Mendekat ke Allah dengan Banyak Dosa

keengganan seseorang mendekat ke Allah bisa disebabkan karena merasa masih banyak dosa. jadi belum mendekatnya ke ALlah itu bukan disebabkan karena Allah tapi karena perasaan banyak dosa. Perasaan banyak dosa merupakan perspektif subjektif dan ini setiap manusia memiliki persepsi yang berbeda beda. ada yang telah membunuh 99 orang perasaan dosa lebih kecil dari pada yang barusan berzina, nah ini subjektivitas dalam perasaan berdosa. Jadi kembali bahwa mendekat ke Allah sebenarnya tidak tergantung dari banyak dosa atau sedikit dosa, tapi mau atau tidak, enggan apa tidak. Ketika masih enggan ya pasti jauh dari Allah tapi meski banyak dosa tapi tidak enggan untuk mendekat kepada Allah maka Allahpun dekat dengan dia.

Tapi kadang juga berkebalikan, perspektif banyak dosa justru semakin menjadikan dia termotivasi untuk mendekat kepada Allah. jadi ada juga yang semakin banyak dosa semakin semangat mendekat kepada Allah.

Allah tidak membedakan orang yang banyak dosa dan orang yang sedikit dosa. Kalau kita mau mendekat Allah pasti menyambut

wejangan untuk yang sudah dzikir nafas level 4

puncak dari DN adalah sibghoh, keadaan ini harus terimplementasikan di kehidupan sehari hari. Misalnya ketika kita menyelesaikan sebuah tugas pekerjaan, maka dalam penyelesaian ini kita gunakan sibghoh, yaitu ketidakmampuan dan hanya Allah yang mampu, kemudian kita mengikuti daya yang mengalir dan jangan gunakan daya keakuan. Kalau level kita sibghoh masih menggunakan keakuan untuk menyelesaikan tugas biasanya Allah akan membuat buntu dan tugas itu mudah bisa menjadi sulit, ini adalah peringatan dari Allah bahwa harus masuk pada keadaan sibghoh yaitu mengenolkan kemampuan diri kemudian masuk ke kekuatan Allah.

Terjadinya gangguan jiwa orang belajar makrifat

Ketika kita akan belajar aliran makrifat, aliran  tasawuf ada beberapa dari kita yang takut gila, atau takut terkena gangguan jiwa, atau takut jadi malas kerja dan tidak produktif lagi. Ketakutan ini menimbulkan keengganan untuk belajar makrifat, apalagi yang masih mudah dan masih aktif bekerja.  Pengajian pengajian makrifat di majlis majlis ilmu nyaris di hadiri mayoritas orang-orang tua. Banyak yang sudah pensiunan menjelang usia 50 60 baru tertarik belajar makrifat. Ada juga yang melarang belajar makrifat di usia muda katanya bahaya bisa gila atau menganggap bahwa belajar makrifat khusus orang orang tua yang sudah mau mati.

Beragam pendapat negatif tentang belajar makrifat. Baiklah , tulisan ini akan menguraikan orang belajar makrifat kenapa bisa terganggu jiwanya. Ini sangat mungkin sekali. Sebab belajar makrifat ini adalah belajar menata ulang bagian terdalam dari diri jika salah maka akan terjadi ketidak sinkronan dalam diri manusia. Terjadinya eror itu jika dalam belajar makrifat tujuannya tidak ke Allah, ini kalau sampai mendalam dan jauh tersesat maka orang akan menjadi terhalusinasi dengan alam pikiran alam pikiran sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dalam bermakrifat. Misalnya tujuan bermakrifat untuk sakti maka dia akan terhalusinasi dengan ketemu dengan orang bersurban padahal itu halusinai yang di timbulkan oleh syetan masuk ke alam bawah sadarnya.

terjadinya gangguan jiwa ini dalam hal tertentu dia memang orang wajar, tapi ketika dia terbawa alam bawah sadarnya maka dia akan menjadi orang yang terganggu jiwanya, misalnya dengan meracau, bicara sendiri atau dia seperti ada yang mengendalikan atau dia kemasukan yang katanya seorang waliyullah (padahal ya tidak mungkin).

orang yang belajar makrifat yang terlalu mengharapkan sensasi sensasi juga rawan stress , karena kadang dia mengharapkan bahwa setelah belajar makrifat dia akan bisa ini dan itu secara ghoib tapi ini tidak bisa dan tidak bisa, akhirnya pikiranya kecewa stress.

Ada juga yang belajar tapi mendapatkan pelajaran yang salah, misalnya bekerja itu adalah mengejar duniawi padahal duniawi itu sebentar dan sibuk bekerja bisa masuk neraka… pelajaran seperti ini sangat marak di dunia tasawuf, si guru tidak mampu mencari benang merah antara bekerja dan akhirat sehingga dikiranya bekerja itu dunia = neraka, wirid ribuan itu akhirat = surga. Pemisahan ini tentunya menjadi murid akan malas bekerja dan tidak ada daya bertarung di masyarakat. Ironisnya lagi, gurunya memamerka dirinya bahwa dirinya tidak bekerja tapi duit datang sendiri (dari amlop, sumbangan, sedekah, infak dari jamaahnya), ya kalau gurunya dapat amplop dari jamaah  yang bekerja banting tulang, lha kalau muridnya ikutan gurunya apa tidak kacau.  Pelajaran tasawuf seperti ini menyebabkan rusaknya kejiwaan seseorang dan perekonomiannya.

Belajar tasawuf untuk mencapai maqom tajrid, yaitu maqom yang katanya tidak bekerja rejeki datang sendiri…. ini menjadi tujuan orang bertasawuf dan belajar makrifat. “saya tidak perlu lagi bekerja cukup dzikir shalawat saja nanti uang akan datang sendiri”. Pemahaman seperti ini jelas salah dan sesat dan menyebabkan terjadinya gangguan psikis.

Pada intinya belajar tasawuf itu harus sinkron antara perilaku, sikap dan kesadaran. Kalau bekerjanya dia sebagai pedagang, sesuai dengan sikap nya berketuhanan dan keasdarannya akan Allah maka dia akan sehat dan belajar tasawuf atau makrifat akan menjadi kekuatan bagi dirinya.