah yang terjadi pada pengendara yang sedang terjebak dalam macet? Dalam jebakan kemacetan, para pengendara atau pemakai jalan secara fisik hanya berdiam di belakang kemudi mobil. Postur tubuh duduk di atas jok. Kedua tangan memegangi setir. Kedua mata dengan kewaspadaan tinggi mengawasi kondisi jalanan dan kendaraan lainnya di sekelilingnya. Sementara, isi kepala dan hati tak bisa terdeteksi dengan mudah. Namun tampaknya dari sisi luaran fisik dan ekspresi verbal, dengan mudah terdeteksi isi kepala dan hati para pengendara yang sedang terjebak macet ini.

Bila ada rasa marah disertai dengan umpatan-umpatan, maka itulah respon dan reaksi pikiran dan hati terkait tekanan kemacetan. Pikiran dan hati para pengemudi berada dalam emosi yang negatif. Amarah, geram, stres, sikap mau menang sendiri, antipatis, atau bahkan mengamuk adalah tanda psikofisiologis yang menunjukkan para pengguna jalan berada dalam keadaan emosi negatif yang sangat dalam. Emosi sejenis ini sangat jauh dari ketenangan, apalagi kebahagiaan.

Memang berada atas jalan beraspal di tengan kemacetan yang akut, respon ini barangkali bisa dimaklumi. Karena boleh jadi inilah yang lazim terjadi pada nyaris semua pengendara. Namun tentu saja ada respon lain yang juga bisa ditampilkan dan wujudkan. Manusia memiliki perangkat yang sama, baik untuk ‘menjadi marah’ (being angry) ataupun ‘menjadi bahagia’ (being happy), yakni pikiran dan hati. Hati dan pikiran bisa dibuat negatif, bisa pula dibuat positif.

Untuk itu, sebenarnya ada pilihan lain yang jarang diambil oleh para pengendara, yakni praktik berdzikir, terkhusus dzikir nafas. Memilih ber-dzikir nafas di atas kendaraan dengan berbekal hati, jiwa, dan pikiran akan membangun kebahagiaan. Bisakah kebahagiaan dibangun di tengah kemacetan? Harus saya katakan bisa. Karena setiap pemakai jalan atau pengendara mobil mempunyai jiwa, pikiran, dan hati. Hati bisa tenang dan bahagia dalam situasi apapun, terkhusus dengan metode dzikir nafas yang memang didesain secara khusus.

Secara umum, ritual dzikir adalah tipe aktivitas atau format ibadah yang tidak dibatasi oleh persyaratan-persyaratan rumit. Mengingat atau menyadari Allah sebagai wujud praktis dzikir bisa dilakukan kapan dan dimanapun, dan dalam keadaan apapun. Dan, dzikir nafas sebagai solusi dan stretegi adalah jenis dzikir yang paling mudah, praktis, dan ringan yang dilakukan dengan melafaz ‘Huu Allah’.
Dasar Dzikir Nafas

Kaum muslim banyak menerima anjuran tentang dzikir dalam dogma ajaran Islam. Salah satu anjuran itu ada pada ungkapan ‘dzikran katsir’, yang bermakna ‘perbanyaklah dzikir’. Pesan dari ajaran ini mengandung ajakan kepada kaum muslimi untuk dan agar senantiasa sadar terhadap Allah di setiap waktu, di setiap keadaan, dan di setiap tindakan. Dzikir pun bisa dilakukan dalam semua aktivitas manusia, dari sambil nonton televisi, menyetir mobil, membaca buku, makan, minum, bahkan tidur sekalipun.

Dzikir sejatinya pun bukanlah sekadar mengingat Allah. Karena, pikiran kita tidak akan mampu mengingat Allah. Dzikir adalah menyadari Allah, yaitu Allah yang dekat, Allah yang Maha Meliputi Segala Sesuatu (Al-Muhiith). Dzikir yang benar adalah dzikir dengan kesadaran, bukan dzikir dengan pikiran.

Kesadaran ke Allah bisa dilakukan dan terus-menerus dilatih dan ditempa dimanapun, kapanpun, dan dalam situasi apapun. Karena itu pula, dzikir adalah suatu aktivitas dawam (tidak putus). Dzikir yang dawam mempertebal keimanan. Dzikir sejenis ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan hembusan dan tarikan nafas. Karena itu, istilah untuk dzikir ini adalah dzikir nafas. Sebagai sebuah metode, tipe dzikir nafas sudah banyak terbukti efektif dalam membangun kesadaran, ketenangan, dan kebahagiaan.

Metode dzikir nafas dilakukan dengan mengikuti irama keluar-masuknya nafas melalui rongga hidung sampai ke paru-paru, dan kemudian dihembuskan melalui rongga hidung lagi. Cara mempraktikkannya juga sangat mudah, yakni ketika menghirup udara, hati ber-dzikir ’Huu’ (yang artinya Dia, Allah), dan ketika mengeluarkan nafas, hati ber-dzikir ‘Allah’.

Praktik ini sangat tepat dan positif untuk dipraktikkan bagi para pengendara atau pengguna jalan yang terjebak dalam kemacetan. Semua kondisi yang terjadi pada para pengendara ketika terjebak kemacetan sangat kondusif dalam mempraktikkan dzikir nafas. Tubuh yang terduduk di belakang kemudi dalam waktu cukup lama sangat tepat untuk dimanfaatkan dengan praktik dzikir nafas dalam relaksasi yang mendekati sempurna. Karena kepraktisan ini, amaliah dzikir nafas adalah jenis amal yang paling mudah dan paling ringan dan sekaligus efektif dalam menanggulangi atau mencegah ketergerusan spiritual.

Efek dari praktik dzikir nafas memberi sensasi ketenangan, kebahagiaan, dan kepuasan spiritual. Bila para pengendara mempraktikkannya, semua emosi akan beralih positif. Derajat spiritualitas akan meningkat tajam. Sebagaimana dalam makna asalnya, jenis ibadah dzikir selalu berorientasi pada Allah, sumber dari segala sumber Kebahagiaan dan Keberadaan.

Umat Islam terutama yang hidup di kota besar perlu menjadikan ini sebagai solusi yang praktis dan mudah. Meningkatkan spiritualitas bisa dijalani sambil duduk di tengah kemacetan Ibu Kota, karena seperti pesan yang termaktub dalam Surah Ali Imran: 191, orang-orang yang menyadari Allah bisa dilakukan dalam semua kondisi dan postur tubuh: sambil duduk, berdiri, atau berbaring. Ber-dzikir nafas di tengah keramaian kemecatan lalu lintas adalah habit spiritual baru (new spiritual habit) yang layak untuk dipraktikkan oleh semua masyarakat urban muslim di manapun berada.

[sp]

 

* Pengajar  Psikologi Islam, di Fakultas Psikologi,
Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Solo,
Penulis Buku ‘Dzikir Nafas’

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One thought on “Zikir Napas : hari ini dimuat di harian Republika

  1. Assalamualaikum wbt,
    Alhamdulillah,sangat setuju dengan semua saranan di atas agar mengamalkan dzikir nafas kapanpun di mana berada..pada penduduk bandar yang seringkali terlibat dalam kesesakan lalulintas sangat praktis mengamalkan dzikir nafas sebagai jalan menghapuskan stress sewaktu di jalanan …ayuh!praktikkan….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *