cara mendapatkan buku Mindfulness Dzikir Nafas

*Pembelian Buku Mindfulness Dzikir nafas*

Assalamualiakum wr wb

Bp/Ibu, Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam kita sampaikan kepada Junjungan Nabi SAW.
Berikut kami cantumkan beberapa hal yang terkait dengan Buku Mindfulness Dzikir Nafas :

1. Judul dan penulis : Minduflness Dzikir Nafas ditulis oleh Setiyo Purwanto
2. Tebal halaman : 102 halaman
3. Jenis kertas : paperbook (kertas warna kuning)
4. Harga buku : Rp.112.000 (seratus dua belas ribu rupiah)
5. Harga buku untuk Pulau Jawa : 135 ribu (sudah termasuk ongkos kirim)
6. Harga buku untuk luar Pulau Jawa : 160 ribu (sudah termasuk ongkos kirim)

Bagi Bapak dan Ibu yang akan melakukan pembelian buku silahkan untuk mentransfer ke

*rekening BNI 0242384467 a.n Setiyo Purwanto*

setelah transfer silahkan untuk mengisi form berikut https://forms.gle/VokdAprjV5joQxyx9 untuk memudahkan proses pengiriman.
Demikian Bapak dan Ibu, terima kasih sudah bersabar menunggu pengiriman buku dari kami.

Jika berkenan silahkan gabung di group Mindfulness dzikir nafas dengan link berikut https://chat.whatsapp.com/GqhEDY4JY1O3YHu0RCHQ22

Wassalamualaikum wr wb

Ketika pandangan kita dibuat berbeda dengan lainnya

Pernahkah kita dibuat berbeda oleh Allah? saya yakin kita semua pasti pernah. Yang saya maksud disini adalah dibuat berbeda dalam hal cara pandang dan cara berpikir dalam hal agama. Misalnya baca al quran tidak paham tidak apa apa, kemudian kita diberi pemahaman oleh Allah dengan cara pandang yang berbeda bahwa membaca itu disertai kefahaman, kalau baca tidak faham itu bukan membaca, kalau membaca ya harus faham. Membaca itu mengandung arti faham, bagi orang orang yang mau berpikir. Nah … ini kan berbeda dengan orang kebanyakan. Kalau orang kebanyakan berpandang baca quran tanpa berpahala kemudian kita di beritahu sama Allah, kalau baca quran tidak faham ya tidak dapat pahala. Pandangan yang berbeda ini kalau disampaikan orang umum ya tidak akan menjadi masalah, tapi kalau yang menyampaikan ustad, apalagi kyai apalagi mursyid atau syeh pasti akan menjadi masalah yang besar. Karena mayoritas umat islam baca quran dengan tidak disertai kefahaman. Kalau ini sampai dinyatakan oleh ustad atau kyai maka dikhawatirkan akan banyak orang yang berhenti baca al quran. tapi kalau yang menyampaikan orang umum artinya yang bukan kyai atau ustad maka tidak akan menimbulkan gejolak apa apa, kalau pun ada paling mereka yang tersadarkan bahwa baca al quran harus disertai kefahaman mereka akan benar benar mencari apa sih perintah Allah di ayat yang saya baca. Dengan faham ini mereka yang sebagian kecil umat islam ini akan benar benar memahami dan mencari perintah Alalh di ayat tersebut dan akan berusaha menjalankan perintah tersebut.  ini hanya sebagian contoh saja , banyak sekali hal hal yang Allah berikan dan itu berbeda dengan kebanyakan orang .

Ustad dan kyai mungkin juga mendapatkan ilham dari Allah tentang satu hal tapi beliau tidak sampaikan karena takut jika terjadi masalah umat, makanya kadang Allah tidak memilih beliau untuk menyampaikan hal yang seharusnya , Allah lebih memilih orang orang yang bukan ustad dan kyai untuk menjadi penyampai terhadap hal hal yang berbeda dari pemahaman orang banyak. contoh lagi ada satu ayat yang menyebutkan bahwa jangan membaca al quran dengan cepat (ayat berapa perintah ini saya lupa… )  ya ayat ini sangat tidak populer karena kebanyakan orang membaca al quran dengan sangat cepat karena mengejar juz atau mengejar khatam atau mengejar pahala disetiap hurufnya. ayat ini jelas melarang kita membaca al quran dengan cepat, tapi kenapa jarang di munculkan ? sebab ustad dan kyai takut jika ayat ini populer maka akan banyak orang yang berhenti membaca al quran , akan berhenti berlomba lomba membaca dengan mengejar juz dan khatam, dan akan banyak orang islam yang dengan keahlian baca cepat tidak di pakai lagi di acara acara keagamaan,  khataman dan lain sebagainya.

sebenarnya masih buanyak lagi hal hal yang Allah buat kita berbeda dengan orang lain. Dan saat ini Allah sedang memilih dan memilah mana mana umat-Nya yang mau menjadi khalifah menyampaikan hal yang benar meski berbeda dengan kebanyakan orang

benarkah dzikir nafas mendatangkan mala petaka ?

Assalamualaikum wr wb Bapak dan Ibu,
Bapak dan Ibu, saya boleh bertanya ya ? Bapak dan Ibu, apa juga merasakan kalau setelah menjalankan dzikir nafas itu sepertinya Allah ngasih cobaan yang nggak ada habisnya ? he he kalau iya berarti sama seperti saya dulu (sampai sekarangpun tetap masih he he ) , dan apa yang Bapak dan Ibu alami itu banyak di alami juga oleh banyak jamaah Dzikir nafas, hal ini saya ketahui dari banyaknya keluhan kesaya . Bapak dan Ibu , kenapa itu bisa terjadi ya ? begini , menurut saya ni, ketika kita sudah mulai menyadari Allah itu artinya kita sudah dekat dengan Allah. dan kalau kita dekat dengan Allah , Allah akan sayang dengan kita, nah Allah pasti akan memberikan pelajaran pelajarannya secara langsung lewat kehidupan ini. jadi ini adalah pelajaran dari Allah , yang mungkin kitanya ini masih mempersepsikan ujian dan cobaan. Pelajaran dan Ujian beda lho Bapak dan Ibu, coba rasakan….. pelajaran dari Allah …….. cobaaan dari Allah ……… nah beda kan kalau dirasakan, lebih motivated yang pelajaran dari Allah kan .
Bapak dan Ibu seharusnya paham dengan karakter Allah ini, bahwa Allah kalau sudah sayang dengan kita maka Beliau ini totalitas sayang kepada kita, pelajaran itu akan diberikan terus menerus sampai kita paham benar . Misalnya kalau Bapak dan Ibu belum bisa menerima takdirNya , maka Allah akan berikan pelajaran sampai kita benar benar menerima takdir Allah tersebut

baik Bapak dan Ibu singkatnya begini, kalau kita masih dapat pelajaran dari Allah maka segera lakukan T1, apa itu T1 ? yaitu menerima takdir Allah. Setelah Bapak dan Ibu mengamalkan DN tapi belum bisa menerima takdir Allah maka selama itu pula Allah akan memberikan pelajaran sampai kita pada titik menerima.

baik Bapak dan Ibu ya , terus semangat ber dzikir nafas jangan takut dengan pelajaran dari Allah, dan apapun pelajaran dari Allah segera jalankan T1 ……

waalaikum salam wr wb
P. Pur