Siapa yang punya niat berbuat ketika sudah fana

Fana itu ego nol, sedangkan self nya atau diri, atau nafs tetap ada. yang disebut diri yang fitrah adalah diri yang asli tidak ada keakuan atau ego. Pencapaian diri menjadi muthmainah adalah buah dari fana. atau dengan kata lain bahwa ciri fana adalah muncul nya jiwa yang tenang atau muthmainah.

nah sekarang siapa yang berniat ketika berbuat, sudah jelas bahwa yang berniat adalah jiwa. maka kita kuatkan niat dengan sungguh sungguh tetap bisa dan memang harus demikian.

jika kita beranggapan bahwa jiwa harus di fanakan juga maka sampai kapan pun tidak akan fana karena akan selalu sadar , apa yang fana ini juga mau dihilangkan… ya jelas tidak mungkin.

akibat pendapat bahwa jiwa yang difanakan maka muncullah pendapat manunggalilng kawaula gusti, karena kegagalan dalam memfanakan jiwa , ya memang tidak gagal, memang tidak bisa, sehingga mereka memaksakan diri untuk fana dengan beranggapan bahwa ini adalah Allah, saya adalah Allah, Aku adalah Allah. …ya jelas saja keadaan ini menyebabkan mereka tidak mau shalat lagi, sebab kalau shalat mereka bingung sendiri dengan kesesatannya, masak Allah nyembah Allah… nah kapok…. Dan hindari orang orang demikian , karena mereka akan mengejek orang orang yang shalat yang dianggapnya masih belum bisa bersatu dengan tuhan, masih rendah, masih level syariat.  Orang yang demikian memang sudah ditutup oleh Allah , jadi ditutup oleh Allah dengan kesesatannya, dibuat bangga dibuat benar sehingga tidak tahu bagaimana untuk tunduk kepada Allah.

fana

Kenapa dzikir Huu Allah

Alasan utama Huu (huwa) Allah karena ini sangat islami dan sangat qurani. Di Al Quran banyak sekali disebutkan HuwaAllah atau dia Allah, kita baca menjadi Huu Allah.

alasan lain huu Allah ini memberikan efek muthmainah yang sangat mendalam. Huu itu nada tinggi merendah menjadi nada Allah, coba anda rasakan bahwa huu Allah itu meninggi kemudian merendah. efek merendah ini membuat kita akan semakin masuk dalam alam muthmainah dan makna kesadaran yang mendalam yaitu kesadaran akan Allah SWT.

HUU ALLAH

Jurnal Syukur 6 : Syukur Tanpa Pamrih

Dalam jurnal syukur sebelumnya saya banyak menuliskan hikmat dari syukur, ternyata setelah saya cermati, hikmah hikmah syukur itu tidak boleh menjadi tujuan kita dalam bersyukur kepada Allah. Misalnya kita syukur agar ditambah nikmatnya, tujuan agar bertambah nikmat ini ternyata tidak dapat di capai jika niat kita tidak lurus ke Allah, atau jika kita masih menjadikan nikmat itu sebagai bagian dari tujuan bersyukur kita.  Jika kita ada pamrih dalam bersyukur maka kita akan terhijab dan tidak akan mendapatkan hikmah dari syukur tersebut.

Jurnal kali ini saya akan sharingkan tentang bagaimana syukur yang tanpa pamrih ini. Syukur yang tanpa pamrih ini kalau saya gambarkan seperti niat yang mampu menembus langit… (nah padahal langit itu juga tidak kan) , menembus langit berarti tidak ada niat apapun dalam bersyukur kecuali hanya kepada Allah.

langit saja kalau kita amati juga tidak ada, hanya ilusi kita saja, tapi itupun kita tembus , jadi maknanya kita bersyukur dengan mengabaikan apapun mengabaikan alam seisinya bahkan diri kita sendiri pun harus kita abaikan.

Nah itu syukur tanpa pamrih.  Namanya pamrih juga kadang membatasi , yaitu dibatasi dengan pamrih yang kita targetkan. Semakin kita memiliki pamrih dalam bersyukur maka semakin sempit pula kita kesadaran kita dalam bersyukur kepada Allah.