Allah tidak melihat keberhasilan tapi proses menjalaninya

Allah tidak melihat hasil tapi lebih melihat seberapa ketaatan kita menjalankan perintahnya dari waktu ke waktu. Maqom maqom seperti maqom dalam tasawuf bukanlah ukuran disisi Allah tapi ketaatan seperti ketaatan menjalankan ibadah, ketaatan dalam menjalankan amanah, ketaatan dalam menjalankan ketaqwaan dari waktu ke waktu itulah yang akan dilihat oleh Allah SWT.

Maka kita sekarang ini yang perlu kita lakukan adalah saat ini apa yang seharusnya kita lakukan berdasarkan dengan amanah dan tanda yang Allah berikan.

kalau kita ingin mencari orang orang kekasih Allah, bukan pada kesaktian, bukan pada gelar keagamaan,  tapi lebih pada seberapa ketakwaannya kepada Allah sesuai dengan tanda yang Allah berikan.

demikian pula pada kita, maka kita harus banyak fokus pada menjalankan amanah amanah yang Allah berikan berdasarkan tanda tanda yang Allah berikan juga. Semakin kita taat dengan perintah Allah melalui amanah dan tanda maka kita akan semakin dicintai Allah SWT.

Pelajaran Wabah Corona surat al an’am 95-101

Silahkan perhatikan Surat al An’am ayat 95-101. Pada ayat itu kita diperintahkan Allah untuk membaca pandemi saat ini atau wabah corona saat ini, bahwa wabah ini memang dibuat atas kesengajaan Allah. 4 juta manusia dimatikan Allah dalam waktu kurang dari 2 tahun. Pada ayat quran tersebut, kita diperintahkan untuk melihat inilah kekuasaan Allah, perintah selanjutnya adalah janganlah kita berpaling dari Allah, artinya kita jangan keluar dari jalur ke Tuhanan yaitu shiratal mustaqim.

Seperti di Indonesia saat ini dengan kematian lebih dari 1000 perhari dan lonjakan kasus yang mencapai 40.000 kasus perhari, seperti yang diberitakan berita di kontan.co.id hari ini. Hal ini harus kita cermati sebagai tanda bahwa kita harus melihat begitu kekuasaan Allah dalam mematikan manusia sekehendak-Nya. Kita percaya bahwa kehendak Allah ini bukan tanpa tujuan pasti ada maksud Allah kenapa Allah menjadikan wabah ini.

Wabah saat ini jangan menjadikan kita berpaling dari Allah, justru sebaliknya kita harus semakin sadar dan semakin dekat kepada Allah selain kita harus semakin pasrah kepada Allah SWT.

Akibat tidak lurus ke Allah

Hidup sekarang ini, kita sudah ada perjanjian dengan Allah. Perjanjian dengan Allah berupa kesanggupan menjadi saksinya Allah, menjadi abdinya Allah dan menjadi khalifahnya Allah. kalah ketiga perjanjian itu kita langgar maka Allah akan menutup dan akan memberikan label “KAFIR” kepada kita, naudzubillah, jangan sampai gelar kafir ini kita sandang.

Perjanjian yang pertama adalah menjadi saksinya Allah ini berarti bahwa jiwa kita ini harus lurus ke Allah. Jiwa kita harus sadar Allah lurus ke Allah (SALA).

Perjanjian kedua adalah menjadi abdinya Allah yang menjalankan semua ibadah karena Allah, bukan karena surga bukan mencari surga. Kenapa tidak boleh meniatkan ibadah untuk mencari surga, karena semua perintah Allah di quran dan hadis bahwa surga dan pahala itu bukan tujuan dari ibadah tapi itu imbalan dari yang tidak boleh menjadi tujuan dalam beribadah.

Perjanjian yang ketiga adalah menjadi Khalifahnya Allah. Perjanjian ini menuntut kita untuk action. Melakukan hal yang lurus dari mulai niat, saat menjalankan sampai hasil akhirnya pun itu untuk Allah. Misalnya kita diberi amanah anak, maka kita fokus dari mulai niat mendidik anak karena Allah, menjalankan pendidikan anak karena Allah dan hasilnya untuk Allah, bukan untuk kita sebagai orang tua.

Lurusnya kita ke Allah ini akan mendatangkan ridho dan keberkahan dalam hidup ini. Kita akan di label sebagai orang yang beriman bukan sebaliknya yaitu orang yang kafir.

Di dalam surat annisa 155 sangat jelas bahwa orang yang tidak lurus ke Allah karena melanggar perjanian akan mendapat di tutup Allah, dan di label dan kafir. Kalau sudah ditutup hatinya bagaimana akan dapat jalan dan petunjuk dengan benar ? naudzubilah semoga kita tidak digolongkan orang yang demikian.