Jin ada di alam bawah sadar

Fenomena ghoib entah itu hantu, jin , santet, kuyang, teluh dan lainnya itu letaknya di alam bawah sadar. Orang islam atau bukan islam, fenomena ghoib itu ada. Diakui atau tidak fenomena itu ada, dan itu letaknya di alam bawah sadar.  banyak bukti dari penyataan saya ini. Bukti paling nyata adalah bahwa hantu itu bersifat kedaerahan atau kesukuan.  Hantu pocong itu hanya ada di nusantara malaysia, indonesia, brunei singapura (singapura jarang karena banyak cina nya).  Dan tidak ada di arab saudi dimana orang mati di pocong dari wilayah arab tapi justru di arab tidak ada hantu pocong.

Bawah sadar manusia sebagai media untuk mengenal alam ghoib. Maka kalau ada orang mau dibuka mata batin nya itu berarti dibuka alam bawah sadarnya, artinya alam bawah sadarnya di sugesti ada hantunya ada jin nya, ada khodamnya sehingga menjadi seperti ada.  Ini tentunya sangat beda dengan di buka mata kesadaran yaitu kesadaran akan Allah, artinya kita diajak untuk masuk kesadaran yang di atas, atau diatasnya kesadaran bukan dibawahnya kesadaran atau bawah sadar.

cara ruqyah kalau tidak ke Allah berarti itu ruqyah yang semakin memperparah gangguan bawah sadar. Seperti misalnya ruqyah dengan mengusir jin, atau ruqyah dengan memarahi jin, memindahkan jin, itu malah memperkuat kesadaran si sakit untuk terus terperdaya di alam bawah sadar dan mempekuat bahwa jin menguasainya.  maka akibat ruqyah tidak ke Allah, ini akan mengakibatkan  semakin terganggu dengan apa yagn ada di alam bawah sadarnya, dan semakin yakin akan jin dan berkurang yakinnya kepada Allah. Bahkan lebih parah lagi ruqyah yang tidak ke Allah menimbulkan khurafat dan tahayul serta menjauhkan dari Allah SWT.

Bagiamana agar kita tidak terganggu dengan jin dan syetan atau mahluk ghoib lainnya caranya adalah dengan naik ke kesadaran akan Allah. Di wilayah ini tidak ada pikiran tentang jin dan sebagainya yang ada adalah keasdaran akan Allah. Dan Allah tidak menakutkan, tidak menghantui, tidak seram dan tidak mengganggu.

Saya sarankan bagi anda yang masih punya khadam, jin pembantu, malaikat penjaga dan apapun itu jenis mahluk ghoib segara tinggalkan dan kembalilah kepada Allah SWT. meski saya paham bagaimana anda memperoleh khadam ini dengan berpuasa yang berat, baca wirid shalawat sampai ribuan jumlahnya dan lelaku lainnya. Jika tidak anda tinggalkan sekarang maka itu akan menjadi penghambat anda untuk kembali ke Allah. Banyak sudah kasus orang mau mati saja susah gara gara disiksa oleh Allah sebab semasa hidupnya tidak mau meninggalkan berbagai jin khadam.

 

Dzikrullah antara Terjemahan dan Kajian Psikologi Kognitif

Dzikir diartikan sebagai ingat. Pengertian ingat ini masih mentah, karena tergantung yang diingat apa. Ketika yang diingat adalah benda yang dapat diingat, berarti memang artinya ingat. Misalnya dzikrul maut, ingat mati, jelas ini bisa diingat, karena mati adalah riil atau sesuatu yang dapat dicerna sesuatu yang dapat di persepsi, sesuatu yang dapat dilihat. Kata dzikir jika objek dzikir nya adalah sesuatu yang bisa dipikir maka artinya menjadi ingat.

sekarang lain masalah jika ingat ini yang diingat adalah Allah SWT, atau sering kita sebut dengan dzikrullah. Dzikrullah diartikan sebagai ingat Allah, ini adalah terjemahan yang asal menggabungkan saja antara dzikir dan Allah, dengan tidak memperhatikan apa yang diingat atau apa yang di dzikiri. Dan terjemahan ini yang umum ada di 100% terjemahan di seluruh nusantara baik malaysia, singapura dan indonesia. Terjemahan ini tidak memperhatikan bahwa Allah memiliki sifat laisa kamitslihi syaiun artinya Allah memiliki sifat tidak sama dengan apapun. kata apapun ini berarti tidak dapat dipikir, tidak pernah bisa dipersepsi, apalagi disentuh dilihat atau di raba. Saya kira ini juga sejalan bahwa kita dilarang untuk memikirkan Dzat Allah, termasuk juga ingat Allah, ingat Allah adalah aktivitas berfikir tentang Allah. Jadi penggunaan arti dzikrullah sebagai ingat Allah selain dilarang dalam islam, juga menyalahi dari pada kemampuan pikiran dalam mengingat Allah.

lalu bagaimana jika tidak menggunakan kata ingat Allah dalam dzikrullah. Kembali kepada dasar bahwa dzikir tergantung dari apa yang di dzikiri, kalau yang di dzikiri benda riil ya pakai ingat, tapi ketika yang di dzikiri adalah Dzat yang tidak sama dengan apapun berarti kita harus menggunakan alat lain yang bukan pikiran. Kita gunakan jiwa atau nafs kita dalam dzikrullah yaitu dengan kesadaran yang dimiliki jiwa. Jiwa yang sadar Allah, itulah Dzikrullah.

penggunaan sadar Allah dalam dzikrullah sangat tepat dan sesuai, sebab perintahnya adalah menyadari Allah yang dekat, menyadari Allah yang menguasai alam semesta. Hal ini jika kita menggunakan kalimat ingat Allah tentu akan kesulitan, Allah itu dekat, kalimat ini mengacu pada “sadarilah Allah yang dekat” bukan ingat Allah yang dekat, kenapa …. ya kalau dekat kenapa harus diingat?.

