Tidak ada sikap terbaik untuk anak anakn kita kecuali hanya ridho

Rasulullah mengajarakan kepada orang tua untuk ridho kepada Anak, karena dengan  ridho kepada Anak maka Allah akan ridho kepada  anak kita. Ketika anak menginjak remaja, kemandirian dan kebebasan dia mulai menonjol maka tidak ada pendidikan yang lebih baik untuk anak ,  selain ridho kepada anak. Sebagai orang tua mungkin khawatir mencemaskan ketika anak sudah sering main di luar rumah dan orang tua tidak tahu sedang apa dan bersama siapa dia. Itu wajar, dengan cemas inilah orang tua dapat kekuatan untuk ridho kepada Anak.

ridho ini bukan membiarkan , ridho adalah sikap bertanggung jawab dari orang tua agar anak mendapat ridho Allah SWT. Semakin Allah ridho kepada anak maka anak akan semakin menjadi anak yang baik anak yang sholeh sholehah. dan jika orang tua yang ridho maka orang tua juga mendapatkan ketenangan dari  Allah SWT.

Cara Mendakwahkan Sadar Allah

kalimat sadar Allah itu asing, sehingga lebih tepat menggunakan kalimat lalai, lupa jadi lebih ke negatifnya. Coba kita dakwah begini shalat itu seharusnya dengan sadar Allah, bandingkan dengan , kalau shalat jangan lalai Allah. Kita bisa bandingkan  2 kalimat diatas. ternyata lebih bisa diterima dengan lalai terhadap Allah dari pada sadar Allah.

cita cita seorang anak pedagang rokok di kawasan kampung baru solo

Bapak pedagang rokok, seorang pedagang yang pikirannya sederhana ingin agar anaknya belajar dan belajar, sampai anaknya ketakutan ketika waktu itu mendengarkan cerita saur sepuh. jaman dulu cerita saur sepuh sangat populer dan namanya anak dia ikutan asyik mendengarkan secara berjamaah … tapi buyar ketika Bapaknya datang …. cepat cepat lari mencari buku ataupun yang bisa dilihat seolah dia belajar.

kakek si anak itu seorang petugas tata usaha di STM jogja waktu itu. Mungkin ada unsur ini juga ya karena bapaknya sangat getol dalam pendidikan.

si anak akhirnya secara bawah sadar juga memiliki semangat untuk menjadi seorang profesor, dia ingat sekali ketika dia menang lomba melawak se RW , dan mendapat hadiah interkom waktu itu, kemudian di beli pamannya dan di tukar dengan sebuah kamus besar bahasa inggris. bagi si anak alat interkom tidak bermanfaat apa apa dibanding dengan kamus besar yang di belikan pamannya. dan dia menuliskan namanya di kamus pemberian pamannya… yang di depannya namanya bergelar sangat panjang yang paling depan adalah gelar profesor… waktu itu dia masih smp.

Semenjak di smp si anak terbiasa dengan belajar dan puasa waktu itu, shalat berjamaah di masjid bahkan rumah keduanya adalah masjid. dari smp inilah prestasi belajarnya mulai nampak sampai pada akhir studi smp dia mendapat juaran 2 secara paralel. sebuah prestasi yang bagi dia sendiri sesuatu yang tidak mungkin.

cita cita mulai tertanam sejak di smp dengan keinginannya untuk menjadi seorang santri, tapi memang Allah tidak berkehendak , sampai dia  kuliah berhasil mencicipi menjadi santri di krapyak ya santri santrinan karena memang statusnya mahasiswa UGM tapi tinggalnya di pondok. Sama pondoknya malah di jadikan cantrik yaitu bantu bantu pak kyai.

setelah bekerja cita cita untuk menjadi santri tentunya sudah lewat, ketika masih mahasiswa dia berpikiran untuk bercita cita untuk memiliki pondok pesantren . Dan alhamdulillah Allah mengabulkan dengan didirikannya pesantren sadar Allah di bawah yayasan yang dia dirikan yaitu yayasan solospiritislam.