sunah memejamkan mata ketika sholat

pernyataan tersebut saya ambil dari buku “SHALAT BERSAMA NABI SAW” karangan Hasan As Segaf (hal 85) demikian saya tulis seperti di bawah ini:

memjamkan mata dalam sholat itu mustahab (sunah) karena itu dapat menenangkan  hati, membantu melahirkan kekhusyuan dan membantu merenungi makna yang di baca dalam sholat, baik ayat ayat alquran maupun bacaan zikir lainnya. apa saj ayang dapat melahirkan kekhusyuan shalat atau ketaatan lainya adalah mustahab. hal ini disepakati para ulama ahli penelitian (tahqiq) diantaranya adalah imam nawawi rahimahullah taala

Imam Nawawi mengatakan : adapaun memejamkan mata di dalam sholat , maka menurut pendapat yang terbaik adalah dibolehkan dan tidak makruh jika tidak ada bahayanya. karena boleh jadi memejamkan mata itu justru menolong untuk melahirkan kekehusyuan, mengkonsentrasikan hati, disamping mencegah pandangan liardan menjaga dari kekacauan pikiran.

Ibn Mundzir dalam kitab al awsath nya mengatakan : menurut pengalaman ahli ilmu (ulama) dalam menjaga shalatnya khususnya menjaga matanya , jika shalat seseorang tidak dapat khusyu hendaklah ia memejamkan matanya

Al-Hasan juga mengatakan hendaknya seseorang meletakkan pandangannya di tempat sujud dan jika tidak dapat juga hendaknya dia memejamkan matanya. ibnu sirin pun mengatakan jika seseorang melakukan salat tidak dapat menahan diri dari menoleh kesan kemari maka hendaknya memejamkan matanya.

ciri sujud yang tumakninah

ketika sujud rasakan berat badan ada di leher, kepala, lutut dan tangan. karena jika tidak relaks berat badan akan berada di atas yaitu di pinggul punggung dan bahu. nah coba kendorkan dengan pelan pelan, luruh hingga terasa kepala seperti tertekan, termasuk juga leher, kaki dan telapak tangan.

maqom musyahadah

maqom ini ternyata menempati maqom tertinggi dalam hirarki belajar tasawuf. musyahadah berarti maqom menyaksikan af’al Allah. maqom dimana kita tidak banyak berkomentar lagi tentang apa yang diperbuat oleh allah. lelakunya adalah diam seperti penonton bola yang diam dan tidak banyak komentar. kadang para sufi untuk mencapai maqom ini dengan melakukan uzlah atau menyendiri, menyendiri untuk apa ya untuk diam sambil menyadari akan perbuatan allah dalam setiap gerak alam. kemudian menemukan diri sebagai diri yang menyaksikan. kesadaran ini lah kesadaran tertinggi yang banyak di nanti nanti oleh kalangan sufi. suatu kesadaran dengan keyakinan total.

tidak ada pendekatan lagi karena memang maqom ini diatas nya maqom muroqobah. kesaksian pada tahap ini adalah  kesaksian pada takdir allah dimana takdir tersebut tidak ada yang baik dan tidak ada yang buruk semua takdir adalah takdir itu sendiri. tidak ada penafsiran atas takdir itu.  karena penafsiran merupakan komentar terhadap perbuatan atau af al allah.

proses ini yang penting adalah kesadaran yang terus menerus dan dapat dilatih dengan memiliki tempat khusus yang dinamakan mihrab. tempat ini lah tempat kita beruzlah tempat untuk belajar menyadari hakikat diri dan hakikat Tuhan.  dan namanya maqom bukanlah untuk diteorikan terlebih di bahas panjang lebar cukup dimengerti secara singkat kemudian di jalankan

khalifatullah

sebagai khalifatullah berarti kita menjadi wakilnya allah untuk menggerakkan seluruh alam semesta, semakin besar perwakilan yang kita lakukan maka semakin besar pula peranan kita.

sedekah merupakan bentuk dari peranan kita untuk mengemban amanat khalifah.. maka sebaiknya sedekah harus memiliki daya dorong yang kuat agar roda kehidupan ini terus bergerak. sedekah yang asal sedekah akan kurang memberikan daya dorong, sedekah yang paling bermanfaat adalah jika dapat menggerakkan hidup orang banyak. sebagai contoh orang yang dagang tidak laku laku maka kita datangi kemudian kita beli dagangannya dengan demikian kita ikut menggerakkan roda perekkonomian pedagang tersebut meski kecil, jika kita ihlas akan memberikan suatu motivasi tersendiri bagi pedagang tersebut untuk berjualan terus.  ini salah satu contoh saja.

semakin besar peranan kita dalam mengemban amanat wakil allah ini maka allahpun akan memberikan fasilitas yang cukup untuk kita. fasilitas itu ya dapat berupa materi, keahlian, kepandaian, dan lain lain sesuai dengan apa yang kita perankan dalam panggung kehidupan ini.