Kajian psikologi kognitif membuka wacana tentang dzikrulah ini ke ranah pemberdayaan umat yang luar biasa, Sebab potensi manusia terletak  bukan pada pikiran atau ingatannya tapi pada kesadarannya. Psikologi kognitif sekarang masuk generasi ke tiga artinya sudah mencapai pembahasan mengenai mindfulness, mindfulness membahas meta kognitif, artinya pembahasan yang sudah masuk kepada wilayah kesadaran atau suatu kemampuan dalam diri manusia yang menyadari pikiran.

Kemampuan ekstra manusia tentang kesadaran diatasnya berpikir, atau kesadaran diatasnya rasa, tentunya hal ini akan membuka ruang ruang pembahasan bagaimana islam ini menyadari tentang Allah, bukan lagi mengingat tentang Allah.

konsep ini saat ini sebagian besar umat islam masih belum bisa menerima, meski kajian psikologi kognitif generasi atau gelombang ketiga sudah membahas dan sudan membuktikan ini melalui kajian mindfulness. Sebab implikasi dari kesadaran inilah sangatlah berbahaya bagi musuh musuh islam, yang telah berhasil membungkam kesadaran umat islam sekian ratus tahun terhitung sejak kejayaan islam pudar. Belum lagi resiko jika pamahaman ini dibenarkan, maka seluruh terjemahan quran di seluruh nusantara baik indonesia malaysia brunei akan di rombak total dengan mengganti ingat Alah menjadi sadar Allah. Tapi dengan izin Allah pemahahaman yang benar ini akan tetap dilanjutkan, agar kesadaran akan Allah bangkit dan islam mencapai kejayaan yang hakiki.

 

kesalahan menterjemahkan dzikrullah sebagai ingat Allah

dengan orang budha kita selangkah ketinggalan dengan ritual yang dilakukan nya. Konsep orang budha dalam menjalankan meditasi menggunakan jiwanya untuk bermeditasi, sedangkan islam masih menggunakan pikiran yaitu ingat akan “yang katanya Allah”. kesadaran dan pikiran jelas sangat jauh berbeda. Kalau pikiran tidak bisa menyadari tapi kalau kesadaran dia bisa diikuti oleh pikiran. level dalam berspiritual lebih tinggi kesadaran dari pada ingat (berpikir). inlah, makanya, ritual budha lebih diminati untuk di teliti dan dipraktekan oleh ilmuwan barat dari pada ritual islam yang masih berkutat di pikiran.

Kesalahan dalam menterjemahkan dzikrullah sebagai ingat Allah (aktivitas pikiran) membawa kemunduran berspiritual sangat jauh, bahkan saya katakan melenceng dari ajaran Rasulullah. Ajaran Rasulullah mengajarkan bahwa Allah tidak dapat dipikir termasuk diingat, tapi yang terjadi hampir 100% penterjamahan di alquran ataupn hadis menyebut bahwa dzikrullah adalah ingat Allah (pikiran). Kalau kita ingat Allah berarti kita berpikir tentang Allah, sedangkan islam sangat melarang umatnya untuk berpikir tentang Allah.

Dari kesalahan ini pastilah, islam ini menjadi agama yang tidak menarik, karena dari sisi spiritualnya tidak mendatangkan manfaat, sangat beda jauh dengan orang budha ketika meditasi, cukup meditasi 5 menit dengan kesadaran, sudah mendapatkan manfaat yang besar dalam keseharianya.

Tidak adanya kesadaran akan Allah dalam beribadah menjadikan islam  ini kering, sehingga khusyu itu barang langka dan mahal, anehnya ini katanya rahasia, hanya para wali saja yang bisa khusyu.

sampai kapan islam menghadapi keterpurukan ini, padahal kita tahu bahwa kemajuan islam itu tergantung dari diri masing masing umat ini. Kalau salah mengartikan ajaran Rasulullah bahwa dzikrullah diartikan sebagai ingat Allah maka islam ini akan menjadi bahan ejekan, dan kita emosional jika mendapatkan ejekan, karena memang hatinya kering, tidak mau instropeksi ke dalam. islam jadi ngamukan maunya perang perang dan perang tapi selalu kalah kalah dan kalah.

coba kalau kita mau merombak dan merevisi arti dzikrullah menjadi sadar Allah maka wajah islam ini akan berubah. Dzikirnya umat islam kepada Allah akan mampu merubah karakter umat islam. yang ngamukan lebih kalem tapi tajem, yang kering menjadi sejuk, yang kalau berpendapat atos mulai melunak, yang mulanya berpandangan sempit menjadi berpendangan luas dan visinoner. ya itu pasti karena kesadaran umat di aktifkan hingga maksimal yaitu sadar Allah, melampoi umat budha dalam bermeditasi yang kesadarannya hanya sebatas kesadaran yang masih bisa dipikirkan. Islam jelas kesadarannya mengarah kepada sesuatu yang tidak terjangkau oleh pikiran dan perasaan.