Mensyukuri Kebodohan

Mungkin tulisan ini janggal, karena biasanya kalau bodoh itu ya di sesali tidak di syukuri. Baik saya akan mencoba sharing tentang konsep saya tentang mensyukuri kebodohan ini. 

Saat ini memang saya dibuat bodoh oleh satu hal (tidak bisa saya ceritakan karena nanti malah dikira menyombongkan diri). Saat ini  saya akan menyelamai kebodohan saya dan saya akan berdamai dengan kebodohan saya. Tahu nggak apa yang saya rasakan ketika saya menyadari kebodohan saya, diluar dugaan saya…. dengan menyadari ini hati saya tambah plong dan lega. 

Setelah saya menyadari perlahan saya menerima kebodohan saya… dan itu ternyata hati yang plong itu menjadi meluas jadi plong nya itu seperti lubang yang melebar dan membuat aliran air menjadi lebih lancar. Saya bisa menikmati rasa tenang dengan kebodohan yang saat ini sedang saya alami.  

Dari menerima ini yang memunculkan rasa tenang saya terus bergerak untuk bersyukur kepada Allah dengan kebodohan yang sedang saya alami. Disini saya mulai merasakan keanehan lagi karena tidak saya duga sebelumnya. Perlahan ide ide keluar seperti percikan percikan api yang loncar ke sana ke sini. Percikan percikan ide itu merupakan jalan yang mengarahkan saya untuk menyelesaikan masalah yang sebelumnya saya hadapi dengan kebodohan, Percikan itu tidak hanya memberikan ide ide tapi juga memberikan kesabaran ketelatenan untuk terus bergerak menyelesaikan masalah yang sedang saya hadapi dengan kebodohan. 

Akhirnya saya bertahan untuk berada di kebrsyukuran saya karena kebodohan saya. 

Jurnal syukur 5 : Sepertinya biasa tapi …

Syukur dan mau bertahan di keadaan emosi yang sulit, sepertinya tidak ada perubahan apa apa pada keadaan yang sedang kita lalui. ya tapi ternyata kita diberikan suatu hal hal yang diluar dugaan. Salah satu perbuatan Allah adalah memberikan kejutan kepada kita, kalau dalam sepak bola Allah sering memberikan kejutan di menit terakhir, injury time. Tapi memang rasanya berada di wilayah ketidakenakan secara emosional ini memang bikin nggak nahan. Siapa yang betah berada di keadaan yang tidak mengenakkan secara emosional, tapi kita justru menyengaja untuk berada disitu.  Namun hal inilah yang mendatangkan pertolongan Allah.

Istiqomah menjadi kata kunci dari hal yang demikian. Istiqomah adalah hal yang sangat istimewa. Di dalam istiqomah ini ada  kesabaran yang tinggi. Serta keyakinan yang tinggi kepada Allah SWT. Keyakinan kepada Allah dengan tetap terus berada di ketidak enakan  emosi. Sehingga modifikasi antara kesabaran dan keyakinan ini Allah ridho dan memberikan pertolonganNya.

sekilas memang seperti tidak ada progress dari sabar dan yakin ini, tapi ketika sudah ada solusi seperti mendahului orang orang yang berusaha keras dan berusaha setengah mati…..

jurnal syukur 4 : bersyukur dalam keadaan bad mood

Bersyukur dalam keadaan badmood, badmood adalah keadaan emosi yang negatif.  Jurnal kali ini saya bersyukur di keadaan badmood. Biasanya saya kalau badmood saya mengalihkan perhatian dengan hal hal yang menyenangkan, kali ini saya akan bereksperimen dengan syukur. Syukur kepada Allah di saat badmood, memberikan suatu suasana lain. karena saya harus bertahan dan berada di keadaan badmood. ya tahu sendiri lah, rasanya badmood itu seperti apa. disaaat kita bisa beralih kepada keadaan emosi yang lebih menyenangkan kita justru masuk dalam keadaan badmood yang sangat tidak mengenakkan.

Baik saya masuk dalam keadaan badmood dan saya berusaha untuk bersyukur kepada Allah. Saya tidak bersyukur karena diberikan badmood, saya justru menerima badmood itu dan kemudian saya bersyukur kepada Allah. Saya bersyukur kepada Allah dengan mangabaikan apapun yang sedang terjadi , karena yang sedang terjadi sudah saya terima, maka selajutnya saya hanya berterima kasih kepada Allah.

Dalam eksperimen ini saya akan membuktikan bahwa barang siapa yang bersyukur akan bertambah nikmatnya. Jadi kalau di tarik awal atau start nya kondisi emosi saya saat awal adalan negatif, berarti jika saya bertahan di keadaan syukur maka harusnya keadaan emosi yang negatif itu tentunya akan berubah menjadi netral dan berubah menjadi positif.

saat saya badmood saya ukur sendiri keadaan bedmood saya dalam skala rentang skor -10 hinggan 10 maka saya bad mood saya berada di skor -3. Kemudian saya mencoba bersyukur pada keadaan badmood (-3) eksperimen pertama saya gagal, karena saya tidak kuat dengan bad mood yang sedang saya alami. Artinya dalam keadaan badmood ini saya tidak mampu mempertahankan kebersyukuran saya. Kemudian saya isitirahat sebentar dan eksperimen saya lanjutkan lagi, yaitu dengan mencoba duduk relaks dalam keadaan badmood. 2 menit pertama suasana tambah nggak enak, kemudian 3 dan 4 menit berikutnya saya mencoba tetap bertahan . nah disini secara cepat pada menit ke 7 suasana langsung berubah, jadi perubahan dari bad mood ke mood yang positif perubahannya sangat drastis atau sangat cepat, bukan berangsur angsur. kalau saya skor secara subjektif maka dari start -3 saat ini menjadi +1.

Dari eksperimen ini ada beberapa penemuan yang perlu kita catat. bahwa perubahan bad mood itu tidak berangsur angsur tapi drastis. Kemudian diskusi yang lain bahwa kemauan bertahan untuk beberapa saat dalam keadaan bad mood kemudian bersyukur pada keadaan itu menjadi penentu keberhasilan dari beribahnya bad mood menjadi good mood.

kesimpulannya : bahwa saya harus bertahan dalam keadaan badmood dan menjalankan syukur kepada Allah.