khalifatulah adalah tujuan kita dalam hidup ini, coba kita amati aktivitas diri kita dan oranglain bahwa orang dikatakan produktif jika dapat memberikan manfaat kepada orang lain baik sebagai tukang bangunan, tukang ojek, guru, penulis dan lain lain. semua bergerak untuk saling memberikan apa yang mereka miliki sesuai juga dengan apa yang sudah digariskan dalam dirinya. maka sekarang tinggal niat kita. kita ihlas juga harus bekerja untuk kemanfaatan oranglain kita tidak ihlas ya tetep bekerja untuk kemanfaatan orang lain. sama sama bekerja untuk orang lain lebih baik kita kan ihlas karena allah, bahwa kita adalah wakilnya allah, bahwa kita mewakili allah untuk memakmurkan alam semesta ini. kita ikut menjaga kelesatarian tidak malah merusak.

panduan halaqoh sholat khusyu

inti dari halaqoh adalah latihan sholat khusyu dengan materi tumakninah relaksasi, dzikir meditasi dan niat kesadaran. ketiga hal ini sebisa mungkin di sampaikan dan diulang ulang terus menerus baik dalam teori maupun latihannya. porsi yang digunakan dalam halaqoh untuk latihan dan teori adalah kalau latihan 70 % sedangkan teori 30 % atau kurang dari itu.
yang utama adalah bagaimana peserta dapat merasakan dalam setiap pelatihan sholat yang dilakukan. maka seorang trainer harus dapat menemukan metode yang pas bagaimana peserta dapat secara langsung mengalami ketenangan ketika sholat.
latihan latihan yang diberikan jika memungkinkan merupakan kombinasi antara tumakninah dzikir dan niat dalam satu rakaat saja, karena biasanya yang dilakukan di masjid raya fatimah satu rakaat saja dapat memakan waktu minimal satu jam.
fungsi dari seorang fasilitator adalah sebagai pemandu selama menjalankan gerakan dan bacaan sholat. dari mulai berdiri relaks, kemudian berniat, kemudian menyambugkan diri kepada allah kemudian seterusnya hingga salam.
usahakan setiap perubahan bacaan dan gerakan selalu diiringi niat, keadaan tubuh yang relaks dan ingat kepada allah selalu di jaga.
mengenai tot yang akan diadalah di wonogiri tanggal 13 januari 2008 di temapat Bapak subandi saya akan menyampaikan teknik teknik bagaimana menyampaikan melatih tumakninah, dzikir dan niat. akan saya beberkan beberapa tips tips bagaimana seseorang dapat merasakan tenangnya sholat. kemudian juga bagaimana sikap seorang trainer bagaimana bersikap kepada murid, kepada guru, dan yang paling penting adalah bagaiman bersikap kepada allah. insya allah semua itu aakan kami sampaikan dalam acara tot (training og trainer) untuk pembinan halaqoh sholat khusyu. sebenarnya TOT ini juga sangat cocok untuk para ustad yang memiliki jamaah agar dapat menyampaikan bagaimana melatih kekhusyuuan secara cepat dan singkat.
dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami ini harapan kami peserta dan para calon trainer dapat mengulang mengulang suasana tenang ketika sholat.

keihlasan tidak terbendung

prinsip dakwah adalah keihlasan kita karena allah. mengharap ridlo allah adalah kekuatan yang tak terbendungkan. dilarang disini .. mengalir disana, dihalangi di sana mengalir disini. yang paling capek adalah yang menghalangi karena tidak akan mendapatkan apa apa, sia sia apa yang telah di lakukannya. kalau yang dihalangi banyak mendapatkan pelajaran tentang strategi bagaimana haru bertindak.. jadi kita mendapatkan pelajaran kebaikan tapi mereka yang menghalangi sebaliknya mendapatkan pelajaran kejelekan. mereka tidak perlu di lawan bahkan kalau perlu mereka dibuat merasa menang. membuat mereka menang berarti membuat hati mereka senang (untuk sementara) tentunya akan mendapatkan pahala. tidak ada salahnya menyenangkan hati orang lain kan?!!

semua dengan proses

sesuatu tidak terjadi dengan tiba tiba. allah mengabulkan sesuatu dengan proses proses logika. maka pencapaian cita cita harus dimulai dari titik yang paling awal terus penetrasi dan penetrasi mengarah pada tujuan tersebut. dan proses ini bukan rekayasa otak kita, pikiran kita hanya mengarahkan pada satu tujuan yaitu cita cita mengenai proses kita tinggal mengikuti dan mengikuti.

bergeraknya kita dari titik paling awal seperti mengalirnya air yang selalu meleuncur dengan fleksibilitas yang tinggi. fleksibilitas inilah yang kadang kadang membuat kita jadi orang yang aneh di mata orang lain.

khusyu versi eramuslim.com

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Shalat dengan khusyu’ itu tidak bisa kita definisikan secara akal-akalan, apalagi menggunakan perkiraan berdasarkan pengalaman rohani seseorang. Sebab shalat itu ibadah ritual, di mana kita sama sekali tidak punya ruang untuk melakukan improvisasi sendiri.

