benarkah dzikir nafas mendatangkan mala petaka ?

Assalamualaikum wr wb Bapak dan Ibu,
Bapak dan Ibu, saya boleh bertanya ya ? Bapak dan Ibu, apa juga merasakan kalau setelah menjalankan dzikir nafas itu sepertinya Allah ngasih cobaan yang nggak ada habisnya ? he he kalau iya berarti sama seperti saya dulu (sampai sekarangpun tetap masih he he ) , dan apa yang Bapak dan Ibu alami itu banyak di alami juga oleh banyak jamaah Dzikir nafas, hal ini saya ketahui dari banyaknya keluhan kesaya . Bapak dan Ibu , kenapa itu bisa terjadi ya ? begini , menurut saya ni, ketika kita sudah mulai menyadari Allah itu artinya kita sudah dekat dengan Allah. dan kalau kita dekat dengan Allah , Allah akan sayang dengan kita, nah Allah pasti akan memberikan pelajaran pelajarannya secara langsung lewat kehidupan ini. jadi ini adalah pelajaran dari Allah , yang mungkin kitanya ini masih mempersepsikan ujian dan cobaan. Pelajaran dan Ujian beda lho Bapak dan Ibu, coba rasakan….. pelajaran dari Allah …….. cobaaan dari Allah ……… nah beda kan kalau dirasakan, lebih motivated yang pelajaran dari Allah kan .
Bapak dan Ibu seharusnya paham dengan karakter Allah ini, bahwa Allah kalau sudah sayang dengan kita maka Beliau ini totalitas sayang kepada kita, pelajaran itu akan diberikan terus menerus sampai kita paham benar . Misalnya kalau Bapak dan Ibu belum bisa menerima takdirNya , maka Allah akan berikan pelajaran sampai kita benar benar menerima takdir Allah tersebut

baik Bapak dan Ibu singkatnya begini, kalau kita masih dapat pelajaran dari Allah maka segera lakukan T1, apa itu T1 ? yaitu menerima takdir Allah. Setelah Bapak dan Ibu mengamalkan DN tapi belum bisa menerima takdir Allah maka selama itu pula Allah akan memberikan pelajaran sampai kita pada titik menerima.

baik Bapak dan Ibu ya , terus semangat ber dzikir nafas jangan takut dengan pelajaran dari Allah, dan apapun pelajaran dari Allah segera jalankan T1 ……

waalaikum salam wr wb
P. Pur

Rasulullah Memiliki sikap Keras

Inilah sifat Rasulullah yang jarang kita ketahui, yaitu sikap keras Beliau. sikap keras Beliau ada pada sikap dalam menjalankan perintah perintah Allah . Digambarkan dalam al Quran bahwa Beliau keras dalam hal ruku dan bersujud. Rukuk dan Sujud adalah simbol ketundukan kepada Allah yang tidak dapat ditawar tawar. Tunduk kepada Allah ini luas. Ketika kita diberi amanah untuk menyelesaikan sebuah tugas maka sikap keras itu adalah menyelesaikan sampai tuntas sampai selesai.

Sikap keras ini tentu tidak sembarang keras. Kerasnya Rasulullah menggunakan keagungan dan kebesaran Allah SWT. jadi yang Beliau gunakan adalah kesadaran akan adanya kebesaran dan keagungan Allah SWT. Terlihat dalam perang Badar, Dimana Beliau sudah tidak mempertimbangkan jumlah musuh yang jauh lebih besar dari pada jumlah kaum islam waktu itu. Yang ada dalam kesadaran Rasulullah dan para sahabat adalah kebesaran Allah untuk menjalankan sikap kerasnya kepada orang kafir.

nah kitapun bisa mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah, ketika tanggung jawab terlalu besar di luar kemampuan kita, maka kita gunakan cara Rasulullah dalam menghadapi musuh  di dalam perang badar. Yang di pandang hanya kekuatan Allah dan kebesaran Allah tidak memandang lagi minimnya kekuatan umat islam. Dari sisi kekuatan kita kalau dipikir lebih besar tanggung jawab atau amanah yang harus kita selesaikan , untuk itu jangan kita pikirkan segera kerjakan saja dengan berada di wilayah keyakinan kepada kebesaran dan pertolongan Allah.

Jadi hanya ada dua yaitu berada di kesadaran kebesaran Allah dan yang kedua adalah percaya bahwa Allah memberikan pertolongan kepada kita.

Terus berlatih mindfulness dzikir nafas di masa pandemi

Ternyata disekitar kita banyak yang kena covid, tapi tidak lapor ke pihak kesehatan, tentunya dengan berbagai alasan. dan ternyata banyak dari yang tidak lapor itu jangka waktu 1 minggu sembuh sendiri. mereka hanya menduga duga wah saya kena covid ini wah saya tertular covid ini. Bari berani cerita ke tetangga sebelahnya kalau seminggu kemarin mengalami gejala seperti covid. 

dari keadaan di sekitar kita yang demikian saya menjadi beralih fokus, kalau sebelumnya saya selalu fokus dengan jumlah harian  orang yang terkena covid sekarang beralih ke jumlah kematian harian. Artinya bahwa saya tidak mengkhawatirkan lagi berapa banyak orang orang disekitar saya yang terkena covid , dan saya harus bisa menerima keadaan banyak orang di sekitar kita yang kena covid. Saya harus bisa hidup berdampingan dengan mereka. Saya harus bisa beradaptasi hadirnya makhluk Allah yang bernama virus covid ini. 

bagi saya, berarti saya harus extra menjaga diri sesuai sunnatullah yang sudah Allah berikan, dan saya menjaga kesehatan psikis dan fisik saya agar imun ini kuat. saya harus rajin berlatih mindfulness dzikir nafas untuk meningkatkan kesehatan psikis dan spiritual saya. 

Mindfulness dzikir nafas bagi saya menjadi cara yang wajar bagaimana hidup berdampingan dengan virus ini. Kalau ini dijalankan dengan benar maka kita akan lebih peka dan lebih kuat dalam menghadapi keadaan pandemi virus corona yang nggak akan pernah usai ini. 

Mau menarik diri dari virus corona atau mau beradaptasi dengan hadirnya virus ini. Jika kita menarik diri, ya kita akan sembunyi kemana ? virus ini sudah ada disekitar kita, dan akan ada terus. Atau kita mau beradaptasi dengan hadirnya virus ini, yaitu dengan mengikuti ketetapan ketetapan yang Allah tetapkan. Masing masing kita harus belajar hidup bersama virus ini, tidak menghindar atau berusaha menumpas virusnya. Negara negara yang sudah mempersiapkan warganya untuk menghadapi virus ini (bukan menghindar) maka negara tersebut akan lebih cepat untuk memulai recovery, negara yang hanya melarikan warganya dan bersembunyi dari covid maka dia akan menjadi negara yang tertinggal dan akan semakin terpuruk. 

 Demikian pula kita, jika kita tidak bersiap untuk berdampingan dengan corona ya kita akan terus akan terpuruk, tapi jika kita memulai sekarang untuk hidup berdampingan dengan virus ini maka kita akan dapat terus begerak dan bermanfaat bagi orang banyak. Kita akan lebih optimal dalam menjalankan amanah amanah Allah SWT.