Belajar tasawuf belajar praktek

Sudah nyaman berdzikir nafas sekian lama, Allah kemudian menyadarkan tentang tugas hidup di dunia yaitu sebagai khalifah. Ya tugas itu adalah amanah, amanah sebagai khalifah. HIngga sampai detik ini saya angkat kaki untuk menyambut amanah yang Allah berikan kepada saya. Rasanya memang nano nano, tapi itulah amanah. Saya bersyukur kepada Allah SWT pelajaran laku tasawuf berupa dzikir nafas yang mudah dan simple ternyata tidak berhenti di dzikir tapi saya harus bergerak menjalankan perintah Allah dalam amanah yang saya emban. Sayapun segera mengajak kawan kawan yang lain untuk segera bergerak menyambut amanah Allah dan menjalnakan perintah dari amanah amanah yang Allah titipkan kepada masing masing kita. Jamaahpun ibarat pasukan yang sudah tenang ayem tentrem, bergejolak kocar kacir seperti orang yang kaget di bangunkan dari tidur secara mendadak. Kenyamanan yang sudah di rasakan dengan duduk dzikir nafas berubah menjadi hiruk pikuk ada yang langsung menjalankan perintah dan amanah, ada yang masih bingung karena baru saja tertidur terus dibangunkan, kebingungan dengan apa amanah saya dan apa perintah Allah, padahal jelas amanah dan perintah ada di depan mata. Ya secara pribadi saya minta maaf, sebab membangunkan tanpa persiapan semua serba ujuk ujuk. Karena saya pun demikian dibangunkan Allah diberi amanah padahal saya belum siap secara mental. Periode ini adalah periode benarĀ  benar belajar tasawuf dengan praktek nyata dalam kehidupan.

Saat ini saatny perang menjalankan perintah Allah. Anda bayangkan bagaimana para sahabat saat itu berperang dengan bekal dan kemampuan seadanya menghadapi musuh yang jauh lebih hebat dengan segala perlengkapan perangnya. Demikian pula kita sekarang ini, saat ini kita maju dengan bekal seadaanya , hanya Allah tumpuan kita hanya Allah tempat kita bersandar dan memohon pertolongan.

Belajar tasawuf bukan belajar bersih hati kemudian duduk manis di surau masjid atau mihrab, belajar tasawuf adalah belajar menerapkannya ke dunia nyata. Kalau kita belajar tasawuf memahami bahwa Allah maha kuat, maka saatnya kita bersandar pada kekuatan Allah untuk berperang menjalakan perintah Allah, kalau kita memahami bahwa Allah tempat kita berlindung maka prakteknya adalah kita berperang dengan tetap berlindung kepada Allah bukan kepada yang lain.

hidup kita adalah kita yang menanggung, Kyai ustad, atau habib atau mursyid tidak dapat menanggung jika kita tidak bertanggung jawab dengan hidup kita. Maka saatnya sekarang kita menerima amanah dan menjalankan perintah Allah. Kalau kita hanya duduk berdzikir kemudian menggantungkan keselamatan kita kepada kyai maka sama saja kita sudah menduakan Allah dengan kyai, dan kita tahu bahwa kyai tidak dapat menyelamatkan kita.

Tasawuf jangan diidentikan dengan surban, jubah, teken, atau pakaian yang compang camping… atau tasawuf diidentikan dengan jadzab seperti orang gila tidak berpakaian bahkan tidak shalat… tasawuf adalah menjalankan semua perintah Allah dalam kehidupan. Menjadi ayah yang sufi, menjadi suami yang sufi, menjadi pegawai yang sufi, menjadi tukang yang sufi, menjadi tentara yang sufi, menjadi pelajar yang sufi… bukan hanya menjadi ahli dzikir duduk di masjid saja. BUkan hanya mengikuti pengajian tasawuf kemana mana. Kemana mana mencari berkah, berkah Kyai, berkah kuburan, berkah membaca al quran tapi tidak menjalankan peran sebagai kepala keluarga, sebagai karyawan, sebagai pimpinan ini bukanlah ajaran tasawuf, ajaran tasawuf yang sebenarnya adalah ajaran kehidupan.

Segera prektekan ilmu tasawuf dalam kehidupan riil kita dan prakatek itu hanya ada di amanah dan menjalankan perintah Allah, tidak yang lain.

Author: Setiyo Purwanto

Trainer dan Peneliti psikologi islam Dosen Fakultas Psikologi UMS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.