Maka konsep shalat khusyu’ haruslah turun dari langit, yaitu dari yang memerintahkan shalat itu sendiri. Kita tidak diberi peluang untuk membuat-buat aturan tentang kekhusyu’an ritual shalat.

Maka alangkah baiknya bilakonsep khusyu’ itu sendiri yang perlu kita tetapkan terlebih dahulu. Jangan sampai kita hanya mengarang sendiri. Untunglah kita ini umat nabi Muhammad SAW, sehingga tidak ada masalah untuk mencariguidedalam urusan kekhusyu’an shalat. Guide kitaadalah Rasulullah SAW dalam urusan ini. Kalau mau tahu seperti apa shalat khusyu’, maka lihatlah tata cara shalat beliau.

Khusyu Bukan Kontemplasi

Kalau kita sudah sepakat bahwa orang yang paling berhak untuk menetapkan kekhusyuan dalam shalat adalah Rasululah SAW, maka insya Allah kita sudah mendapatkan separuh dari jawaban masalah khusyu’ ini. Lain halnya kalau ada di antara kita yang masih berpikir bahwa ada sosok lain yang lebih perlu kita ikuti dari sosok Rasulullah SAW.

Maka sekilas kita dapat melihat bagaimana praktek shalat Rasulullah SAW yang disebut dengan khusyu’. Adakah beliau pada saat shalat melakukan beragam ritual kontemplasi sehingga tidak ingat apa-apa? Adakah saat shalat beliau menutup diri dari kejadian di sekitarnya? Adakah saat shalat beliau lupa ingatan dan hanya membangun hubungan dengan Allah saja tanpa mempedulikan orang lain?

Ternyata tidak demikian. Justru Rasululah SAW ketika shalat sangat peduli lingkungan. Bukankah beliau mempercepat shalatnya kalau sedang menjadi imam dan mendengar ada bayi yang menangis dari shaf para wanita? Bukankah beliau memerintahkan kita yang sedang shalat untuk menghalangai orang yang akan lewat di depan kita? Bukankah beliau memerintahkan kita yang sedang shalat untuk membunuh ular?

Kalau shalat khusyu’ dimaknai sebagai memtuskan diri dari semua yang ada selain Allah saja, maka bagaimana bisa Rasulullah SAW mempercepat shalatnya saat bayi menangis? Bagaiman bisa beliau meminta kita menghalangi orang yang mau lewat atau membunuh ular?

Pernah suatu ketika saat beliau sujud, kedua cucunya naik ke atas bahu beliau. Maka beliau pun memperlama sujudnya, seolah memberi kesempatan kepada kedua cucunya itu untuk puas bermain naik ke atas bahunya.

Nah, inilah bentuk shalat khusyu’ yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dan jelas sekali tidak ada kekhususan dalam hal ini. Rasulullah SAW adalah suri tauladan kita. Beliau yang mengatakan, “Shalatlah kamu sebagaimaan kalian melihat aku melakukan shalat.”

Khusyu’ = Konsentrasi

Maka kalau kita timbang-timbang, agaknya yang dimaksud dengan khusyu’ bukan semata-mata tidak ingat apa-apa kecuali Allah, melainkan merupakan sebuah konsentrasi untuk menjalankan shalat dengan baik, sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dan shalatnya Rasulullah SAW adalah shalat yang ‘Peduli Lingkungan’.

Beliaulah yang mengajarkan kepada kita untuk menjawab salam saat shalat dengan isyarat. Dan itulah shalat yang khusyu’. Beliau pula yang mengajarkan bagaimana makmum berkewajiban membenarkan gerakan atau bacaan imam, bahkan shat yang paling belakang, yaitu shaf para wanita, juga diberikan hak untuk membenarkan iman, dengan cara bertepuk.

Kalau shalat khusyu’ dimaknai sebagai tidak ingat apa-apa yang ada di sekelilingnya, bagaimana mungkin makmum membenarkan imam?

Maka yang paling mudah dalam memahami konsep khusyu’ adalah bahwa seseorang melakukan shalat dan dia konsentrasi terhadap apa yang sendang dilakukannya. Kalau dia membaca ayat Al-Quran, maka dia memahami apa yang dibacanya dan benar-benar konsentrasi terhadap bacaan serta maknya yang dikandungnya.

Ketika dia mengucapkan takbir, maka dia meresapi bahwa hanya Allah saja yang Maha Besar, yang selain Allah tidak ada apa-apanya. Ketika dia membaca doa istiftah, maka dia benar-benar meresapi makna yang terkandung di dalamnya.

Kalau dia menjadi makmum atau imam, maka dia tahu bagaimana mengatur komposisi gerakan bersama jamaah yang lain. Dan yang lebih penting, dia ingat hitungan bilangan rakaatnya, tidak lupa atau rancu.

Jadi intinya, shalat yang khusyu’ itu bukan semata-mata kontemplasi tidak ingat apa-apa, tetapi shalat khusyu’ adalah shalat yang memenuhi semua syarat, rukun, kewajiban dan tahu makna dari tiap gerakan dan bacaannya, yang dilakukan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.