Belajar dari para tukang bangunan

Sejenak saya keluar rumah untuk melihat bagaimana para tukang itu bekerja, dia menata batu bata satu demi satu, yang dia lakukan tidak muluk muluk hanya menata satu demi satu. hal ini sangat beda ketika saya menyaksikan sang pemborong bangunan yang nampak stress dan marah sana sini, tapi sangat berbeda dengan para pekerja yang dengan santai menanggapi bahkan mereka di tengah pekerjaannya selalu bercanda dengan ungkapan ungkapan akrab di antara mereka.

saya yang saat ini sedang malas malasnya mengerjakan pekerjaan saya sendiri, menyaksikan mereka bekerja , memberikan pelajaran berharga kepada saya. Pelajaran yang besar adalah mereka sangat amanah dengan pekerjaan nya sedangkan saya tidak. Mereka menjalankan amanah dari mulai jam 08.00 sampai siang ini pukul 11.50 mereka terus bekerja dan bekerja menjalankan amanah. Sedangkan saya baru duduk 10-15 menit saja sudah tidak betah ingin segera menyelesaikan dan istirahat.

Saya pelajari lagi mereka bekerja tidak muluk muluk artinya mereka menjalankan amanah dengan santai satu demi satu, menikmati pekerjaannya yang step by step.  kadang pikiran saya membantah, dengan ungkapan, merekakan bekerja tidak menggunakan otak kalau saya kan pakai otak,… tapi diri saya ada yang menolak bahwa saya bekerja dengan menggunakan otak, dia mengatakan bahwa antara saya dan tukang batu adalah sama yaitu sama sama tidak menggunakan otak untuk bekerja. Benar juga, saya bekerja hanya tinggal mengikuti saja apa yang ada di otak bukan otak bekerja tapi hanya mengikuti saja. Berarti sama antara saya dengan tukang, tapi kenapa saya tidak betah … nah inilah yang saya pelajari dari para tukang.

 

One Reply to “Belajar dari para tukang bangunan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.