Korona mematikan usaha pariwisata dan pendukungnya

Tempat wisata atau pariwisata adalah tempat untuk bersenang senang, konsep bersenang senang ini tentunya berlawanan dengan tempat untuk mencari ketenangan. Namun Wisata sekarang banyak di kembangkan, ada wisata spiritual, ada wisata edukasi dan ada wisata pengembangan potensi seperti out bond. Wisata yang lain cenderung digunakan untuk maksiat, seperti wisata yang berkaitan dengan seksual seperti pantai yang menggunakan pakaian minim, tempat karaoke yang dilakukan pada malam hari dengan pelayan perempuan dan minum makanan menyediakan yang haram haram. Terlebih wisata yang benar benar maksiat seperti perjudian atau wisata seksual.

Matinya bisnis wisata maksiat karena korona merupakan dampak positif, karena kegiatan mereka banyak berkurang atau mati sama sekali, sehingga mengurangi kegiatan dosa yang mereka lakukan.

Apa yang dapat diambil dari pelajaran korona  ini, mungkin ini agak jauh, tapi saya menemukan hal yang demikian. Bahwa setiap usaha itu harus berbasiskan ATP, atau berdasar amanah dari Allah. Bukan menyediakan jasa yang memfasilitasi kegiatan kegiatan yang dilarang Allah. Kegaitan yang dilarang Allah ini misalnya hotel yang memfasilitasi perselingkuhan, atau seks bebas, tempat wisata karaoke yang mamfasilitasi kegaitan seks atau minuman haram. atau yang lainnya. Berdasar ATP itu misalnya membuka usaha yang dapat bermanfaat kepada banyak orang.

Dengan adanya wabah korona ini semoga orang orang yang dulunya bekerja di tempat tempat maksiat bisa beralih profesi membuka usaha yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Kita bersyukur adanya korona ini mematikan usaha usaha maksiat terutama usaha wisata yang banyak mudharatnya. Semoga kita semua di selamatkan Allah dari kemaksiatan karena sebab dari korona ini.