Beda Kesadaran Jiwa dan Sadar Allah

Jiwa fungsinya untuk sadar, sedangkan sadar Allah adalah jiwa yang sudah sadar akan Allah. Untuk memudahkan kita umpamakan, penglihatan mata, pendengaran telinga, atau berpikirnya otak itu untuk kesadaran jiwa. Sedangkan kalau Sadar Allah bisa kita umpamakan, melihat bunga, mendengar musik, berpikir tentang rumah. Jadi penggunaan kesadaran jiwa atau sadar Allah adalah benar tergantung dari konteknya sama halnya dengan ketika kita menulis pikiran saya berpikir, atau mata saya melihat, tidak salahkan , cuma berpikir apa, atau melihati apa ? nah ketika kita menggunakan fungsi dari pada berpikir atau melihat maka kita menggunakan kaalimat berpikir tentang makanan, melihat makanan, sama hal nya dengan ketika hanya menggunakan kesadaran jiwa maka benar , tapi ketika kita ingin menyadari Allah atau berlajar tentang mengenal Allah maka penggunakan  kalimat kesadaran jiwa tidak tepat, akan lebih tepat jika menggunakan sadar Allah. Kesadaran jiwa dia belum menyadari apapun , tapi kalau sadar Allah berarti kesadaran kita menyadari Allah.

Penggunaan istilah sebaiknya menggunakan kalimat yang memotivasi untuk mengarahkan pada sesuatu. Kalau kita ingin belajar mengenal Allah, karena yang digunakan adalah kesadaran kita maka kalimat sadar Allah lebih memotivasi dan mengarahkan dengan jelas kemana arah kesadaran kita. Sadar Allah dapat mencakup kesadaran jiwa yang sadar akan Allah. Kalau kita menggunakan kesadaran  jiwa saja maka dia akan berhenti pada pengertian “sadar jiwa” belum mengarah kepada menyadari apa, atau sadar apa. Ketika menggunakan kesadaran jiwa , jiwa tidak mengarah kemana mana dia hanya menyatakan bahwa hanya sadar saja. Sehingga di khawatirkan kata kesadaran jiwa ini memudahkan kesadarannya untuk menyadari hal hal yang selain Allah. Sebab kesadaran jiwa bisa menyadari hal lain misalnya menyadari khadam, menyadari kekuatan selain Allah atau hal hal lain.

Jiwa ini harus diarahkan secara lurus kepada Allah dan harus tegas. Sadar Allah sudah sangat tegas yang menegaskan bahwa kesadaran diarahkan untuk sadar Allah. Pengalaman saya, perjalanan menuju kepada Allah dalam setiap menuju kepada Allah akan ada hijab hijab yang membuat kita tidak lurus ke Allah. Hijab itu selalu menyertai jiwa , maka dalam surat al fatihah wajib kita baca setiap shalat selalu ada “tunjukilah kami jalan yang lurus”, ini mengandung berarti bahwa perjalanan kita akan selalu ada hijab. Dengan kalimat sadar Allah saja kita sudah mendapat hijab yang selalu mengiringi apalagi dengan kalimat kesadaran jiwa yang tidak mengarahkan kemana mana.

Kalimat kesadaran jiwa ini banyak dipakai oleh orang orang yang mendalami ilmu ilmu kekuatan jiwa, mereka sengaja mengolah kekuatan jiwa untuk mendapatkan hal hal yang diinginkannya. Misalnya Ngrogo sukmo (astral travelling), kekebalan, hipnotis, dan  lainnya. Dengan kesadaran jiwa mereka, mereka bisa melakukan hal hal lain yang “aneh aneh”. LoA atau law of attraction, kekuatan pikiran, kekuatan kesadaran adalah salah satu bentuk dari penggunakan kekuatan kesadaran jiwa yang di olah untuk tujuan tidak ke Allah.

kesimpulan saya, penggunakan kalimat kesadaran jiwa atau sadar Allah adalah benar, tergantung konteknya apa. Jika untuk mengenal Allah maka tepat dengan menggunakan sadar Allah, jangan hanya kesadaran jiwa saja, tapi kalau untuk olah kesaktian, olah pikiran bawah sadar, maka penggunakan kesadaran jiwa lebih tepat.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.